Lompat ke isi

Titanium: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29589190; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Titan-crystal_bar.JPG|thumb|right|280px|Titan-crystal bar]]
'''Titanium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Ti''' dan [[nomor atom]] 22. Di alam, titanium hanya ditemukan dalam bentuk [[oksida]]. Titanium dapat direduksi untuk menghasilkan [[logam transisi]] yang berkilau dan ber[[warna]] keperakan, memiliki [[massa jenis|densitas]] rendah, kekuatan tinggi, serta tahan terhadap [[korosi]] dalam [[air laut]], [[air raja]], dan [[klorin]].
'''Titanium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Ti''' dan [[nomor atom]] 22. Di alam, titanium hanya ditemukan dalam bentuk [[oksida]]. Titanium dapat direduksi untuk menghasilkan [[logam transisi]] yang berkilau dan ber[[warna]] keperakan, memiliki [[massa jenis|densitas]] rendah, kekuatan tinggi, serta tahan terhadap [[korosi]] dalam [[air laut]], [[air raja]], dan [[klorin]].


Titanium ditemukan di [[Cornwall]], [[Kerajaan Britania Raya|Britania Raya]], oleh [[William Gregor]] pada tahun 1791 dan kemudian diberi nama oleh [[Martin Heinrich Klaproth|Martin H. Klaproth]], yang mengambil nama tersebut dari para [[Titan (mitologi)|Titan]] dalam [[mitologi Yunani]]. Unsur ini terdapat dalam sejumlah [[mineral]], terutama [[rutil]] dan [[ilmenit]], yang tersebar luas di [[Kerak Bumi|kerak]] dan [[litosfer]] Bumi. Titanium juga ditemukan hampir di semua makhluk hidup, serta di perairan, batuan, dan tanah. Logam titanium diekstraksi dari bijih mineral utamanya melalui proses [[Proses Kroll|Kroll]] dan [[Proses Hunter|Hunter]]. Senyawa titanium yang paling umum, [[titanium dioksida]] (TiO<sub>2</sub>), merupakan [[fotokatalisis|fotokatalis]] yang populer dan digunakan dalam pembuatan pigmen putih. Senyawa lainnya meliputi [[titanium tetraklorida]] (TiCl<sub>4</sub>), yang digunakan sebagai komponen [[tabir asap]] dan [[katalisis|katalis]], serta [[Titanium(III) klorida|titanium triklorida]] (TiCl<sub>3</sub>), yang digunakan sebagai katalis dalam produksi [[polipropilena]].
Titanium ditemukan di [[Cornwall]], [[Kerajaan Britania Raya|Britania Raya]], oleh [[William Gregor]] pada tahun 1791 dan kemudian diberi nama oleh [[Martin Heinrich Klaproth|Martin H. Klaproth]], yang mengambil nama tersebut dari para [[Titan (mitologi)|Titan]] dalam [[mitologi Yunani]]. Unsur ini terdapat dalam sejumlah [[mineral]], terutama [[rutil]] dan [[ilmenit]], yang tersebar luas di [[Kerak Bumi|kerak]] dan [[litosfer]] Bumi. Titanium juga ditemukan hampir di semua makhluk hidup, serta di perairan, batuan, dan tanah.<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> Logam titanium diekstraksi dari bijih mineral utamanya melalui proses [[Proses Kroll|Kroll]] dan [[Proses Hunter|Hunter]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Senyawa titanium yang paling umum, [[titanium dioksida]] (TiO<sub>2</sub>), merupakan [[fotokatalisis|fotokatalis]] yang populer dan digunakan dalam pembuatan pigmen putih.<ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> Senyawa lainnya meliputi [[titanium tetraklorida]] (TiCl<sub>4</sub>), yang digunakan sebagai komponen [[tabir asap]] dan [[katalisis|katalis]], serta [[Titanium(III) klorida|titanium triklorida]] (TiCl<sub>3</sub>), yang digunakan sebagai katalis dalam produksi [[polipropilena]].<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref>


Titanium dapat [[logam paduan|dipadukan]] dengan [[besi]], [[aluminium]], [[vanadium]], [[molibdenum]], dan unsur lainnya. [[Paduan titanium]] yang dihasilkan memiliki sifat kuat, ringan, dan serbaguna, sehingga digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dirgantara ([[mesin jet]], [[Peluru kendali|rudal]], dan [[Wahana antariksa|wantariksa]]), militer, proses industri (kimia dan petrokimia, [[Desalinasi|pabrik desalinasi]], serta industri ''pulp'' dan kertas), otomotif, [[pertanian]], perlengkapan olahraga, perhiasan, dan [[elektronika konsumen|perangkat elektronik konsumen]]. Titanium juga dianggap sebagai salah satu logam yang paling [[Biokompatibilitas|biokompatibel]], sehingga banyak digunakan dalam bidang medis, termasuk untuk [[prostesis]], [[Daftar implan ortopedi|implan ortopedi]], [[implan gigi]], dan [[alat bedah]].
Titanium dapat [[logam paduan|dipadukan]] dengan [[besi]], [[aluminium]], [[vanadium]], [[molibdenum]], dan unsur lainnya. [[Paduan titanium]] yang dihasilkan memiliki sifat kuat, ringan, dan serbaguna, sehingga digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dirgantara ([[mesin jet]], [[Peluru kendali|rudal]], dan [[Wahana antariksa|wantariksa]]), militer, proses industri (kimia dan petrokimia, [[Desalinasi|pabrik desalinasi]], serta industri ''pulp'' dan kertas), otomotif, [[pertanian]], perlengkapan olahraga, perhiasan, dan [[elektronika konsumen|perangkat elektronik konsumen]].<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> Titanium juga dianggap sebagai salah satu logam yang paling [[Biokompatibilitas|biokompatibel]], sehingga banyak digunakan dalam bidang medis, termasuk untuk [[prostesis]], [[Daftar implan ortopedi|implan ortopedi]], [[implan gigi]], dan [[alat bedah]].<ref>Tokyo Medical. [https://phys.org/news/2022-05-exploring-titanium-implants-remarkable-biocompatibility.html Exploring what gives titanium implants their remarkable biocompatibility]. ''Phys.org''. 24 Mei 2022.</ref>


Dua sifat titanium yang paling bermanfaat adalah ketahanan terhadap korosi dan [[Kekuatan spesifik|rasio kekuatan tarik terhadap densitas]]nya, yang merupakan yang tertinggi di antara unsur-unsur logam. Namun, ketahanan terhadap [[Tegangan (mekanika)|tegangan tarik]] tidak berarti titanium memiliki rasio tertinggi untuk jenis tegangan lainnya, seperti [[Modulus kompresi|kompresi curah]], [[Tegangan geser|geser]], dan [[Modulus gelombang P|gelombang tekanan]]. Dalam kondisi tidak dipadu, titanium memiliki kekuatan tarik yang sebanding dengan beberapa jenis [[baja]], tetapi dengan densitas yang lebih rendah. Titanium memiliki dua bentuk [[alotropi]]k dan lima [[isotop]] alami, yaitu Ti hingga Ti. Isotop yang paling [[Kelimpahan alami unsur|melimpah]] adalah [[Titanium-48|Ti]], dengan kelimpahan sekitar 73,8%.
Dua sifat titanium yang paling bermanfaat adalah ketahanan terhadap korosi dan [[Kekuatan spesifik|rasio kekuatan tarik terhadap densitas]]nya, yang merupakan yang tertinggi di antara unsur-unsur logam.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Namun, ketahanan terhadap [[Tegangan (mekanika)|tegangan tarik]] tidak berarti titanium memiliki rasio tertinggi untuk jenis tegangan lainnya, seperti [[Modulus kompresi|kompresi curah]], [[Tegangan geser|geser]], dan [[Modulus gelombang P|gelombang tekanan]]. Dalam kondisi tidak dipadu, titanium memiliki kekuatan tarik yang sebanding dengan beberapa jenis [[baja]], tetapi dengan densitas yang lebih rendah.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Titanium memiliki dua bentuk [[alotropi]]k<ref>[https://archive.org/details/columbiaencyclop00laga Titanium]. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.</ref> dan lima [[isotop]] alami, yaitu Ti hingga Ti. Isotop yang paling [[Kelimpahan alami unsur|melimpah]] adalah [[Titanium-48|Ti]], dengan kelimpahan sekitar 73,8%.<ref>Barbalace, Kenneth L. [http://environmentalchemistry.com/yogi/periodic/Ti-pg2.html#Nuclides Periodic Table of Elements: Ti – Titanium]. 2006.</ref>
==Karakteristik==
==Karakteristik==
===Sifat fisik===
===Sifat fisik===
Sebagai logam, titanium dikenal karena [[Kekuatan spesifik|rasio kekuatan terhadap berat]]nya yang tinggi.<ref>[https://archive.org/details/columbiaencyclop00laga Titanium]. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.</ref> Titanium merupakan logam yang kuat dengan densitas rendah, cukup [[Keuletan (fisika)|ulet]] (terutama dalam lingkungan bebas [[oksigen]]),<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> berkilau, dan berwarna putih keperakan seperti logam.<ref>Albert Stwertka. [https://books.google.com/books?id=K3RWAAAAYAAJ Guide to the Elements]. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.</ref> Karena memiliki titik lebur yang relatif tinggi (1.668&nbsp;°C atau 3.034&nbsp;°F), titanium terkadang digolongkan sebagai [[logam refraktori]], meskipun sebenarnya bukan demikian.<ref>[https://special-metals.co.uk/is-titanium-a-refractory-metal Is Titanium A Refractory Metal]. ''Special Metal Fabrication''. 3 Agustus 2021.</ref> Titanium bersifat [[Paramagnetisme|paramagnetik]] dan memiliki [[Resistivitas dan konduktivitas listrik|konduktivitas listrik]] serta [[Konduktivitas termal|termal]] yang cukup rendah dibandingkan dengan logam lainnya.<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> Titanium akan menjadi [[Superkonduktivitas|superkonduktor]] ketika didinginkan hingga di bawah suhu kritisnya, yaitu 0,49&nbsp;K.<ref>M. C. Steele. [https://archive.org/details/sim_physical-review_1953-10-15_92_2/page/242 Superconductivity of Titanium]. ''Phys. Rev''. 1953. Vol. 92 (2). hlm. 243–247. doi:10.1103/PhysRev.92.243.</ref><ref>M. Thiemann. ''Complete electrodynamics of a BCS superconductor with μeV energy scales: Microwave spectroscopy on titanium at mK temperatures''. ''Phys. Rev. B''. 2018. Vol. 97 (21). doi:10.1103/PhysRevB.97.214516.</ref>


Sebagai logam, titanium dikenal karena [[Kekuatan spesifik|rasio kekuatan terhadap berat]]nya yang tinggi. Titanium merupakan logam yang kuat dengan densitas rendah, cukup [[Keuletan (fisika)|ulet]] (terutama dalam lingkungan bebas [[oksigen]]), berkilau, dan berwarna putih keperakan seperti logam. Karena memiliki titik lebur yang relatif tinggi (1.668&nbsp;°C atau 3.034&nbsp;°F), titanium terkadang digolongkan sebagai [[logam refraktori]], meskipun sebenarnya bukan demikian. Titanium bersifat [[Paramagnetisme|paramagnetik]] dan memiliki [[Resistivitas dan konduktivitas listrik|konduktivitas listrik]] serta [[Konduktivitas termal|termal]] yang cukup rendah dibandingkan dengan logam lainnya. Titanium akan menjadi [[Superkonduktivitas|superkonduktor]] ketika didinginkan hingga di bawah suhu kritisnya, yaitu 0,49&nbsp;K.
Titanium murni komersial (kemurnian 99,2%) memiliki [[Kekuatan tarik|kekuatan tarik maksimum]] sekitar 434&nbsp;[[Pascal (satuan)|MPa]] (63.000&nbsp;[[pon per inci persegi|psi]]), setara dengan baja paduan umum berkualitas rendah, tetapi memiliki densitas yang lebih rendah. Titanium memiliki densitas sekitar 60% lebih tinggi daripada aluminium, tetapi kekuatannya lebih dari dua kali lipat<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> dibandingkan [[Paduan aluminium 6061|paduan aluminium 6061-T6]] yang paling umum digunakan. Beberapa paduan titanium (misalnya [[Titanium Beta C|Beta C]]) dapat mencapai kekuatan tarik lebih dari 1.400&nbsp;MPa (200.000&nbsp;psi).<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Namun, titanium kehilangan kekuatannya ketika dipanaskan di atas .<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Titanium tidak sekeras beberapa jenis baja yang telah mengalami perlakuan panas. Titanium bersifat nonmagnetik dan merupakan penghantar [[Konduksi panas|panas]] serta [[Penghantar listrik|listrik]] yang buruk. Proses pemesinan titanium memerlukan tindakan pencegahan, karena material ini dapat mengalami ''galling'' (pengikisan atau pengelasan permukaan akibat gesekan) jika tidak menggunakan perkakas yang tajam dan metode pendinginan yang tepat. Seperti halnya struktur baja, struktur yang terbuat dari titanium memiliki [[batas kelelahan]] yang dapat menjamin umur pakai yang panjang dalam beberapa aplikasi.<ref>Albert Stwertka. [https://books.google.com/books?id=K3RWAAAAYAAJ Guide to the Elements]. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.</ref>


Titanium murni komersial (kemurnian 99,2%) memiliki [[Kekuatan tarik|kekuatan tarik maksimum]] sekitar 434&nbsp;[[Pascal (satuan)|MPa]] (63.000&nbsp;[[pon per inci persegi|psi]]), setara dengan baja paduan umum berkualitas rendah, tetapi memiliki densitas yang lebih rendah. Titanium memiliki densitas sekitar 60% lebih tinggi daripada aluminium, tetapi kekuatannya lebih dari dua kali lipat dibandingkan [[Paduan aluminium 6061|paduan aluminium 6061-T6]] yang paling umum digunakan. Beberapa paduan titanium (misalnya [[Titanium Beta C|Beta C]]) dapat mencapai kekuatan tarik lebih dari 1.400&nbsp;MPa (200.000&nbsp;psi). Namun, titanium kehilangan kekuatannya ketika dipanaskan di atas .
Titanium merupakan alotrop dimorfik yang memiliki bentuk α dengan struktur kristal [[Tetal-rapat sferis sama|​susunan padat heksagon]] (hcp). Bentuk ini berubah menjadi bentuk β dengan struktur kristal [[Sistem kristal kubik|kubus berpusat-badan]] (bcc) pada suhu .<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>F. F. Schmidt. [https://ntrs.nasa.gov/api/citations/19660015720/downloads/19660015720.pdf HEAT TREATMENT OF TITANIUM AND TITANIUM ALLOYS BY]. NASA. 1965.</ref> [[Kalor jenis]] bentuk α meningkat secara drastis ketika dipanaskan hingga mencapai suhu transisi tersebut. Setelah berubah menjadi bentuk β, kalor jenisnya kemudian menurun dan tetap relatif konstan terlepas dari perubahan suhu.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
 
Titanium tidak sekeras beberapa jenis baja yang telah mengalami perlakuan panas. Titanium bersifat nonmagnetik dan merupakan penghantar [[Konduksi panas|panas]] serta [[Penghantar listrik|listrik]] yang buruk. Proses pemesinan titanium memerlukan tindakan pencegahan, karena material ini dapat mengalami ''galling'' (pengikisan atau pengelasan permukaan akibat gesekan) jika tidak menggunakan perkakas yang tajam dan metode pendinginan yang tepat. Seperti halnya struktur baja, struktur yang terbuat dari titanium memiliki [[batas kelelahan]] yang dapat menjamin umur pakai yang panjang dalam beberapa aplikasi.
 
