Mual dan muntah pascabedah
Mual dan muntah pascabedah (Bahasa Inggris:postoperative nausea and vomiting, disingkat PONV) adalah komplikasi umum berupa rasa mual, muntah, atau sensasi ingin muntah yang dialami seseorang dalam kurun waktu 24 jam pertama setelah prosedur pembedahan. Jika tidak ditangani, PONV memengaruhi sekitar 30% pasien yang menjalani anestesi umum setiap tahunnya, dengan angka kejadian yang meningkat hingga 70–80% pada kelompok pasien berisiko tinggi. Kondisi ini dapat sangat mengganggu kenyamanan pasien yang menjalani pembedahan serta berpotensi menghambat proses pemulihan secara signifikan, memicu komplikasi pascabedah, dan menyebabkan tertundanya pemulangan pasien dari fasilitas bedah apabila tidak dikelola dengan tepat.
Penyebab
Faktor risiko
Faktor risiko PONV dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama: terkait pasien, terkait pembedahan, dan terkait anestesi.
Terkait pasien
Sistem penilaian risiko Apfel umum digunakan untuk menentukan risiko PONV pada orang dewasa secara sensitif dan spesifik. Sistem penilaian yang disederhanakan ini mempertimbangkan empat prediktor utama:
- Jenis kelamin perempuan (paling dapat diandalkan)
- Status bukan perokok
- Riwayat PONV atau mabuk perjalanan
- Penggunaan opioid pascabedah
Adanya 0, 1, 2, 3, atau 4 faktor masing-masing berkaitan dengan risiko PONV sebesar kira-kira 10%, 20%, 40%, 70%, dan 80%.
Penelitian juga menunjukkan adanya kecenderungan genetik terhadap PONV.
Jenis prosedur tertentu—seperti bedah ginekologi, bedah abdomen, laparoskopi, bedah THT, dan bedah juling pada anak-anak—dikaitkan dengan peningkatan risiko PONV yang moderat dibandingkan dengan prosedur bedah umum lainnya.
Terkait anestesi
Paparan berkepanjangan terhadap obat-obat ini—yaitu anestesi volatil, dinitrogen oksida (N2O), fisostigmin, dan opioid—telah ditemukan berkorelasi dengan peningkatan risiko PONV.
Pendekatan anestesi yang diterapkan juga dapat berperan dalam risiko mual dan muntah pascabedah. Banyak bukti menunjukkan bahwa anestesi intravena total (TIVA) yang menggunakan propofol untuk induksi dan pemeliharaan dapat secara signifikan mengurangi kejadian mual dan muntah pascabedah, baik pada orang dewasa maupun anak-anak (masing-masing penurunan sebesar 3,5 kali lipat dan 5,7 kali lipat), dibandingkan dengan teknik yang menggunakan anestesi volatil. Anestesi regional juga terbukti memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien dibandingkan dengan anestesi umum.
Pencegahan
Strategi utama dalam pencegahan mual dan muntah pascabedah meliputi penilaian serta stratifikasi risiko yang cermat, penggunaan teknik anestesi non-volatil (tidak menguap) jika memungkinkan, pemberian obat pencegahan berdasarkan tingkat risiko, serta penerapan teknik multimodal yang meminimalkan penggunaan opioid untuk pengendalian nyeri pascabedah.
Optimalisasi volume cairan intravaskular selama pembedahan merupakan strategi lain untuk mengurangi risiko PONV, hal ini sering kali dicapai melalui pemberian cairan intravena (IV) tambahan saat pasien berada dalam kondisi anestesi umum. Pendekatan ini bertujuan mengatasi defisit cairan akibat puasa prabedah, yang umumnya membatasi asupan cairan oral selama 2–6 jam sebelum pembedahan. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pemberian cairan kristaloid intravena tambahan selama periode perioperatif dapat mengurangi kejadian muntah dan/atau mual pada pasien dengan karakteristik tertentu (pasien klasifikasi ASA I dan II). Risiko potensial maupun efek samping lain dari terapi jenis ini belum diketahui secara pasti. Untuk prosedur bedah minor, diperlukan penelitian lebih lanjut guna menentukan risiko dan manfaat dari pendekatan ini.
Penatalaksanaan
Obat-obatan yang umum diberikan, seperti antagonis reseptor serotonin (ondansetron), kortikosteroid glukokortikoid (deksametason), dan antagonis reseptor neurokinin-1 (aprepitant), terutama bekerja dengan memodifikasi pelepasan dan aktivitas neurotransmiter yang terlibat dalam mual dan muntah, sehingga secara efektif mengurangi kejadian PONV. Penggunaan pendekatan multimodal dengan mengombinasikan obat-obatan yang menargetkan reseptor berbeda yang terlibat dalam PONV terbukti lebih efektif dibandingkan monoterapi. Namun, berbagai faktor pasien, efek samping yang merugikan, dan efektivitas biaya dari obat-obatan ini harus dipertimbangkan saat memilih regimen pengobatan. Bukti terkini menunjukkan bahwa terapi alternatif juga dapat berperan dalam mengurangi kejadian PONV jika digunakan bersamaan dengan pengobatan konvensional.