Titanium merupakan alotrop dimorfik yang memiliki bentuk α dengan struktur kristal [[Tetal-rapat sferis sama|​susunan padat heksagon]] (hcp). Bentuk ini berubah menjadi bentuk β dengan struktur kristal [[Sistem kristal kubik|kubus berpusat-badan]] (bcc) pada suhu . [[Kalor jenis]] bentuk α meningkat secara drastis ketika dipanaskan hingga mencapai suhu transisi tersebut. Setelah berubah menjadi bentuk β, kalor jenisnya kemudian menurun dan tetap relatif konstan terlepas dari perubahan suhu.
===Sifat kimia===
===Sifat kimia===
Seperti aluminium dan [[magnesium]], permukaan logam titanium dan paduannya akan segera [[redoks|teroksidasi]] ketika terpapar udara, membentuk lapisan [[Pasivasi (kimia)|pasivasi]] tipis dan tidak berpori yang melindungi logam di bagian dalam dari oksidasi atau korosi lebih lanjut.<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> Ketika pertama kali terbentuk, lapisan pelindung ini hanya setebal 1–2&nbsp;[[nanometer|nm]], tetapi terus tumbuh secara perlahan hingga mencapai ketebalan 25&nbsp;nm dalam waktu empat tahun.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Lapisan ini memberikan titanium ketahanan korosi yang sangat baik terhadap asam pengoksidasi, tetapi akan larut dalam [[asam fluorida]] encer, [[asam klorida]] panas, dan [[asam sulfat]] panas.<ref>Hermann Sicius. [https://link.springer.com/10.1007/978-3-662-68921-9_9 Handbook of the Chemical Elements]. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.</ref>


Seperti aluminium dan [[magnesium]], permukaan logam titanium dan paduannya akan segera [[redoks|teroksidasi]] ketika terpapar udara, membentuk lapisan [[Pasivasi (kimia)|pasivasi]] tipis dan tidak berpori yang melindungi logam di bagian dalam dari oksidasi atau korosi lebih lanjut. Ketika pertama kali terbentuk, lapisan pelindung ini hanya setebal 1–2&nbsp;[[nanometer|nm]], tetapi terus tumbuh secara perlahan hingga mencapai ketebalan 25&nbsp;nm dalam waktu empat tahun. Lapisan ini memberikan titanium ketahanan korosi yang sangat baik terhadap asam pengoksidasi, tetapi akan larut dalam [[asam fluorida]] encer, [[asam klorida]] panas, dan [[asam sulfat]] panas.
Titanium mampu bertahan terhadap serangan asam sulfat dan asam klorida encer pada suhu kamar, larutan klorida, serta sebagian besar asam organik.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Namun, titanium akan terkorosi oleh asam pekat.<ref>Casillas, N. [https://apps.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a274980.pdf Pitting corrosion of titanium]. ''J. Electrochem. Soc''. 1994. Vol. 141 (3). hlm. 636–642. doi:10.1149/1.2054783.</ref> Titanium akan terbakar di udara biasa pada suhu yang lebih rendah daripada titik leburnya, sehingga peleburan logam ini hanya dapat dilakukan dalam atmosfer lengai atau vakum.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Pada suhu kamar, titanium relatif lengai terhadap [[halogen]], tetapi akan bereaksi hebat dengan [[klorin]] dan [[bromin]] pada suhu , masing-masing membentuk titanium tetraklorida dan [[titanium tetrabromida]].<ref>Hermann Sicius. [https://link.springer.com/10.1007/978-3-662-68921-9_9 Handbook of the Chemical Elements]. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.</ref>


Titanium mampu bertahan terhadap serangan asam sulfat dan asam klorida encer pada suhu kamar, larutan klorida, serta sebagian besar asam organik. Namun, titanium akan terkorosi oleh asam pekat. Titanium akan terbakar di udara biasa pada suhu yang lebih rendah daripada titik leburnya, sehingga peleburan logam ini hanya dapat dilakukan dalam atmosfer lengai atau vakum. Pada suhu kamar, titanium relatif lengai terhadap [[halogen]], tetapi akan bereaksi hebat dengan [[klorin]] dan [[bromin]] pada suhu , masing-masing membentuk titanium tetraklorida dan [[titanium tetrabromida]].
Titanium mudah bereaksi dengan oksigen pada suhu  di udara dan pada suhu  dalam oksigen murni, membentuk titanium dioksida.<ref>[https://archive.org/details/columbiaencyclop00laga Titanium]. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.</ref> Oksida ini juga terbentuk melalui reaksi antara titanium dan oksigen murni pada suhu kamar dan tekanan .<ref>Hermann Sicius. [https://link.springer.com/10.1007/978-3-662-68921-9_9 Handbook of the Chemical Elements]. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.</ref> Titanium merupakan salah satu dari sedikit unsur yang dapat terbakar dalam gas nitrogen murni, bereaksi pada suhu  membentuk [[titanium nitrida]], yang menyebabkan kerapuhan.<ref>A.L. Forrest. [https://books.google.com/books?id=0Adr4zleybgC&pg=PA112 Industrial Applications of Titanium and Zirconium]. 1981. hlm. 112.</ref>
 
Titanium mudah bereaksi dengan oksigen pada suhu  di udara dan pada suhu  dalam oksigen murni, membentuk titanium dioksida. Oksida ini juga terbentuk melalui reaksi antara titanium dan oksigen murni pada suhu kamar dan tekanan . Titanium merupakan salah satu dari sedikit unsur yang dapat terbakar dalam gas nitrogen murni, bereaksi pada suhu  membentuk [[titanium nitrida]], yang menyebabkan kerapuhan.
===Keterjadian===
===Keterjadian===
Titanium merupakan unsur kesembilan yang paling [[Kelimpahan unsur di kerak Bumi|melimpah]] di [[kerak Bumi]] (0,63% berdasarkan [[massa]]) dan logam ketujuh yang paling melimpah. Titanium terdapat dalam bentuk oksida pada sebagian besar [[batuan beku]], [[batuan sedimen|sedimen]] yang berasal dari batuan tersebut, makhluk hidup, dan badan air alami. Dari 801 jenis batuan beku yang dianalisis oleh [[Survei Geologi Amerika Serikat]], 784 di antaranya mengandung titanium. Kandungannya dalam tanah berkisar sekitar 0,5–1,5%.
Titanium merupakan unsur kesembilan yang paling [[Kelimpahan unsur di kerak Bumi|melimpah]] di [[kerak Bumi]] (0,63% berdasarkan [[massa]])<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> dan logam ketujuh yang paling melimpah. Titanium terdapat dalam bentuk oksida pada sebagian besar [[batuan beku]], [[batuan sedimen|sedimen]] yang berasal dari batuan tersebut, makhluk hidup, dan badan air alami.<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Dari 801 jenis batuan beku yang dianalisis oleh [[Survei Geologi Amerika Serikat]], 784 di antaranya mengandung titanium. Kandungannya dalam tanah berkisar sekitar 0,5–1,5%.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Mineral yang umum mengandung titanium meliputi [[anatase]], [[brookit]], ilmenit, [[perovskit]], rutil, dan [[titanit]]. [[Akaogiit]] merupakan mineral yang sangat langka yang terdiri dari titanium dioksida. Dari mineral-mineral tersebut, hanya rutil dan ilmenit yang memiliki nilai ekonomis, tetapi bahkan keduanya sulit ditemukan dalam konsentrasi tinggi. Sekitar 6,0&nbsp;juta ton dan 0,7&nbsp;juta ton dari masing-masing mineral tersebut ditambang pada tahun 2011. Endapan ilmenite yang signifikan dan mengandung titanium terdapat di [[Afrika Selatan]], [[Australia]], [[India]], [[Kanada]], [[Mozambik]], [[Norwegia]], [[Selandia Baru]], [[Sierra Leone]], [[Tiongkok]], dan [[Ukraina]]. Total cadangan anatase, ilmenit, dan rutil diperkirakan melebihi 2&nbsp;miliar ton.
Mineral yang umum mengandung titanium meliputi [[anatase]], [[brookit]], ilmenit, [[perovskit]], rutil, dan [[titanit]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> [[Akaogiit]] merupakan mineral yang sangat langka yang terdiri dari titanium dioksida. Dari mineral-mineral tersebut, hanya rutil dan ilmenit yang memiliki nilai ekonomis, tetapi bahkan keduanya sulit ditemukan dalam konsentrasi tinggi. Sekitar 6,0&nbsp;juta ton dan 0,7&nbsp;juta ton dari masing-masing mineral tersebut ditambang pada tahun 2011.<ref>[https://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/titanium/ Titanium]. ''USGS Minerals Information''. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).</ref> Endapan ilmenite yang signifikan dan mengandung titanium terdapat di [[Afrika Selatan]], [[Australia]], [[India]], [[Kanada]], [[Mozambik]], [[Norwegia]], [[Selandia Baru]], [[Sierra Leone]], [[Tiongkok]], dan [[Ukraina]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Total cadangan anatase, ilmenit, dan rutil diperkirakan melebihi 2&nbsp;miliar ton.<ref>[https://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/titanium/ Titanium]. ''USGS Minerals Information''. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).</ref>


Konsentrasi titanium di lautan sekitar 4&nbsp;[[Molaritas|pM]]. Pada suhu 100&nbsp;°C, konsentrasi titanium dalam air diperkirakan kurang dari 10&nbsp;M pada pH&nbsp;7. Jenis spesies titanium dalam larutan berair masih belum diketahui karena kelarutannya yang rendah dan kurangnya metode spektroskopi yang cukup sensitif, meskipun hanya bilangan oksidasi +4 yang stabil di udara. Tidak ada bukti mengenai peran biologis titanium, meskipun beberapa organisme langka diketahui dapat mengakumulasi titanium dalam konsentrasi tinggi.
Konsentrasi titanium di lautan sekitar 4&nbsp;[[Molaritas|pM]]. Pada suhu 100&nbsp;°C, konsentrasi titanium dalam air diperkirakan kurang dari 10&nbsp;M pada pH&nbsp;7. Jenis spesies titanium dalam larutan berair masih belum diketahui karena kelarutannya yang rendah dan kurangnya metode spektroskopi yang cukup sensitif, meskipun hanya bilangan oksidasi +4 yang stabil di udara. Tidak ada bukti mengenai peran biologis titanium, meskipun beberapa organisme langka diketahui dapat mengakumulasi titanium dalam konsentrasi tinggi.<ref>K. M. Buettner. [https://archive.org/details/sim_chemical-reviews_2012-03_112_3/page/1863 Bioinorganic Chemistry of Titanium]. ''Chemical Reviews''. 2012. Vol. 112 (3). hlm. 1863–81. doi:10.1021/cr1002886.</ref>


Titanium terdapat dalam [[meteorit]] dan telah terdeteksi di [[Matahari]] serta pada [[bintang]] [[Klasifikasi bintang|kelas M]] (jenis bintang yang paling dingin), dengan suhu permukaan sekitar . [[Batu]]an yang dibawa kembali dari [[Bulan]] selama misi [[Apollo 17]] terdiri atas 12,1% TiO<sub>2</sub>. Titanium dalam bentuk unsur bebas hanya ditemukan di Bumi pada batuan yang pernah mengalami tekanan sekitar 2,8–4,0[[Pascal (satuan)|GPa]], tetapi titanium juga telah diidentifikasi dalam bentuk [[Material nanokristalin|nanokristal]] di Bulan.
Titanium terdapat dalam [[meteorit]] dan telah terdeteksi di [[Matahari]] serta pada [[bintang]] [[Klasifikasi bintang|kelas M]]<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> (jenis bintang yang paling dingin), dengan suhu permukaan sekitar .<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> [[Batu]]an yang dibawa kembali dari [[Bulan]] selama misi [[Apollo 17]] terdiri atas 12,1% TiO<sub>2</sub>.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Titanium dalam bentuk unsur bebas hanya ditemukan di Bumi pada batuan yang pernah mengalami tekanan sekitar 2,8–4,0[[Pascal (satuan)|GPa]],<ref>Jing Chen. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0012821X00000571 Native titanium inclusions in the coesite eclogites from Dabieshan, China]. ''Earth and Planetary Science Letters''. 30 April 2000. Vol. 177 (3–4). hlm. 237–240. doi:10.1016/S0012-821X(00)00057-1.</ref> tetapi titanium juga telah diidentifikasi dalam bentuk [[Material nanokristalin|nanokristal]] di Bulan.<ref>A. V. Mokhov. [http://link.springer.com/10.1134/S1028334X15020038 Nanocrystals of native iron and titanium in impact glasses of the lunar regolith]. ''Doklady Earth Sciences''. 2015. Vol. 460 (2). hlm. 118–122. doi:10.1134/S1028334X15020038.</ref>
===Isotop===
===Isotop===
Titanium yang terdapat secara alami terdiri atas lima isotop stabil: Ti, Ti, Ti, Ti, dan Ti, dengan Ti sebagai isotop yang paling melimpah ([[Kelimpahan alami unsur|kelimpahan alami]] 73,8%). Sebanyak 23 [[radionuklida|radioisotop]] telah dikarakterisasi. Di antaranya, yang paling stabil adalah [[Titanium-44|Ti]] dengan [[waktu paruh]] 63 tahun; Ti, 184,8 menit; Ti, 5,76 menit; dan Ti, 1,7 menit. Semua isotop [[peluruhan radioaktif|radioaktif]] lainnya memiliki waktu paruh kurang dari 33 detik, dan sebagian besar kurang dari setengah detik.<ref>Barbalace, Kenneth L. [http://environmentalchemistry.com/yogi/periodic/Ti-pg2.html#Nuclides Periodic Table of Elements: Ti – Titanium]. 2006.</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Titanium yang terdapat secara alami terdiri atas lima isotop stabil: Ti, Ti, Ti, Ti, dan Ti, dengan Ti sebagai isotop yang paling melimpah ([[Kelimpahan alami unsur|kelimpahan alami]] 73,8%). Sebanyak 23 [[radionuklida|radioisotop]] telah dikarakterisasi. Di antaranya, yang paling stabil adalah [[Titanium-44|Ti]] dengan [[waktu paruh]] 63 tahun; Ti, 184,8 menit; Ti, 5,76 menit; dan Ti, 1,7 menit. Semua isotop [[peluruhan radioaktif|radioaktif]] lainnya memiliki waktu paruh kurang dari 33 detik, dan sebagian besar kurang dari setengah detik.
Isotop-isotop titanium memiliki nomor massa mulai dari Ti hingga Ti.<ref>O. B. Tarasov. [https://link.aps.org/doi/10.1103/573p-7fjp Discovery of new isotopes in the fragmentation of 82 Se and insights into their production]. ''Physical Review C''. 4 September 2025. Vol. 112 (3). hlm. 034604. doi:10.1103/573p-7fjp.</ref> [[Peluruhan radioaktif#Mode peluruhan|Mode peluruhan]] utama untuk isotop yang lebih ringan daripada Ti adalah [[emisi positron]] (kecuali Ti, yang mengalami [[penangkapan elektron]]), yang menghasilkan [[isotop skandium]]. Sementara itu, mode utama untuk isotop yang lebih berat daripada Ti adalah [[peluruhan beta|emisi beta]], yang menghasilkan [[isotop vanadium]].<ref>Barbalace, Kenneth L. [http://environmentalchemistry.com/yogi/periodic/Ti-pg2.html#Nuclides Periodic Table of Elements: Ti – Titanium]. 2006.</ref> Titanium menjadi radioaktif ketika dibombardir dengan [[Deuterium|deuteron]], dengan memancarkan terutama [[positron]] dan [[sinar gama]] berenergi tinggi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
 
Isotop-isotop titanium memiliki nomor massa mulai dari Ti hingga Ti. [[Peluruhan radioaktif#Mode peluruhan|Mode peluruhan]] utama untuk isotop yang lebih ringan daripada Ti adalah [[emisi positron]] (kecuali Ti, yang mengalami [[penangkapan elektron]]), yang menghasilkan [[isotop skandium]]. Sementara itu, mode utama untuk isotop yang lebih berat daripada Ti adalah [[peluruhan beta|emisi beta]], yang menghasilkan [[isotop vanadium]]. Titanium menjadi radioaktif ketika dibombardir dengan [[Deuterium|deuteron]], dengan memancarkan terutama [[positron]] dan [[sinar gama]] berenergi tinggi.
==Senyawa==
==Senyawa==
 
[[Bilangan oksidasi]] +4 mendominasi kimia titanium,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> tetapi senyawa dengan bilangan oksidasi +3 juga cukup banyak.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Pada umumnya, titanium memiliki [[Geometri molekul oktahedral|geometri koordinasi oktahedral]] dalam kompleksnya,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> tetapi TiCl<sub>4</sub> yang berbentuk tetrahedral merupakan pengecualian yang penting. Karena bilangan oksidasinya yang tinggi, senyawa titanium(IV) menunjukkan tingkat [[ikatan kovalen]] yang tinggi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
 
[[Bilangan oksidasi]] +4 mendominasi kimia titanium, tetapi senyawa dengan bilangan oksidasi +3 juga cukup banyak. Pada umumnya, titanium memiliki [[Geometri molekul oktahedral|geometri koordinasi oktahedral]] dalam kompleksnya, tetapi TiCl<sub>4</sub> yang berbentuk tetrahedral merupakan pengecualian yang penting. Karena bilangan oksidasinya yang tinggi, senyawa titanium(IV) menunjukkan tingkat [[ikatan kovalen]] yang tinggi.
===Oksida, sulfida, dan alkoksida===
===Oksida, sulfida, dan alkoksida===
Oksida yang paling penting adalah TiO<sub>2</sub>, yang terdapat dalam tiga [[polimorf]] penting: anatase, brookit, dan rutil. Ketiganya merupakan padatan diamagnetik berwarna putih, meskipun sampel mineralnya dapat tampak gelap, seperti pada rutil. Ketiga bentuk tersebut memiliki struktur polimerik, dengan atom Ti dikelilingi oleh enam ligan oksida yang menghubungkannya dengan pusat Ti lainnya.
Oksida yang paling penting adalah TiO<sub>2</sub>, yang terdapat dalam tiga [[polimorf]] penting: anatase, brookit, dan rutil. Ketiganya merupakan padatan diamagnetik berwarna putih, meskipun sampel mineralnya dapat tampak gelap, seperti pada rutil. Ketiga bentuk tersebut memiliki struktur polimerik, dengan atom Ti dikelilingi oleh enam ligan oksida yang menghubungkannya dengan pusat Ti lainnya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Istilah ''[[titanat]]'' biasanya merujuk pada senyawa titanium(IV), seperti yang terdapat pada [[barium titanat]] (BaTiO<sub>3</sub>). Dengan struktur perovskit, material ini memiliki sifat [[Piezoelektrisitas|piezoelektrik]] dan digunakan sebagai transduser untuk mengubah [[bunyi|suara]] menjadi [[listrik]], dan sebaliknya. Banyak mineral merupakan titanat, seperti ilmenit (FeTiO<sub>3</sub>). [[Nilam (permata)#Nilam bintang|Safir bintang]] dan [[Mirah delima|rubi]] memperoleh sifat [[Asterisme (gemologi)|asterisme]] (kilauan yang membentuk pola seperti bintang) dari adanya pengotor titanium dioksida.
Istilah ''[[titanat]]'' biasanya merujuk pada senyawa titanium(IV), seperti yang terdapat pada [[barium titanat]] (BaTiO<sub>3</sub>). Dengan struktur perovskit, material ini memiliki sifat [[Piezoelektrisitas|piezoelektrik]] dan digunakan sebagai transduser untuk mengubah [[bunyi|suara]] menjadi [[listrik]], dan sebaliknya.<ref>[https://archive.org/details/columbiaencyclop00laga Titanium]. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.</ref> Banyak mineral merupakan titanat, seperti ilmenit (FeTiO<sub>3</sub>). [[Nilam (permata)#Nilam bintang|Safir bintang]] dan [[Mirah delima|rubi]] memperoleh sifat [[Asterisme (gemologi)|asterisme]] (kilauan yang membentuk pola seperti bintang) dari adanya pengotor titanium dioksida.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Berbagai oksida tereduksi ([[suboksida]]) titanium telah diketahui, terutama dengan [[stoikiometri]] titanium dioksida yang direduksi dan diperoleh melalui [[penyemprotan termal|penyemprotan plasma atmosfer]]. Ti<sub>3</sub>O<sub>5</sub>, yang digambarkan sebagai spesi Ti(IV)-Ti(III), merupakan semikonduktor berwarna ungu yang dihasilkan melalui [[redoks|reduksi]] TiO<sub>2</sub> dengan hidrogen pada suhu tinggi. Senyawa ini digunakan secara industri ketika permukaan perlu dilapisi titanium dioksida melalui proses pelapisan uap: Ti<sub>3</sub>O<sub>5</sub> menguap sebagai TiO murni, sedangkan TiO<sub>2</sub> menguap sebagai campuran oksida dan menghasilkan lapisan dengan indeks bias yang bervariasi. Senyawa lain yang juga diketahui adalah [[titanium(III) oksida|Ti<sub>2</sub>O<sub>3</sub>]], dengan struktur [[korundum]], dan [[titanium(II) oksida|TiO]], dengan [[Sistem kristal kubik#Struktur garam batu|struktur garam batu]], meskipun keduanya sering kali [[Senyawa non-stoikiometri|tidak memiliki stoikiometri yang tepat]].
Berbagai oksida tereduksi ([[suboksida]]) titanium telah diketahui, terutama dengan [[stoikiometri]] titanium dioksida yang direduksi dan diperoleh melalui [[penyemprotan termal|penyemprotan plasma atmosfer]]. Ti<sub>3</sub>O<sub>5</sub>, yang digambarkan sebagai spesi Ti(IV)-Ti(III), merupakan semikonduktor berwarna ungu yang dihasilkan melalui [[redoks|reduksi]] TiO<sub>2</sub> dengan hidrogen pada suhu tinggi.<ref>Gang Liu. ''Preparation and Optical Storage Properties of λTi 3 O 5 Powder''. ''Journal of Inorganic Materials''. 26 Juni 2013. Vol. 28 (4). hlm. 425–430. doi:10.3724/SP.J.1077.2013.12309.</ref> Senyawa ini digunakan secara industri ketika permukaan perlu dilapisi titanium dioksida melalui proses pelapisan uap: Ti<sub>3</sub>O<sub>5</sub> menguap sebagai TiO murni, sedangkan TiO<sub>2</sub> menguap sebagai campuran oksida dan menghasilkan lapisan dengan indeks bias yang bervariasi.<ref>Antonio Bonardi. ''A new solution for mirror coating in -ray Cherenkov Astronomy''. ''Experimental Astronomy''. 2014. Vol. 38 (1–2). hlm. 1–9. doi:10.1007/s10686-014-9398-x.</ref> Senyawa lain yang juga diketahui adalah [[titanium(III) oksida|Ti<sub>2</sub>O<sub>3</sub>]], dengan struktur [[korundum]], dan [[titanium(II) oksida|TiO]], dengan [[Sistem kristal kubik#Struktur garam batu|struktur garam batu]], meskipun keduanya sering kali [[Senyawa non-stoikiometri|tidak memiliki stoikiometri yang tepat]].


[[Alkoksida]] titanium(IV), yang dibuat dengan mereaksikan TiCl<sub>4</sub> dengan [[alkohol]], merupakan senyawa nirwarna yang berubah menjadi dioksida ketika bereaksi dengan air. Senyawa ini berguna secara industri untuk mengendapkan TiO<sub>2</sub> padat melalui [[proses sol–gel]]. [[Titanium isopropoksida]] digunakan dalam sintesis senyawa organik kiral melalui [[epoksidasi Sharpless]].
[[Alkoksida]] titanium(IV), yang dibuat dengan mereaksikan TiCl<sub>4</sub> dengan [[alkohol]], merupakan senyawa nirwarna yang berubah menjadi dioksida ketika bereaksi dengan air. Senyawa ini berguna secara industri untuk mengendapkan TiO<sub>2</sub> padat melalui [[proses sol–gel]]. [[Titanium isopropoksida]] digunakan dalam sintesis senyawa organik kiral melalui [[epoksidasi Sharpless]].<ref>Ramón, Diego J. ''In the arena of enantioselective synthesis, titanium complexes wear the laurel wreath''. ''Chem. Rev''. 2006. Vol. 106 (6). hlm. 2126–2308. doi:10.1021/cr040698p.</ref>