Pengobatan
- Antagonis reseptor serotonin (5-HT3) dapat diberikan sebagai dosis tunggal pada akhir pembedahan. Efek sampingnya meliputi pemanjangan interval QT pada elektrokardiogram (EKG). Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini antara lain ondansetron, granisetron, dan dolasetron.
- Antikolinergik dapat digunakan dalam bentuk plester kerja panjang yang ditempelkan di belakang telinga pasien. Efek sampingnya meliputi mulut kering dan penglihatan kabur. Kehati-hatian diperlukan saat menangani plester ini, karena perpindahan obat ke mata dapat menyebabkan dilatasi pupil. Hindari penggunaan pada pasien lanjut usia. Obat dalam golongan ini meliputi skopolamina.
- Glukokortikoid memiliki efek antiemetik langsung dan dapat mengurangi kebutuhan akan opioid pascabedah. Efek sampingnya meliputi peningkatan sementara kadar glukosa serum dan penyembuhan luka yang buruk (hal ini masih kontroversial). Obat dalam golongan ini meliputi deksametason.
- Butirofenona adalah obat antipsikotik yang biasanya diberikan sebagai suntikan tunggal pada akhir pembedahan. Obat dalam golongan ini meliputi droperidol dan haloperidol, meskipun droperidol lebih jarang digunakan karena dapat menyebabkan pemanjangan interval QT pada EKG.
- Fenotiazina sangat efektif dalam menangani PONV yang disebabkan oleh opioid. Efek sampingnya bergantung pada dosis dan meliputi sedasi serta gejala ekstrapiramidal. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini antara lain prometazin, klorpromazin, dan proklorperazina.
- Antagonis reseptor neurokinin-1 (NK1) mencegah transmisi sinyal emetik (pemicu muntah) ke area postrema. Contoh obatnya meliputi aprepitant dan rolapitant.
- Antagonis reseptor histamin dapat diberikan melalui berbagai jalur termasuk secara oral, intramuskular, atau rektal. Efek sampingnya meliputi mulut kering, sedasi, dan retensi urine. Contoh obatnya meliputi dimenhidrinat dan difenhidramin.
- Propofol, sebuah obat bius, juga memiliki sifat antiemetik tersendiri.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa kombinasi deksametason dan ondansetron merupakan terapi antiemetik yang paling umum digunakan dan efektif untuk PONV. Literatur juga menyajikan bukti kuat mengenai efikasi obat-obatan dari golongan yang lebih baru seperti aprepitant atau fosaprepitant, maupun agen baru dari golongan yang sudah dikenal seperti ramosetron. Namun, mengingat efektivitas biaya yang kurang baik dari agen-agen tersebut—dan terlepas dari efikasi yang lebih tinggi pada agen-agen baru itu—hal ini dapat menghambat penggunaannya secara langsung dalam praktik anestesi.
Terapi alternatif
Penatalaksanaan nyeri perioperatif menggunakan teknik analgesik multimodal yang meminimalkan penggunaan opioid sangatlah penting untuk mengurangi kejadian PONV dan mencapai pemulihan pascabedah yang lebih baik. Selain penggunaan analgesik non-opioid seperti OAINS dan parasetamol, setidaknya satu penelitian menemukan bahwa penerapan akupresur pada titik meridian perikardium 6 (P6) memberikan efek positif dalam meredakan PONV. Penelitian lain tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik.
Konsumsi kapsul jahe secara oral sebelum pembedahan juga terbukti secara signifikan mengurangi kejadian mual dan muntah pascabedah pada 6 jam setelah tindakan dibandingkan dengan plasebo. Namun, penelitian lebih lanjut yang mengevaluasi efikasi jahe—baik sebagai alternatif maupun pendamping profilaksis antiemetik konvensional—diperlukan untuk menentukan secara tepat penggunaannya sebagai terapi tambahan.
Epidemiologi
Umumnya, insiden mual atau muntah setelah anestesi umum berkisar antara 25 hingga 30%. Mual dan muntah dapat sangat mengganggu kenyamanan pasien, sehingga menjadi salah satu kekhawatiran utama mereka.
Referensi
Bacaan lanjutan
Pranala luar
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29702213 (2026-09-04T10:40:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.