Titanium membentuk berbagai macam sulfida, tetapi hanya [[Titanium disulfida|TiS<sub>2</sub>]] yang mendapat perhatian signifikan. Senyawa ini memiliki struktur berlapis dan pernah digunakan sebagai katode dalam pengembangan [[baterai litium]]. Karena Ti(IV) merupakan [[Teori asam–basa keras dan lunak|"kation keras"]], sulfida titanium tidak stabil dan cenderung mengalami hidrolisis menjadi oksida dengan melepaskan [[hidrogen sulfida]].
Titanium membentuk berbagai macam sulfida, tetapi hanya [[Titanium disulfida|TiS<sub>2</sub>]] yang mendapat perhatian signifikan. Senyawa ini memiliki struktur berlapis dan pernah digunakan sebagai katode dalam pengembangan [[baterai litium]]. Karena Ti(IV) merupakan [[Teori asam–basa keras dan lunak|"kation keras"]], sulfida titanium tidak stabil dan cenderung mengalami hidrolisis menjadi oksida dengan melepaskan [[hidrogen sulfida]].<ref>M.J. McKelvy. ''Inorganic Syntheses''. 1995. Vol. 30. hlm. 28–32. doi:10.1002/9780470132616.ch7. ISBN 978-0-470-13261-6.</ref>
===Nitrida dan karbida===
===Nitrida dan karbida===
Titanium nitrida (TiN) merupakan padatan tahan api yang memiliki kekerasan ekstrem, konduktivitas termal dan listrik yang tinggi, serta titik lebur yang tinggi. TiN memiliki kekerasan yang setara dengan [[Nilam (permata)|safir]] dan [[Silikon karbida|karborundum]] (9,0 pada [[skala Mohs]]) dan sering digunakan untuk melapisi alat pemotong, seperti mata bor. TiN juga digunakan sebagai lapisan dekoratif berwarna emas dan sebagai lapisan penghalang dalam [[fabrikasi semikonduktor]]. [[Titanium karbida]] (TiC), yang juga sangat keras, digunakan pada alat pemotong dan sebagai bahan pelapis.
Titanium nitrida (TiN) merupakan padatan tahan api yang memiliki kekerasan ekstrem, konduktivitas termal dan listrik yang tinggi, serta titik lebur yang tinggi.<ref>Naresh Saha. ''Titanium nitride oxidation chemistry: An x-ray photoelectron spectroscopy study''. ''Journal of Applied Physics''. 1992. Vol. 72 (7). hlm. 3072–3079. doi:10.1063/1.351465.</ref> TiN memiliki kekerasan yang setara dengan [[Nilam (permata)|safir]] dan [[Silikon karbida|karborundum]] (9,0 pada [[skala Mohs]])<ref>Schubert, E.F. [https://www.ecse.rpi.edu/~schubert/Educational-resources/Materials-Hardness.pdf The hardness scale introduced by Friederich Mohs]. Rensselaer Polytechnic Institute.</ref> dan sering digunakan untuk melapisi alat pemotong, seperti mata bor.<ref>Joseph Truini. [https://books.google.com/books?id=Z-QDAAAAMBAJ Drill bits]. Mei 1988. Vol. 165 (5). hlm. 91.</ref> TiN juga digunakan sebagai lapisan dekoratif berwarna emas dan sebagai lapisan penghalang dalam [[fabrikasi semikonduktor]].<ref>B. Jayant Baliga. [https://books.google.com/books?id=LNLVwAzhN7EC Silicon carbide power devices]. World Scientific. 2005. hlm. 91. ISBN 978-981-256-605-8.</ref> [[Titanium karbida]] (TiC), yang juga sangat keras, digunakan pada alat pemotong dan sebagai bahan pelapis.<ref>[http://www.hcstarck.com/titanium_carbide_tic Titanium carbide product information]. H.C. Starck.</ref>
===Halida===
===Halida===
Titanium tetraklorida (titanium(IV) klorida, TiCl<sub>4</sub><ref>Seong, S. [https://books.google.com/books?id=tIPFfYW304IC&pg=PA10 Titanium: Industrial base, price trends, and technology initiatives]. Rand Corporation. 2009. hlm. 10. ISBN 978-0-8330-4575-1.</ref>) merupakan cairan volatil nirwarna (sampel komersialnya berwarna kekuningan) yang, ketika berada di udara, mengalami hidrolisis dengan menghasilkan kepulan awan putih yang mencolok. Melalui proses Kroll, TiCl<sub>4</sub> digunakan untuk mengubah bijih titanium menjadi logam titanium. TiCl<sub>4</sub> juga digunakan untuk membuat TiO<sub>2</sub>, misalnya untuk digunakan dalam cat putih.<ref>Richard W. Johnson. [https://books.google.com/books?id=JBTlucgGdegC The Handbook of Fluid Dynamics]. Springer. 1998. hlm. 38–21. ISBN 978-3-540-64612-9.</ref> Senyawa ini banyak digunakan dalam [[kimia organik]] sebagai [[Asam dan basa Lewis|asam Lewis]], misalnya dalam [[Adisi aldol Mukaiyama|kondensasi aldol Mukaiyama]].<ref>Robert M. Coates. [https://books.google.com/books?id=xxYjJgupBSMC Handbook of Reagents for Organic Synthesis]. John Wiley and Sons. 2000. hlm. 93. ISBN 978-0-470-85625-3.</ref> Dalam [[proses van Arkel–de Boer]], [[titanium tetraiodida]] (TiI<sub>4</sub>) dihasilkan dalam proses produksi logam titanium dengan kemurnian tinggi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Titanium tetraklorida (titanium(IV) klorida, TiCl<sub>4</sub>) merupakan cairan volatil nirwarna (sampel komersialnya berwarna kekuningan) yang, ketika berada di udara, mengalami hidrolisis dengan menghasilkan kepulan awan putih yang mencolok. Melalui proses Kroll, TiCl<sub>4</sub> digunakan untuk mengubah bijih titanium menjadi logam titanium. TiCl<sub>4</sub> juga digunakan untuk membuat TiO<sub>2</sub>, misalnya untuk digunakan dalam cat putih. Senyawa ini banyak digunakan dalam [[kimia organik]] sebagai [[Asam dan basa Lewis|asam Lewis]], misalnya dalam [[Adisi aldol Mukaiyama|kondensasi aldol Mukaiyama]]. Dalam [[proses van Arkel–de Boer]], [[titanium tetraiodida]] (TiI<sub>4</sub>) dihasilkan dalam proses produksi logam titanium dengan kemurnian tinggi.
Titanium(III) dan titanium(II) juga membentuk klorida yang stabil. Salah satu contohnya adalah titanium(III) klorida (TiCl<sub>3</sub>), yang digunakan sebagai katalis untuk produksi [[poliolefin]] (lihat [[katalis Ziegler–Natta]]) dan sebagai [[pereaksi kimia|agen]] pereduksi dalam kimia organik.<ref>Lise-Lotte Gundersen. ''Titanium(III) Chloride''. 2007. doi:10.1002/047084289X.rt120.pub2. ISBN 978-0-471-93623-7.</ref>
 
Titanium(III) dan titanium(II) juga membentuk klorida yang stabil. Salah satu contohnya adalah titanium(III) klorida (TiCl<sub>3</sub>), yang digunakan sebagai katalis untuk produksi [[poliolefin]] (lihat [[katalis Ziegler–Natta]]) dan sebagai [[pereaksi kimia|agen]] pereduksi dalam kimia organik.
===Kompleks organologam===
===Kompleks organologam===
 
Karena senyawa titanium memiliki peran penting sebagai katalis [[polimerisasi]], senyawa yang memiliki ikatan Ti–C telah dipelajari secara intensif. Kompleks organotitanium yang paling umum adalah [[titanosena diklorida]] ((C<sub>5</sub>H<sub>5</sub>)<sub>2</sub>TiCl<sub>2</sub>). Senyawa terkait lainnya meliputi [[reagen Tebbe]] dan [[reagen Petasis]]. Titanium juga membentuk [[karbonil logam|kompleks karbonil]], misalnya [[titanosena dikarbonil|(C<sub>5</sub>H<sub>5</sub>)<sub>2</sub>Ti(CO)<sub>2</sub>]].<ref>Hartwig, J.F. ''Organotransition Metal Chemistry, from Bonding to Catalysis''. University Science Books. 2010. ISBN 978-1-891389-53-5.</ref>
Karena senyawa titanium memiliki peran penting sebagai katalis [[polimerisasi]], senyawa yang memiliki ikatan Ti–C telah dipelajari secara intensif. Kompleks organotitanium yang paling umum adalah [[titanosena diklorida]] ((C<sub>5</sub>H<sub>5</sub>)<sub>2</sub>TiCl<sub>2</sub>). Senyawa terkait lainnya meliputi [[reagen Tebbe]] dan [[reagen Petasis]]. Titanium juga membentuk [[karbonil logam|kompleks karbonil]], misalnya [[titanosena dikarbonil|(C<sub>5</sub>H<sub>5</sub>)<sub>2</sub>Ti(CO)<sub>2</sub>]].
==Sejarah==
==Sejarah==
Titanium [[Penemuan unsur kimia|ditemukan]] pada tahun 1791 oleh [[rohaniwan]] dan [[geolog]] William Gregor sebagai unsur yang terdapat dalam suatu mineral di Cornwall, Britania Raya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Gregor mengenali keberadaan unsur baru dalam ilmenit<ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> ketika dia menemukan pasir hitam di dekat sebuah aliran sungai dan menyadari bahwa pasir tersebut tertarik oleh [[magnet]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Setelah menganalisis pasir tersebut, dia menentukan adanya dua oksida logam: [[besi oksida]] (yang menjelaskan sifat tertariknya terhadap magnet) dan 45,25% oksida logam berwarna putih yang tidak dapat dia identifikasi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Setelah menyadari bahwa oksida yang tidak dikenal tersebut mengandung logam yang tidak sesuai dengan unsur mana pun yang telah diketahui, pada tahun 1791 Gregor melaporkan temuannya dalam jurnal-jurnal ilmiah berbahasa Jerman dan Prancis: ''[[Crell's Annalen]]'' dan ''Observations et Mémoires sur la Physique''.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>Gregor, William. ''Beobachtungen und Versuche über den Menakanit, einen in Cornwall gefundenen magnetischen Sand''. ''Chemische Annalen''. 1791. Vol. 1. hlm. [https://books.google.com/books?id=ZFAyAQAAMAAJ&pg=PA40 pp. 40–54], [https://books.google.com/books?id=ZFAyAQAAMAAJ&pg=PA103 103–119].</ref><ref>Gregor, William. ''Sur le menakanite, espèce de sable attirable par l'aimant, trouvé dans la province de Cornouilles''. ''Observations et Mémoires sur la Physique''. 1791. Vol. 39. hlm. [https://archive.org/stream/journaldephysiq23unkngoog#page/n77/mode/1up 72–78], [https://archive.org/stream/journaldephysiq23unkngoog#page/n159/mode/1up 152–160].</ref> Dia menamai oksida tersebut [[Ilmenit#Penemuan|manakanit]].<ref>Fathi Habashi. ''Historical Introduction to Refractory Metals''. ''Mineral Processing and Extractive Metallurgy Review''. Januari 2001. Vol. 22 (1). hlm. 25–53. doi:10.1080/08827509808962488.</ref>


Pada waktu yang kurang lebih sama, [[Franz-Joseph Müller von Reichenstein]] menghasilkan zat serupa, tetapi tidak dapat mengidentifikasinya.<ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> Oksida tersebut ditemukan kembali secara independen pada tahun 1795 oleh kimiawan [[Prusia]] Martin H. Klaproth dalam rutil dari Boinik (nama Jerman untuk Bajmócska), sebuah desa di Hungaria (sekarang [[Bojničky]] di Slowakia).<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
Klaproth menemukan bahwa zat tersebut mengandung unsur baru dan menamainya berdasarkan para Titan dalam mitologi Yunani.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Setelah mengetahui penemuan Gregor sebelumnya, dia memperoleh sampel manakanit dan memastikan bahwa sampel tersebut mengandung titanium.<ref>[https://books.google.com/books?id=amIQAQAAMAAJ Twenty-five years of Titanium news: A concise and timely report on titanium and titanium recycling]. Suisman Titanium Corporation. 1995. hlm. 37.</ref>


Titanium [[Penemuan unsur kimia|ditemukan]] pada tahun 1791 oleh [[rohaniwan]] dan [[geolog]] William Gregor sebagai unsur yang terdapat dalam suatu mineral di Cornwall, Britania Raya. Gregor mengenali keberadaan unsur baru dalam ilmenit ketika dia menemukan pasir hitam di dekat sebuah aliran sungai dan menyadari bahwa pasir tersebut tertarik oleh [[magnet]]. Setelah menganalisis pasir tersebut, dia menentukan adanya dua oksida logam: [[besi oksida]] (yang menjelaskan sifat tertariknya terhadap magnet) dan 45,25% oksida logam berwarna putih yang tidak dapat dia identifikasi. Setelah menyadari bahwa oksida yang tidak dikenal tersebut mengandung logam yang tidak sesuai dengan unsur mana pun yang telah diketahui, pada tahun 1791 Gregor melaporkan temuannya dalam jurnal-jurnal ilmiah berbahasa Jerman dan Prancis: ''[[Crell's Annalen]]'' dan ''Observations et Mémoires sur la Physique''. Dia menamai oksida tersebut [[Ilmenit#Penemuan|manakanit]].
Proses yang saat ini diketahui untuk mengekstraksi titanium dari berbagai bijihnya cukup rumit dan mahal. Bijih titanium tidak dapat direduksi dengan memanaskannya bersama [[karbon]] (seperti dalam peleburan besi), karena titanium akan bereaksi dengan karbon membentuk titanium karbida.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Titanium dengan kemurnian 95% berhasil diekstraksi oleh [[Lars Fredrik Nilson|Lars F. Nilson]] dan [[Sven Otto Pettersson|Sven O. Petterson]]. Untuk mencapai hal tersebut, mereka mengklorinasi titanium oksida dalam atmosfer karbon monoksida menggunakan gas klorin, kemudian mereduksinya menjadi logam titanium menggunakan [[natrium]].<ref>Osamu Takeda. [https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/B9780323853736000107 Treatise on Process Metallurgy]. Elsevier. 1 Januari 2024. hlm. 697–750. doi:10.1016/B978-0-323-85373-6.00010-7. ISBN 978-0-323-85373-6.</ref> Logam titanium murni (99,9%) pertama kali dibuat pada tahun 1910 oleh [[Matthew Hunter|Matthew A. Hunter]] di [[Institut Politeknik Rensselaer]], dengan memanaskan titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>) bersama natrium pada suhu  di bawah tekanan tinggi<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> dalam [[produksi tumpak|proses tumpak]] yang dikenal sebagai proses Hunter.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Logam titanium tidak digunakan di luar laboratorium hingga tahun 1932, ketika [[William Justin Kroll|William J. Kroll]] memproduksinya dengan mereduksi TiCl<sub>4</sub> menggunakan [[kalsium]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Delapan tahun kemudian, dia menyempurnakan proses tersebut dengan menggunakan magnesium dan natrium dalam proses yang kemudian dikenal sebagai proses Kroll.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Meskipun penelitian terus dilakukan untuk menemukan metode yang lebih murah dan efisien, seperti [[proses FFC Cambridge]], proses Kroll masih menjadi metode yang paling banyak digunakan untuk produksi komersial.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref>


Pada waktu yang kurang lebih sama, [[Franz-Joseph Müller von Reichenstein]] menghasilkan zat serupa, tetapi tidak dapat mengidentifikasinya. Oksida tersebut ditemukan kembali secara independen pada tahun 1795 oleh kimiawan [[Prusia]] Martin H. Klaproth dalam rutil dari Boinik (nama Jerman untuk Bajmócska), sebuah desa di Hungaria (sekarang [[Bojničky]] di Slowakia).
Titanium dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi berhasil dibuat dalam jumlah kecil ketika [[Anton Eduard van Arkel|Anton E. van Arkel]] dan [[Jan Hendrik de Boer|Jan H. de Boer]] menemukan proses iodida pada tahun 1925. Proses tersebut dilakukan dengan mereaksikan titanium dengan [[iodin]], kemudian menguraikan uap yang terbentuk pada filamen panas untuk menghasilkan logam murni.<ref>van Arkel, A.E. ''Preparation of pure titanium, zirconium, hafnium, and thorium metal''. ''Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie''. 1925. Vol. 148. hlm. 345–50. doi:10.1002/zaac.19251480133.</ref>
Klaproth menemukan bahwa zat tersebut mengandung unsur baru dan menamainya berdasarkan para Titan dalam mitologi Yunani. Setelah mengetahui penemuan Gregor sebelumnya, dia memperoleh sampel manakanit dan memastikan bahwa sampel tersebut mengandung titanium.


Proses yang saat ini diketahui untuk mengekstraksi titanium dari berbagai bijihnya cukup rumit dan mahal. Bijih titanium tidak dapat direduksi dengan memanaskannya bersama [[karbon]] (seperti dalam peleburan besi), karena titanium akan bereaksi dengan karbon membentuk titanium karbida. Titanium dengan kemurnian 95% berhasil diekstraksi oleh [[Lars Fredrik Nilson|Lars F. Nilson]] dan [[Sven Otto Pettersson|Sven O. Petterson]]. Untuk mencapai hal tersebut, mereka mengklorinasi titanium oksida dalam atmosfer karbon monoksida menggunakan gas klorin, kemudian mereduksinya menjadi logam titanium menggunakan [[natrium]]. Logam titanium murni (99,9%) pertama kali dibuat pada tahun 1910 oleh [[Matthew Hunter|Matthew A. Hunter]] di [[Institut Politeknik Rensselaer]], dengan memanaskan titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>) bersama natrium pada suhu  di bawah tekanan tinggi dalam [[produksi tumpak|proses tumpak]] yang dikenal sebagai proses Hunter. Logam titanium tidak digunakan di luar laboratorium hingga tahun 1932, ketika [[William Justin Kroll|William J. Kroll]] memproduksinya dengan mereduksi TiCl<sub>4</sub> menggunakan [[kalsium]]. Delapan tahun kemudian, dia menyempurnakan proses tersebut dengan menggunakan magnesium dan natrium dalam proses yang kemudian dikenal sebagai proses Kroll. Meskipun penelitian terus dilakukan untuk menemukan metode yang lebih murah dan efisien, seperti [[proses FFC Cambridge]], proses Kroll masih menjadi metode yang paling banyak digunakan untuk produksi komersial.
Pada 1950-an dan 1960-an, Uni Soviet menjadi pelopor penggunaan titanium untuk keperluan militer dan kapal selam<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> ([[Kapal selam kelas Alfa|kelas Alfa]], [[Kapal selam Soviet K-278 Komsomolets|kelas Mike]], dan [[Kapal selam kelas Sierra|kelas Sierra II]])<ref>Eugene Yanko. [http://warfare.be/db/catid/243/linkid/1756/ Submarines: General information]. Omsk VTTV Arms Exhibition and Military Parade JSC. 2006.</ref> sebagai bagian dari program yang berkaitan dengan Perang Dingin.<ref>[http://www.stainless-steel-world.net/pdf/ssw0107.pdf?issueID=30 VSMPO stronger than ever]. ''Stainless Steel World''. KCI Publishing B.V. Juli–Agustus 2001. hlm. 16–19.</ref> Mulai awal 1950-an, titanium digunakan secara luas dalam penerbangan militer, khususnya pada pesawat jet berperforma tinggi, dimulai dengan pesawat seperti [[North American F-100 Super Sabre|F-100 Super Sabre]] serta [[Lockheed A-12]] dan [[SR-71 Blackbird|SR-71]].<ref>''Architecture and Anthropology''. Taylor & Francis. 2020. hlm. 42. ISBN 978-1-351-10627-6.</ref>


 
Sepanjang periode Perang Dingin, titanium dianggap sebagai [[material strategis]] oleh pemerintah Amerika Serikat. Cadangan besar [[busa logam|spons]] (bentuk logam murni yang berpori) titanium dipelihara oleh Defense National Stockpile Center hingga cadangan tersebut dibubarkan pada tahun 2000-an.<ref>Defense National Stockpile Center. [https://www.dnsc.dla.mil/Uploads/Materials/esolomon_5-21-2009_13-29-4_2008OpsReport.pdf Strategic and Critical Materials Report to the Congress. Operations under the Strategic and Critical Materials Stock Piling Act during the Period October 2007 through September 2008]. Departemen Pertahanan Amerika Serikat. 2008. hlm. 3304.</ref> Meskipun demikian, pemerintah Amerika Serikat setiap tahun mengalokasikan 15.000metrik ton spons titanium sebagai potensi pengadaan untuk cadangan tersebut.<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref>
Titanium dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi berhasil dibuat dalam jumlah kecil ketika [[Anton Eduard van Arkel|Anton E. van Arkel]] dan [[Jan Hendrik de Boer|Jan H. de Boer]] menemukan proses iodida pada tahun 1925. Proses tersebut dilakukan dengan mereaksikan titanium dengan [[iodin]], kemudian menguraikan uap yang terbentuk pada filamen panas untuk menghasilkan logam murni.
 
Pada 1950-an dan 1960-an, Uni Soviet menjadi pelopor penggunaan titanium untuk keperluan militer dan kapal selam ([[Kapal selam kelas Alfa|kelas Alfa]], [[Kapal selam Soviet K-278 Komsomolets|kelas Mike]], dan [[Kapal selam kelas Sierra|kelas Sierra II]]) sebagai bagian dari program yang berkaitan dengan Perang Dingin. Mulai awal 1950-an, titanium digunakan secara luas dalam penerbangan militer, khususnya pada pesawat jet berperforma tinggi, dimulai dengan pesawat seperti [[North American F-100 Super Sabre|F-100 Super Sabre]] serta [[Lockheed A-12]] dan [[SR-71 Blackbird|SR-71]].
 
Sepanjang periode Perang Dingin, titanium dianggap sebagai [[material strategis]] oleh pemerintah Amerika Serikat. Cadangan besar [[busa logam|spons]] (bentuk logam murni yang berpori) titanium dipelihara oleh Defense National Stockpile Center hingga cadangan tersebut dibubarkan pada tahun 2000-an. Meskipun demikian, pemerintah Amerika Serikat setiap tahun mengalokasikan 15.000metrik ton spons titanium sebagai potensi pengadaan untuk cadangan tersebut.
==Produksi==
==Produksi==
{|class="wikitable floatleft"
|+ Produksi ilmenit dan rutil pada tahun 2024<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref>
! Negara !! ribu <br />ton !! % total
|-
|[[Tiongkok]]||3.300||35,3
|-
|[[Mozambik]]||1.908||20,4
|-
|[[Afrika Selatan]]||1.400||15,0
|-
|[[Australia]]||600||6,4
|-
|[[Norwegia]]||360||3,8
|-
|[[Kanada]]||350||3,7
|-
|[[Senegal]]||300||3,2
|-
|[[Madagaskar]]||240||2,6
|-
|[[India]]||222||2,4
|-
|[[Ukraina]]||130||1,4
|-
|[[Amerika Serikat]]||100||1,1
|-
|[[Sierra Leone]]||60||0,6
|-
|[[Kenya]]||40||0,4
|-
|Negara lain||350||3,7
|-
|'''Dunia'''||'''9.360'''||'''100'''
|}
Produksi titanium secara umum dibagi menjadi tiga kategori yang diukur: pembuatan logam titanium berpori yang disebut "spons" titanium, pigmen titanium oksida, dan konsentrat mineral titanium yang digunakan untuk produksi spons, pigmen, batangan logam, serta produk titanium lainnya seperti pelapis. Konsentrat ini sebagian besar terdiri atas mineral ilmenit, tetapi juga mencakup anatase, rutil alami dan sintetis, [[tailing]], [[terak]], dan [[leukoksen]]. Pada tahun 2024, produsen konsentrat mineral titanium terbesar adalah Tiongkok, Mozambik, dan Afrika Selatan.<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref>


Sebagian besar titanium dunia diproduksi di Tiongkok. Laporan Mineral Commodity Summaries tahun 2025 dari Survei Geologi Amerika Serikat 2025 memperkirakan bahwa dari  spons titanium yang diproduksi di seluruh dunia pada tahun 2024, sebanyak 220.000 metrik ton (69%) diproduksi di Tiongkok. Produsen terbesar kedua adalah [[Jepang]], yang menghasilkan 55.000metrik ton pada tahun yang sama (17% dari total produksi). Jepang merupakan eksportir spons titanium terbesar pada tahun 2024, tetapi tidak memproduksi mineral titanium sendiri.<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref> Laporan sebelumnya pada tahun 2021 mencatat bahwa empat produsen utama spons titanium adalah Tiongkok (52%), Jepang (24%), [[Rusia]] (16%), dan [[Kazakhstan]] (7%).<ref>[https://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/titanium/ Titanium]. ''USGS Minerals Information''. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).</ref> Rusia tetap menjadi produsen spons titanium terbesar ketiga<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref> melalui perusahaan metalurginya, [[VSMPO-AVISMA]], meskipun menghadapi [[sanksi internasional selama invasi Ukraina oleh Rusia|sanksi internasional selama invasi Rusia ke Ukraina]].<ref>Adam Taylor. [https://www.washingtonpost.com/world/2024/03/21/russia-titanium-exports-sanctions/ Two years after start of Ukraine war, Russian titanium keeps flowing to West]. ''The Washington Post''. 21 Maret 2024.</ref> Statistik produksi pigmen titanium dioksida tidak begitu jelas, tetapi perkiraan menunjukkan bahwa kapasitas produksi pigmen global maksimum mencapai  pada tahun 2024.<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref>


Produksi titanium secara umum dibagi menjadi tiga kategori yang diukur: pembuatan logam titanium berpori yang disebut "spons" titanium, pigmen titanium oksida, dan konsentrat mineral titanium yang digunakan untuk produksi spons, pigmen, batangan logam, serta produk titanium lainnya seperti pelapis. Konsentrat ini sebagian besar terdiri atas mineral ilmenit, tetapi juga mencakup anatase, rutil alami dan sintetis, [[tailing]], [[terak]], dan [[leukoksen]]. Pada tahun 2024, produsen konsentrat mineral titanium terbesar adalah Tiongkok, Mozambik, dan Afrika Selatan.
Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengekstraksi dan memurnikan titanium dari bijihnya sejak logam tersebut pertama kali dimurnikan pada tahun 1910.<ref>Hermann Sicius. [https://link.springer.com/10.1007/978-3-662-68921-9_9 Handbook of the Chemical Elements]. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.</ref><ref>Heinz Sibum. ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry''. 2000. doi:10.1002/14356007.a27_095. ISBN 978-3-527-30385-4.</ref>
 
Sebagian besar titanium dunia diproduksi di Tiongkok. Laporan Mineral Commodity Summaries tahun 2025 dari Survei Geologi Amerika Serikat 2025 memperkirakan bahwa dari  spons titanium yang diproduksi di seluruh dunia pada tahun 2024, sebanyak 220.000 metrik ton (69%) diproduksi di Tiongkok. Produsen terbesar kedua adalah [[Jepang]], yang menghasilkan 55.000metrik ton pada tahun yang sama (17% dari total produksi). Jepang merupakan eksportir spons titanium terbesar pada tahun 2024, tetapi tidak memproduksi mineral titanium sendiri. Laporan sebelumnya pada tahun 2021 mencatat bahwa empat produsen utama spons titanium adalah Tiongkok (52%), Jepang (24%), [[Rusia]] (16%), dan [[Kazakhstan]] (7%). Rusia tetap menjadi produsen spons titanium terbesar ketiga melalui perusahaan metalurginya, [[VSMPO-AVISMA]], meskipun menghadapi [[sanksi internasional selama invasi Ukraina oleh Rusia|sanksi internasional selama invasi Rusia ke Ukraina]]. Statistik produksi pigmen titanium dioksida tidak begitu jelas, tetapi perkiraan menunjukkan bahwa kapasitas produksi pigmen global maksimum mencapai  pada tahun 2024.
 
Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengekstraksi dan memurnikan titanium dari bijihnya sejak logam tersebut pertama kali dimurnikan pada tahun 1910.
===Proses pengolahan mineral===
===Proses pengolahan mineral===
 
Beberapa proses telah dikembangkan untuk mengekstraksi titanium dan mineral yang mengandung titanium yang dapat dimanfaatkan dari bijih. [[Proses Becher]] merupakan proses industri yang digunakan untuk menghasilkan rutil sintetis, suatu bentuk titanium dioksida, dari bijih ilmenit dengan menghilangkan besi.<ref>[http://www.chemlink.com.au/titan_rutile.htm Rutile and ilmenite - Australian production and potential profile].</ref> Proses ini tidak digunakan dalam skala besar.<ref>Heinz Sibum. ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry''. 2000. doi:10.1002/14356007.a27_095. ISBN 978-3-527-30385-4.</ref> [[Proses klorida]] menghasilkan titanium tetraklorida melalui pengolahan bijih rutile dengan klorin dan karbon pada suhu tinggi,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> kemudian mengoksidasi produk tersebut menggunakan plasma atau nyala api oksigen untuk menghasilkan titanium dioksida.<ref>Gerhard Auer. ''Pigments, Inorganic, 2. White Pigments''. Wiley-VCH. 2017. hlm. 13. doi:10.1002/14356007.n20_n01.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.</ref> [[Titanium dioksida#Proses sulfat|Proses sulfat]] menggunakan asam sulfat (H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub>) untuk melindi titanium dari bijih ilmenit (FeTiO<sub>3</sub>) sehingga menghasilkan [[titanil sulfat]] (). Sulfat ini diuraikan menjadi dua hidrat,  dan , melalui penambahan air. Air tersebut kemudian dihilangkan dengan pemanasan, menghasilkan titanium dioksida sebagai produk akhir.<ref>[https://www.barbenanalytical.com/-/media/ametekbarbenanalytical/downloads/application_notes/tio2_an_reva.pdf?la=en&revision=eee43ea5-f5e3-4167-af19-4c177cc3dcdd Application Note Titanium Dioxide - Sulfate Process]. Ametek. 2015.</ref>
Beberapa proses telah dikembangkan untuk mengekstraksi titanium dan mineral yang mengandung titanium yang dapat dimanfaatkan dari bijih. [[Proses Becher]] merupakan proses industri yang digunakan untuk menghasilkan rutil sintetis, suatu bentuk titanium dioksida, dari bijih ilmenit dengan menghilangkan besi. Proses ini tidak digunakan dalam skala besar. [[Proses klorida]] menghasilkan titanium tetraklorida melalui pengolahan bijih rutile dengan klorin dan karbon pada suhu tinggi, kemudian mengoksidasi produk tersebut menggunakan plasma atau nyala api oksigen untuk menghasilkan titanium dioksida. [[Titanium dioksida#Proses sulfat|Proses sulfat]] menggunakan asam sulfat (H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub>) untuk melindi titanium dari bijih ilmenit (FeTiO<sub>3</sub>) sehingga menghasilkan [[titanil sulfat]] (). Sulfat ini diuraikan menjadi dua hidrat,  dan , melalui penambahan air. Air tersebut kemudian dihilangkan dengan pemanasan, menghasilkan titanium dioksida sebagai produk akhir.
===Proses pemurnian===
===Proses pemurnian===
====Proses Hunter====
====Proses Hunter====
Proses Hunter merupakan proses industri pertama yang digunakan untuk menghasilkan logam titanium murni. Proses ini ditemukan pada tahun 1910 oleh Matthew A. Hunter, seorang [[kimiawan]] kelahiran Selandia Baru yang bekerja di Amerika Serikat. Proses ini melibatkan reduksi titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>) dengan natrium dalam [[reaktor tumpak]] dengan atmosfer lengai pada suhu 1,000&nbsp;°C. Selanjutnya, asam klorida encer digunakan untuk melindi garam dari produk yang dihasilkan.
Proses Hunter merupakan proses industri pertama yang digunakan untuk menghasilkan logam titanium murni. Proses ini ditemukan pada tahun 1910 oleh Matthew A. Hunter, seorang [[kimiawan]] kelahiran Selandia Baru yang bekerja di Amerika Serikat.<ref>M. A. Hunter. ''Metallic Titanium''. ''J. Am. Chem. Soc''. 1910. Vol. 32 (3). hlm. 330–336. doi:10.1021/ja01921a006.</ref> Proses ini melibatkan reduksi titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>) dengan natrium dalam [[reaktor tumpak]] dengan atmosfer lengai pada suhu 1,000&nbsp;°C. Selanjutnya, asam klorida encer digunakan untuk melindi garam dari produk yang dihasilkan.<ref>Carl Schaschke. [http://www.oxfordreference.com/view/10.1093/acref/9780199651450.001.0001/acref-9780199651450-e-1447 sumber]. Oxford University Press. 2014. doi:10.1093/acref/9780199651450.001.0001. ISBN 978-0-19-965145-0.</ref>
:TiCl<sub>4</sub>(g)  +  4 Na(l)  →  4 NaCl(l)  + Ti(s)
:TiCl<sub>4</sub>(g)  +  4 Na(l)  →  4 NaCl(l)  + Ti(s)
====Proses Kroll====
====Proses Kroll====
Pengolahan logam titanium berlangsung melalui empat tahap utama: reduksi bijih titanium menjadi "spons", yaitu bentuk berpori; peleburan spons, atau spons yang dicampur dengan paduan induk, untuk membentuk batangan; fabrikasi primer, yaitu mengubah batangan menjadi produk gilingan umum seperti [[stok batangan|bilet]], batang, [[Baja struktural|pelat]], [[Logam lembaran|lembaran]], strip, dan [[Tabung (pengaliran fluida)|tabung]]; serta fabrikasi sekunder untuk menghasilkan bentuk akhir dari produk gilingan.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Pengolahan logam titanium berlangsung melalui empat tahap utama: reduksi bijih titanium menjadi "spons", yaitu bentuk berpori; peleburan spons, atau spons yang dicampur dengan paduan induk, untuk membentuk batangan; fabrikasi primer, yaitu mengubah batangan menjadi produk gilingan umum seperti [[stok batangan|bilet]], batang, [[Baja struktural|pelat]], [[Logam lembaran|lembaran]], strip, dan [[Tabung (pengaliran fluida)|tabung]]; serta fabrikasi sekunder untuk menghasilkan bentuk akhir dari produk gilingan.
Karena titanium tidak dapat dengan mudah diproduksi melalui reduksi titanium dioksida,<ref>Albert Stwertka. [https://books.google.com/books?id=K3RWAAAAYAAJ Guide to the Elements]. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.</ref> titanium diperoleh melalui reduksi titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>) dengan logam magnesium dalam proses Kroll. Kompleksitas produksi tumpak dalam proses Kroll menjelaskan nilai pasar titanium yang relatif tinggi,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> meskipun proses Kroll lebih murah daripada proses Hunter.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Untuk menghasilkan TiCl<sub>4</sub> yang diperlukan dalam proses Kroll, titanium dioksida mengalami [[Reaksi karbotermik|reduksi karbotermik]] dengan adanya klorin. Dalam proses ini, gas klorin dialirkan melewati campuran rutil atau ilmenit yang berpijar merah dengan adanya karbon. Setelah melalui pemurnian ekstensif menggunakan [[Penyulingan fraksional|distilasi fraksional]], TiCl<sub>4</sub> direduksi dengan magnesium cair pada suhu  dalam atmosfer [[argon]].<ref>[https://archive.org/details/columbiaencyclop00laga Titanium]. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.</ref>
 
Karena titanium tidak dapat dengan mudah diproduksi melalui reduksi titanium dioksida, titanium diperoleh melalui reduksi titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>) dengan logam magnesium dalam proses Kroll. Kompleksitas produksi tumpak dalam proses Kroll menjelaskan nilai pasar titanium yang relatif tinggi, meskipun proses Kroll lebih murah daripada proses Hunter. Untuk menghasilkan TiCl<sub>4</sub> yang diperlukan dalam proses Kroll, titanium dioksida mengalami [[Reaksi karbotermik|reduksi karbotermik]] dengan adanya klorin. Dalam proses ini, gas klorin dialirkan melewati campuran rutil atau ilmenit yang berpijar merah dengan adanya karbon. Setelah melalui pemurnian ekstensif menggunakan [[Penyulingan fraksional|distilasi fraksional]], TiCl<sub>4</sub> direduksi dengan magnesium cair pada suhu  dalam atmosfer [[argon]].
:<chem>2FeTiO3 + 7Cl2 + 6C ->[900^oC] 2FeCl3 + 2TiCl4 + 6CO</chem>
:<chem>2FeTiO3 + 7Cl2 + 6C ->[900^oC] 2FeCl3 + 2TiCl4 + 6CO</chem>
:<chem>TiCl4 + 2Mg ->[1100^oC] Ti + 2MgCl2</chem>
:<chem>TiCl4 + 2Mg ->[1100^oC] Ti + 2MgCl2</chem>
====Proses van Arkel–de Boer====
====Proses van Arkel–de Boer====
Proses van Arkel–de Boer merupakan proses semindustrI pertama yang dikembangkan untuk menghasilkan titanium murni. Proses ini ditemukan oleh Anton E. van Arkel dan Jan H. de Boer pada tahun 1925 untuk perusahaan elektronik [[Philips]]. Proses ini merupakan sistem tertutup yang melibatkan dekomposisi termal [[titanium tetraiodida]]. Proses yang sama digunakan untuk memurnikan logam lain, seperti [[torium]], [[hafnium]], dan [[zirkonium]], sedangkan proses serupa yang menggunakan iodida yang lebih dimurnikan digunakan untuk memurnikan [[kromium]]. Keinginan untuk mengembangkan proses yang dapat dijalankan secara kontinu mendorong pengembangan proses komersial untuk memurnikan titanium.
Proses van Arkel–de Boer merupakan proses semindustrI pertama yang dikembangkan untuk menghasilkan titanium murni. Proses ini ditemukan oleh Anton E. van Arkel dan Jan H. de Boer pada tahun 1925 untuk perusahaan elektronik [[Philips]].<ref>Michael Binnewies. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/zaac.201210009 The Iodide Process – a Key to many Divisions of Modern Technology]. ''Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie''. 2012. Vol. 638 (6). hlm. 891–893. doi:10.1002/zaac.201210009.</ref> Proses ini merupakan sistem tertutup<ref>U. S. Atomic Energy Commission. [https://books.google.com/books?id=dqKgCIbq7hEC The Metallurgy of Hafnium]. Naval Reactors, Division of Reactor Development, U.S. Atomic Energy Commission. 1960. hlm. 109.</ref> yang melibatkan dekomposisi termal [[titanium tetraiodida]].<ref>Terkel Rosenqvist. [https://books.google.com/books?id=I2mg2ine4AEC Principles of Extractive Metallurgy]. Tapir Academic Press. 2004. hlm. 393–395. ISBN 978-82-519-1922-7.</ref> Proses yang sama digunakan untuk memurnikan logam lain, seperti [[torium]], [[hafnium]], dan [[zirkonium]],<ref>Michael Binnewies. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/zaac.201210009 The Iodide Process – a Key to many Divisions of Modern Technology]. ''Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie''. 2012. Vol. 638 (6). hlm. 891–893. doi:10.1002/zaac.201210009.</ref> sedangkan proses serupa yang menggunakan iodida yang lebih dimurnikan digunakan untuk memurnikan [[kromium]]. Keinginan untuk mengembangkan proses yang dapat dijalankan secara kontinu mendorong pengembangan proses komersial untuk memurnikan titanium.<ref>U. S. Atomic Energy Commission. [https://books.google.com/books?id=dqKgCIbq7hEC The Metallurgy of Hafnium]. Naval Reactors, Division of Reactor Development, U.S. Atomic Energy Commission. 1960. hlm. 109.</ref>
====Proses Armstrong====
====Proses Armstrong====
[[Serbuk titanium]] diproduksi menggunakan proses [[produksi massal|produksi kontinu]] yang dikenal sebagai [[proses Armstrong]], yang serupa dengan proses produksi tumpak Hunter. Aliran gas titanium tetraklorida ditambahkan ke aliran natrium cair; produk yang dihasilkan (garam [[natrium klorida]] dan partikel titanium) kemudian disaring dari kelebihan natrium. Titanium selanjutnya dipisahkan dari garam melalui pencucian dengan air. Natrium dan klorin kemudian didaur ulang untuk menghasilkan dan memproses lebih banyak titanium tetraklorida.
[[Serbuk titanium]] diproduksi menggunakan proses [[produksi massal|produksi kontinu]] yang dikenal sebagai [[proses Armstrong]],<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> yang serupa dengan proses produksi tumpak Hunter. Aliran gas titanium tetraklorida ditambahkan ke aliran natrium cair; produk yang dihasilkan (garam [[natrium klorida]] dan partikel titanium) kemudian disaring dari kelebihan natrium. Titanium selanjutnya dipisahkan dari garam melalui pencucian dengan air. Natrium dan klorin kemudian didaur ulang untuk menghasilkan dan memproses lebih banyak titanium tetraklorida.<ref>[http://www.essentialchemicalindustry.org/metals/titanium.html Titanium]. ''The Essential Chemical Industry online''. Universitas York. 15 Januari 2015.</ref>
====Proses lain====
====Proses lain====
Titanium tetraklorida yang digunakan sebagai zat antara dalam proses Hunter dan Kroll merupakan cairan volatil dan korosif, sehingga berbahaya untuk ditangani. Proses yang melibatkan tetraklorida, baik pembentukannya maupun proses distilasi vakum yang digunakan untuk memurnikan produk akhir, berlangsung lambat dan telah mendorong pengembangan teknik-teknik lainnya.
Titanium tetraklorida yang digunakan sebagai zat antara dalam proses Hunter dan Kroll merupakan cairan volatil dan korosif, sehingga berbahaya untuk ditangani. Proses yang melibatkan tetraklorida, baik pembentukannya maupun proses distilasi vakum yang digunakan untuk memurnikan produk akhir, berlangsung lambat dan telah mendorong pengembangan teknik-teknik lainnya.<ref>Harvey M. Flower. [https://archive.org/details/sim_nature-uk_2000-09-21_407_6802/page/305 Materials Science: A moving oxygen story]. ''Nature''. 2000. Vol. 407 (6802). hlm. 305–306. doi:10.1038/35030266.</ref>


Metode produksi [[elektrolit]]ik logam titanium dari  menggunakan elektrolit garam cair telah diusulkan sejak tahun 1990-an dan telah diteliti serta diuji pada skala laboratorium dan pabrik percontohan kecil. Meskipun beberapa logam seperti [[nikel]] dan [[tembaga]] dapat dimurnikan melalui [[elektrowining]] pada suhu kamar, titanium harus berada dalam keadaan cair, yang kemungkinan dapat merusak lapisan [[refraktori|tahan api]] pada bejana reaksi. Zhang dan rekan-rekannya menyimpulkan pada tahun 2017 bahwa meskipun industri berminat menemukan cara baru untuk memproduksi logam titanium, belum ada metode yang berhasil dikembangkan untuk menggantikan proses Kroll secara komersial. Salah satu produsen di Virginia telah mengembangkan metode untuk mendaur ulang skrap logam titanium menjadi serbuk, tetapi skalanya masih kecil; pada tahun 2025, perusahaan tersebut menargetkan produksi hanya 125&nbsp;ton titanium per tahun.
Metode produksi [[elektrolit]]ik logam titanium dari  menggunakan elektrolit garam cair telah diusulkan sejak tahun 1990-an<ref>Harvey M. Flower. [https://archive.org/details/sim_nature-uk_2000-09-21_407_6802/page/305 Materials Science: A moving oxygen story]. ''Nature''. 2000. Vol. 407 (6802). hlm. 305–306. doi:10.1038/35030266.</ref> dan telah diteliti serta diuji pada skala laboratorium dan pabrik percontohan kecil.<ref>Derek Fray. ''Aspects of the Application of Electrochemistry to the Extraction of Titanium and Its Applications''. ''Materials Transactions''. 2017. Vol. 58 (3). hlm. 306–312. doi:10.2320/matertrans.MK201619.</ref> Meskipun beberapa logam seperti [[nikel]] dan [[tembaga]] dapat dimurnikan melalui [[elektrowining]] pada suhu kamar, titanium harus berada dalam keadaan cair, yang kemungkinan dapat merusak lapisan [[refraktori|tahan api]] pada bejana reaksi.<ref>Mohammad Shamsuddin. ''Role of electrochemical processes in the extraction of metals and alloys – a review''. ''Mineral Processing and Extractive Metallurgy: Transactions of the Institutions of Mining and Metallurgy''. 2023. Vol. 132 (3–4). hlm. 193–209. doi:10.1080/25726641.2023.2255368.</ref> Zhang dan rekan-rekannya menyimpulkan pada tahun 2017 bahwa meskipun industri berminat menemukan cara baru untuk memproduksi logam titanium, belum ada metode yang berhasil dikembangkan untuk menggantikan proses Kroll secara komersial.<ref>Ying Zhang. ''A Perspective on Thermochemical and Electrochemical Processes for Titanium Metal Production''. ''JOM''. 2017. Vol. 69 (10). hlm. 1861–1868. doi:10.1007/s11837-017-2481-9.</ref> Salah satu produsen di Virginia telah mengembangkan metode untuk mendaur ulang skrap logam titanium menjadi serbuk, tetapi skalanya masih kecil; pada tahun 2025, perusahaan tersebut menargetkan produksi hanya 125&nbsp;ton titanium per tahun.<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf#page=190 Titanium and titanium dioxide]. Maret 2025.</ref>


Salah satu metode yang dikembangkan untuk berpotensi menggantikan proses Kroll dikenal sebagai [[reduksi magnesiotermik berbantuan hidrogen]]. Metode ini menggunakan magnesium, asam klorida, dan atmosfer [[hidrogen]] untuk secara langsung mereduksi titanium dioksida menjadi titanium murni. Reduksi serbuk titanium dioksida oleh magnesium dalam atmosfer hidrogen dapat diikuti dengan tahap pelindian menggunakan asam klorida, yang menghilangkan magnesium dan sisa oksida non-titanium. Selanjutnya dilakukan tahap reduksi dan pelindian tambahan, yang pada akhirnya menghasilkan serbuk titanium murni atau [[titanium hidrida]].
Salah satu metode yang dikembangkan untuk berpotensi menggantikan proses Kroll dikenal sebagai [[reduksi magnesiotermik berbantuan hidrogen]]. Metode ini menggunakan magnesium, asam klorida, dan atmosfer [[hidrogen]] untuk secara langsung mereduksi titanium dioksida menjadi titanium murni. Reduksi serbuk titanium dioksida oleh magnesium dalam atmosfer hidrogen dapat diikuti dengan tahap pelindian menggunakan asam klorida, yang menghilangkan magnesium dan sisa oksida non-titanium. Selanjutnya dilakukan tahap reduksi dan pelindian tambahan, yang pada akhirnya menghasilkan serbuk titanium murni atau [[titanium hidrida]].<ref>Hyrum Lefler. [https://link.springer.com/10.1007/s11663-018-1399-0 Mechanisms of Hydrogen-Assisted Magnesiothermic Reduction of TiO2]. ''Metallurgical and Materials Transactions B''. 2018. Vol. 49 (6). hlm. 2998–3006. doi:10.1007/s11663-018-1399-0.</ref>
===Fabrikasi===
===Fabrikasi===
Semua [[las|pengelasan]] titanium harus dilakukan dalam atmosfer lengai berupa argon atau [[helium]] untuk melindunginya dari kontaminasi gas atmosfer (oksigen, nitrogen, dan hidrogen). Kontaminasi menyebabkan berbagai kondisi, seperti kerapuhan, yang mengurangi integritas sambungan las dan dapat menyebabkan kegagalan sambungan.
Semua [[las|pengelasan]] titanium harus dilakukan dalam atmosfer lengai berupa argon atau [[helium]] untuk melindunginya dari kontaminasi gas atmosfer (oksigen, nitrogen, dan hidrogen).<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Kontaminasi menyebabkan berbagai kondisi, seperti kerapuhan, yang mengurangi integritas sambungan las dan dapat menyebabkan kegagalan sambungan.<ref>Engel, Abraham L. ''Arc-welding Titanium''. U.S. Department of the Interior, Bureau of Mines. 1955.</ref>


Titanium sangat sulit di[[solder]] secara langsung, sehingga logam atau paduan yang dapat disolder, seperti baja, dilapiskan pada titanium sebelum proses penyolderan. Logam titanium dapat dikerjakan dengan mesin menggunakan peralatan dan proses yang sama seperti yang digunakan untuk [[baja nirkarat]].
Titanium sangat sulit di[[solder]] secara langsung, sehingga logam atau paduan yang dapat disolder, seperti baja, dilapiskan pada titanium sebelum proses penyolderan.<ref>Lewis, W.J. [https://books.google.com/books?id=316b7CW_HOMC&dq=Titanium+soldering&pg=PA2 Report on Brazing and Soldering of Titanium]. Titanium Metallurgical Laboratory, Battelle Memorial Institute. 1956.</ref> Logam titanium dapat dikerjakan dengan mesin menggunakan peralatan dan proses yang sama seperti yang digunakan untuk [[baja nirkarat]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
====Paduan titanium====
====Paduan titanium====
Paduan titanium yang umum dibuat melalui proses reduksi. Sebagai contoh, kuprotitanium (rutil yang ditambahkan tembaga), ferokarbon titanium (ilmenit yang direduksi dengan [[kokas]] dalam tanur listrik), dan manganotitanium (rutil yang ditambahkan [[mangan]] atau oksida mangan) dibuat melalui proses reduksi.<ref>[http://encarta.msn.com/encyclopedia_761569280/Titanium.html Titanium]. 2005.</ref>


Sekitar 50 jenis paduan titanium telah dirancang dan saat ini digunakan, meskipun hanya sekitar dua lusin yang tersedia secara komersial.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> [[American Standard Testing and Material|ASTM International]] mengakui 31 jenis logam dan paduan titanium, yang empat di antaranya, yaitu ''grade'' 1 hingga 4, merupakan titanium murni komersial (tanpa paduan). Keempat ''grade'' tersebut berbeda dalam kekuatan tariknya sebagai fungsi dari kandungan oksigen. ''Grade'' 1 merupakan yang paling ulet (kekuatan tarik terendah, dengan kandungan oksigen 0,18%), sedangkan ''grade'' 4 merupakan yang paling tidak ulet (kekuatan tarik tertinggi, dengan kandungan oksigen 0,40%).<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> ''Grade'' lainnya merupakan paduan yang masing-masing dirancang untuk memiliki sifat tertentu, seperti keuletan, kekuatan, kekerasan, resistivitas listrik, ketahanan terhadap rayapan (''creep''), ketahanan korosi tertentu, serta berbagai kombinasi sifat tersebut.<ref>[https://books.google.com/books?id=yCGIPQAACAAJ Annual Book of ASTM Standards]. ASTM International. 2006. ISBN 978-0-8031-4086-8. ''Annual Book of ASTM Standards''. ASTM International. 1998. ISBN 978-0-8031-2452-3.</ref>


Paduan titanium yang umum dibuat melalui proses reduksi. Sebagai contoh, kuprotitanium (rutil yang ditambahkan tembaga), ferokarbon titanium (ilmenit yang direduksi dengan [[kokas]] dalam tanur listrik), dan manganotitanium (rutil yang ditambahkan [[mangan]] atau oksida mangan) dibuat melalui proses reduksi.
Selain memenuhi spesifikasi ASTM, paduan titanium juga diproduksi untuk memenuhi spesifikasi kedirgantaraan dan militer (SAE-AMS, MIL-T), standar ISO, spesifikasi khusus masing-masing negara, serta spesifikasi khusus pengguna akhir untuk aplikasi kedirgantaraan, militer, medis, dan industri.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
 
Sekitar 50 jenis paduan titanium telah dirancang dan saat ini digunakan, meskipun hanya sekitar dua lusin yang tersedia secara komersial. [[American Standard Testing and Material|ASTM International]] mengakui 31 jenis logam dan paduan titanium, yang empat di antaranya, yaitu ''grade'' 1 hingga 4, merupakan titanium murni komersial (tanpa paduan). Keempat ''grade'' tersebut berbeda dalam kekuatan tariknya sebagai fungsi dari kandungan oksigen. ''Grade'' 1 merupakan yang paling ulet (kekuatan tarik terendah, dengan kandungan oksigen 0,18%), sedangkan ''grade'' 4 merupakan yang paling tidak ulet (kekuatan tarik tertinggi, dengan kandungan oksigen 0,40%). ''Grade'' lainnya merupakan paduan yang masing-masing dirancang untuk memiliki sifat tertentu, seperti keuletan, kekuatan, kekerasan, resistivitas listrik, ketahanan terhadap rayapan (''creep''), ketahanan korosi tertentu, serta berbagai kombinasi sifat tersebut.
 
Selain memenuhi spesifikasi ASTM, paduan titanium juga diproduksi untuk memenuhi spesifikasi kedirgantaraan dan militer (SAE-AMS, MIL-T), standar ISO, spesifikasi khusus masing-masing negara, serta spesifikasi khusus pengguna akhir untuk aplikasi kedirgantaraan, militer, medis, dan industri.
====Pembentukan dan penempaan====
====Pembentukan dan penempaan====
Produk datar titanium murni komersial (lembaran, pelat) dapat dibentuk dengan mudah, tetapi prosesnya harus mempertimbangkan kecenderungan logam untuk mengalami ''[[Pembengkokan logam|springback]]'' (kembali sebagian ke bentuk semula setelah gaya pembentukan dilepaskan). Hal ini terutama berlaku pada paduan berkekuatan tinggi tertentu. Paparan oksigen di udara pada suhu tinggi yang digunakan dalam proses penempaan menyebabkan terbentuknya lapisan permukaan logam kaya oksigen yang rapuh. Lapisan ini memperburuk sifat kelelahan material sehingga harus dihilangkan melalui penggilingan, etsa, atau perlakuan elektrokimia. Pengerjaan titanium dapat mencakup [[pengelasan gesek]], [[penempaan kriogenik]], dan [[peleburan ulang busur vakum]].
Produk datar titanium murni komersial (lembaran, pelat) dapat dibentuk dengan mudah, tetapi prosesnya harus mempertimbangkan kecenderungan logam untuk mengalami ''[[Pembengkokan logam|springback]]'' (kembali sebagian ke bentuk semula setelah gaya pembentukan dilepaskan). Hal ini terutama berlaku pada paduan berkekuatan tinggi tertentu.<ref>[http://pdfcast.org/pdf/titanium-design-and-fabrication-handbook-for-industrial-applications AWS G2.4/G2.4M:2007 Guide for the Fusion Welding of Titanium and Titanium Alloys]. American Welding Society. 2006.</ref><ref>[http://www.timet.com/design%26fabframe.html Titanium design and fabrication handbook for industrial applications]. Titanium Metals Corporation. 1997.</ref> Paparan oksigen di udara pada suhu tinggi yang digunakan dalam proses penempaan menyebabkan terbentuknya lapisan permukaan logam kaya oksigen yang rapuh. Lapisan ini memperburuk sifat kelelahan material sehingga harus dihilangkan melalui penggilingan, etsa, atau perlakuan elektrokimia.<ref>George Z. Chen. [https://link.springer.com/article/10.1007/s11663-001-0093-8 Cathodic deoxygenation of the alpha case on titanium and alloys in molten calcium chloride]. ''Metall. Mater. Trans. B''. 2001. Vol. 32 (6). hlm. 1041–1052. doi:10.1007/s11663-001-0093-8.</ref> Pengerjaan titanium dapat mencakup [[pengelasan gesek]],<ref>[https://www.mtiwelding.com/blog/linear-friction-welding-a-solution-for-titanium-forgings/ Linear Friction Welding: A Solution for Titanium Forgings]. ''Mtiwelding.com''. 28 Agustus 2023.</ref> [[penempaan kriogenik]],<ref>[https://www.machinedesign.com/materials/article/21179098/ultra-cold-forging-makes-titanium-strong-and-ductile Ultra-Cold Forging Makes Titanium Strong and Ductile]. 21 Oktober 2021.</ref> dan [[peleburan ulang busur vakum]].<ref>E. Karimi-Sibaki. [https://link.springer.com/10.1007/s11663-019-01719-5 A Parametric Study of the Vacuum Arc Remelting (VAR) Process: Effects of Arc Radius, Side-Arcing, and Gas Cooling]. ''Metallurgical and Materials Transactions B''. 2020. Vol. 51 (1). hlm. 222–235. doi:10.1007/s11663-019-01719-5.</ref>
==Aplikasi==
==Aplikasi==
 
Titanium digunakan dalam baja sebagai unsur paduan ([[ferotitanium]]) untuk memperkecil [[kristalit|ukuran butir]] dan sebagai [[Deoksidasi|deoksidator]], serta dalam baja nirkarat untuk mengurangi kandungan karbon.<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> Titanium sering dipadukan dengan aluminium (untuk memperhalus ukuran butir), vanadium, tembaga (untuk meningkatkan kekerasan), besi, mangan, molibdenum, dan logam lainnya.<ref>Clifford A. Hampel. ''The Encyclopedia of the Chemical Elements''. Van Nostrand Reinhold. 1968. hlm. 738. ISBN 978-0-442-15598-8.</ref> Produk titanium hasil pengerolan, seperti lembaran, pelat, batang, kawat, produk tempa, dan produk cor, digunakan dalam berbagai aplikasi industri, kedirgantaraan, rekreasi, dan pasar yang sedang berkembang. Serbuk titanium digunakan dalam [[piroteknik]] sebagai sumber partikel yang menghasilkan nyala terang.<ref>Mocella, Chris. ''Chemistry of Pyrotechnics''. CRC Press. 2019. hlm. 86. ISBN 978-1-351-62656-9.</ref>
Titanium digunakan dalam baja sebagai unsur paduan ([[ferotitanium]]) untuk memperkecil [[kristalit|ukuran butir]] dan sebagai [[Deoksidasi|deoksidator]], serta dalam baja nirkarat untuk mengurangi kandungan karbon. Titanium sering dipadukan dengan aluminium (untuk memperhalus ukuran butir), vanadium, tembaga (untuk meningkatkan kekerasan), besi, mangan, molibdenum, dan logam lainnya. Produk titanium hasil pengerolan, seperti lembaran, pelat, batang, kawat, produk tempa, dan produk cor, digunakan dalam berbagai aplikasi industri, kedirgantaraan, rekreasi, dan pasar yang sedang berkembang. Serbuk titanium digunakan dalam [[piroteknik]] sebagai sumber partikel yang menghasilkan nyala terang.
===Pigmen, aditif, dan pelapis===
===Pigmen, aditif, dan pelapis===
Titanium dioksida () merupakan senyawa titanium yang paling umum digunakan dan menjadi produk akhir dari sekitar 95% titanium yang dimurnikan di dunia. Senyawa ini merupakan [[pigmen]] putih yang digunakan secara luas.<ref>[https://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/titanium/ Titanium]. ''USGS Minerals Information''. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).</ref>  juga digunakan dalam semen, batu permata, serta sebagai opasifier optik pada kertas.<ref>Gary A. Smook. [https://books.google.com/books?id=TgtFPgAACAAJ Handbook for Pulp & Paper Technologists]. Angus Wilde Publications. 2002. hlm. 223. ISBN 978-0-9694628-5-9.</ref>


Titanium dioksida () merupakan senyawa titanium yang paling umum digunakan dan menjadi produk akhir dari sekitar 95% titanium yang dimurnikan di dunia. Senyawa ini merupakan [[pigmen]] putih yang digunakan secara luas.  juga digunakan dalam semen, batu permata, serta sebagai opasifier optik pada kertas.
Pigmen  bersifat lengai secara kimia, tahan terhadap pemudaran akibat sinar matahari, dan sangat opak. Senyawa ini memberikan warna putih yang murni dan cemerlang pada bahan kimia berwarna cokelat atau abu-abu yang membentuk sebagian besar plastik rumah tangga.<ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> Di alam, senyawa ini ditemukan dalam mineral anatase, brookit, dan rutil.<ref>[http://www.britannica.com/eb/article-9072643/titanium Titanium]. 2006.</ref> Cat yang mengandung  memiliki ketahanan yang baik terhadap suhu ekstrem dan lingkungan laut.<ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> murni memiliki [[indeks bias]] yang sangat tinggi dan [[dispersi|dispersi optik]] yang lebih tinggi daripada [[intan]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> digunakan dalam [[tabir surya]] karena dapat memantulkan dan menyerap [[ultraungu|sinar UV]].<ref>Albert Stwertka. [https://books.google.com/books?id=K3RWAAAAYAAJ Guide to the Elements]. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.</ref>
 
Pigmen  bersifat lengai secara kimia, tahan terhadap pemudaran akibat sinar matahari, dan sangat opak. Senyawa ini memberikan warna putih yang murni dan cemerlang pada bahan kimia berwarna cokelat atau abu-abu yang membentuk sebagian besar plastik rumah tangga. Di alam, senyawa ini ditemukan dalam mineral anatase, brookit, dan rutil. Cat yang mengandung  memiliki ketahanan yang baik terhadap suhu ekstrem dan lingkungan laut.  murni memiliki [[indeks bias]] yang sangat tinggi dan [[dispersi|dispersi optik]] yang lebih tinggi daripada [[intan]].  digunakan dalam [[tabir surya]] karena dapat memantulkan dan menyerap [[ultraungu|sinar UV]].
===Kedirgantaraan dan kelautan===
===Kedirgantaraan dan kelautan===
Karena paduan titanium memiliki rasio [[kekuatan tarik]] terhadap densitas yang tinggi,<ref>[https://archive.org/details/columbiaencyclop00laga Titanium]. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.</ref> [[Korosi#Ketahanan terhadap korosi|ketahanan korosi]] yang tinggi,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> ketahanan terhadap kelelahan, ketahanan terhadap retak,<ref>Valentin N. Moiseyev. [https://books.google.com/books?id=legtmQEACAAJ Titanium Alloys: Russian Aircraft and Aerospace Applications]. Taylor and Francis, LLC. 2006. hlm. 196. ISBN 978-0-8493-3273-9.</ref> serta kemampuan menahan suhu yang cukup tinggi tanpa mengalami rayapan, paduan ini digunakan dalam pesawat udara, lapisan pelindung, kapal angkatan laut, wantariksa, dan rudal.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> Untuk aplikasi tersebut, titanium dipadukan dengan aluminium, zirkonium, nikel,<ref>Kramer, Andrew E. [https://www.nytimes.com/2013/07/06/business/global/titanium-fills-vital-role-for-boeing-and-russia.html Titanium Fills Vital Role for Boeing and Russia]. ''The New York Times''. 5 Juli 2013.</ref> vanadium, dan unsur lainnya untuk membuat berbagai komponen, termasuk bagian struktur kritis, [[roda pendaratan]], [[tembok api (mesin)|sekat tahan api]], saluran pembuangan (pada helikopter), dan sistem hidraulik. Sekitar dua pertiga dari seluruh logam titanium yang diproduksi digunakan pada rangka dan mesin pesawat.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Paduan [[paduan titanium|titanium 6AL-4V]] mencakup hampir 50% dari seluruh paduan yang digunakan dalam aplikasi pesawat.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Karena paduan titanium memiliki rasio [[kekuatan tarik]] terhadap densitas yang tinggi, [[Korosi#Ketahanan terhadap korosi|ketahanan korosi]] yang tinggi, ketahanan terhadap kelelahan, ketahanan terhadap retak, serta kemampuan menahan suhu yang cukup tinggi tanpa mengalami rayapan, paduan ini digunakan dalam pesawat udara, lapisan pelindung, kapal angkatan laut, wantariksa, dan rudal. Untuk aplikasi tersebut, titanium dipadukan dengan aluminium, zirkonium, nikel, vanadium, dan unsur lainnya untuk membuat berbagai komponen, termasuk bagian struktur kritis, [[roda pendaratan]], [[tembok api (mesin)|sekat tahan api]], saluran pembuangan (pada helikopter), dan sistem hidraulik. Sekitar dua pertiga dari seluruh logam titanium yang diproduksi digunakan pada rangka dan mesin pesawat. Paduan [[paduan titanium|titanium 6AL-4V]] mencakup hampir 50% dari seluruh paduan yang digunakan dalam aplikasi pesawat.
Lockheed A-12 dan SR-71 "Blackbird" merupakan dua pesawat pertama yang menggunakan titanium pada rangkanya. Penggunaan ini membuka jalan bagi pemanfaatan titanium yang jauh lebih luas pada pesawat militer dan komersial modern. Sejumlah besar produk titanium hasil pengerolan digunakan dalam produksi berbagai pesawat, misalnya (angka berikut merupakan jumlah bahan baku produk hasil pengerolan yang digunakan; hanya sebagian yang akhirnya menjadi bagian dari pesawat jadi): 116&nbsp;ton digunakan pada [[Boeing 787]], 77&nbsp;ton pada [[Airbus A380]], 59&nbsp;ton pada [[Boeing 777]], 45&nbsp;ton pada [[Boeing 747]], 32&nbsp;ton pada [[Airbus A340]], 18&nbsp;ton pada [[Boeing 737]], 18&nbsp;ton pada [[Airbus A330]], dan 12&nbsp;ton pada [[Airbus A320]].<ref>''Titanium Physical Metallurgy, Processing, and Applications''. ASM International. 2015. hlm. 7. ISBN 978-1-62708-080-4.</ref> Dalam aplikasi mesin pesawat, titanium digunakan untuk rotor, bilah kompresor, komponen sistem hidraulik, dan [[nasel]].<ref>[https://titaniumthemetal.org/blog/titanium-in-aerospace/ Titanium in Aerospace – Titanium]. 10 April 2024.</ref><ref>[https://www.lb7.uscourts.gov/documents/13cr5152.pdf Titanium Metal (Ti) / Sponge / Titanium Powder]. ''Lb7.uscourts.gov''.</ref> Salah satu penggunaan awal titanium pada mesin jet adalah pada [[Orenda Iroquois]] pada tahun 1950-an.<ref>[https://books.google.com/books?id=nYRXELgG2MoC Flight]. IPC Transport Press Limited. 1958. Vol. 73. hlm. 864.</ref><ref>[https://www.flightglobal.com/pdfarchive/view/1957/1957%20-%201324.html Iroquois]. ''Flight Global (archive)''. 1957. hlm. 412.</ref><ref>Bill Gunston. [https://books.google.com/books?id=DrM7AwAAQBAJ Night Fighters: A Development and Combat History: A Development and Combat History]. The History Press. 15 Januari 2004. ISBN 978-0-7524-9512-5.</ref>


Lockheed A-12 dan SR-71 "Blackbird" merupakan dua pesawat pertama yang menggunakan titanium pada rangkanya. Penggunaan ini membuka jalan bagi pemanfaatan titanium yang jauh lebih luas pada pesawat militer dan komersial modern. Sejumlah besar produk titanium hasil pengerolan digunakan dalam produksi berbagai pesawat, misalnya (angka berikut merupakan jumlah bahan baku produk hasil pengerolan yang digunakan; hanya sebagian yang akhirnya menjadi bagian dari pesawat jadi): 116&nbsp;ton digunakan pada [[Boeing 787]], 77&nbsp;ton pada [[Airbus A380]], 59&nbsp;ton pada [[Boeing 777]], 45&nbsp;ton pada [[Boeing 747]], 32&nbsp;ton pada [[Airbus A340]], 18&nbsp;ton pada [[Boeing 737]], 18&nbsp;ton pada [[Airbus A330]], dan 12&nbsp;ton pada [[Airbus A320]]. Dalam aplikasi mesin pesawat, titanium digunakan untuk rotor, bilah kompresor, komponen sistem hidraulik, dan [[nasel]]. Salah satu penggunaan awal titanium pada mesin jet adalah pada [[Orenda Iroquois]] pada tahun 1950-an.
Karena titanium tahan terhadap korosi oleh air laut, titanium digunakan untuk membuat poros baling-baling, tali-temali, [[penukar panas]] pada instalasi desalinasi,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> pemanas-pendingin untuk akuarium air asin, [[senar pancing|senar]] dan ''leader'' pancing, serta pisau penyelam. Titanium juga digunakan pada rumah dan komponen perangkat pengawasan dan pemantauan yang ditempatkan di laut untuk keperluan ilmiah dan militer. [[Uni Soviet]] mengembangkan teknik untuk membuat kapal selam dengan [[lambung kapal|lambung]] dari paduan titanium,<ref>[https://www.cia.gov/resources/csi/static/the-ALFA-SSN.pdf Unravelling a Cold War Mystery]. ''CIA''. 2007.</ref> dengan menempa titanium dalam tabung vakum berukuran sangat besar.<ref>Kramer, Andrew E. [https://www.nytimes.com/2013/07/06/business/global/titanium-fills-vital-role-for-boeing-and-russia.html Titanium Fills Vital Role for Boeing and Russia]. ''The New York Times''. 5 Juli 2013.</ref>
 
Karena titanium tahan terhadap korosi oleh air laut, titanium digunakan untuk membuat poros baling-baling, tali-temali, [[penukar panas]] pada instalasi desalinasi, pemanas-pendingin untuk akuarium air asin, [[senar pancing|senar]] dan ''leader'' pancing, serta pisau penyelam. Titanium juga digunakan pada rumah dan komponen perangkat pengawasan dan pemantauan yang ditempatkan di laut untuk keperluan ilmiah dan militer. [[Uni Soviet]] mengembangkan teknik untuk membuat kapal selam dengan [[lambung kapal|lambung]] dari paduan titanium, dengan menempa titanium dalam tabung vakum berukuran sangat besar.
===Industri===
===Industri===
Pipa titanium yang dilas dan peralatan proses (seperti penukar panas, tangki, bejana proses, dan katup) digunakan dalam industri kimia dan petrokimia terutama karena ketahanannya terhadap korosi. Paduan tertentu digunakan dalam aplikasi sumur bawah tanah minyak dan gas serta [[hidrometalurgi]] nikel karena kekuatannya yang tinggi (misalnya paduan titanium beta C), ketahanan korosi, atau keduanya. [[Industri pulp dan kertas|Industri ''pulp'' dan kertas]] menggunakan titanium dalam peralatan proses yang terpapar media korosif, seperti [[natrium hipoklorit]] atau gas klorin basah di bagian pemutihan. Titanium juga digunakan sebagai target ''sputtering''.
Pipa titanium yang dilas dan peralatan proses (seperti penukar panas, tangki, bejana proses, dan katup) digunakan dalam industri kimia dan petrokimia terutama karena ketahanannya terhadap korosi. Paduan tertentu digunakan dalam aplikasi sumur bawah tanah minyak dan gas serta [[hidrometalurgi]] nikel karena kekuatannya yang tinggi (misalnya paduan titanium beta C), ketahanan korosi, atau keduanya. [[Industri pulp dan kertas|Industri ''pulp'' dan kertas]] menggunakan titanium dalam peralatan proses yang terpapar media korosif, seperti [[natrium hipoklorit]] atau gas klorin basah di bagian pemutihan.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Titanium juga digunakan sebagai target ''sputtering''.<ref>[https://books.google.com/books?id=daamnz8el2sC&pg=PA413 Handbook of Hard Coatings]. William Andrew Inc. 2001. hlm. 411–419. ISBN 978-0-8155-1438-1.</ref>


Serbuk titanium berfungsi sebagai [[penangkap]] non-evaporatif, yaitu salah satu dari beberapa bahan reaktif terhadap gas yang digunakan untuk menghilangkan gas dari sistem [[vakum ultratinggi|ultravakum]]. Aplikasi ini diwujudkan dalam [[pompa sublimasi titanium]] yang pertama kali digunakan pada tahun 1961, meskipun logam titanium telah lebih dahulu digunakan dalam sistem vakum untuk mencegah ruang mengalami oksidasi, dalam rancangan yang dibuat oleh [[Raymond Herb|Raymond G. Herb]] pada tahun 1953.
Serbuk titanium berfungsi sebagai [[penangkap]] non-evaporatif, yaitu salah satu dari beberapa bahan reaktif terhadap gas yang digunakan untuk menghilangkan gas dari sistem [[vakum ultratinggi|ultravakum]].<ref>A. A. Krasnov. [https://link.springer.com/10.3103/S1062873822701726 Lumped Ultra-High Vacuum Pumps Based on Non-Evaporable Getters]. ''Bulletin of the Russian Academy of Sciences: Physics''. 2023. Vol. 87 (5). hlm. 568–572. doi:10.3103/S1062873822701726.</ref> Aplikasi ini diwujudkan dalam [[pompa sublimasi titanium]]<ref>Ak Gupta. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/0042207X75916541 An evaluation of the titanium sublimation pump]. ''Vacuum''. 1975. Vol. 25 (8). hlm. 362–372. doi:10.1016/0042-207X(75)91654-1.</ref> yang pertama kali digunakan pada tahun 1961,<ref>Kimo M. Welch. [https://www.agsrhichome.bnl.gov/RHIC/RAP/rhic_notes/AD-RHIC-1-142/AD-RHIC-126.pdf Some Important Developments in Capture Pumping Technology in the Last Forty Years]. Laboratorium Nasional Brookhaven. Desember 1993.</ref> meskipun logam titanium telah lebih dahulu digunakan dalam sistem vakum untuk mencegah ruang mengalami oksidasi, dalam rancangan yang dibuat oleh [[Raymond Herb|Raymond G. Herb]] pada tahun 1953.<ref>John Buie. [https://www.labmanager.com/evolution-of-the-laboratory-vacuum-pump-19365 Evolution Of The Laboratory Vacuum Pump]. ''Lab Manager''.</ref>


Titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>), suatu cairan tidak berwarna, merupakan zat antara penting dalam proses pembuatan TiO<sub>2</sub> dan juga digunakan untuk menghasilkan katalis Ziegler–Natta. Titanium tetraklorida juga digunakan untuk menghasilkan efek [[iridesensi]] pada kaca dan, karena menghasilkan asap tebal ketika terkena udara lembap, digunakan untuk membuat tabir asap. Dalam berbagai aplikasi industri, titanium dan paduannya dapat menjadi alternatif potensial untuk logam lain, seperti nikel, [[niobium]], [[skandium]], [[perak]], [[tantalum]], dan [[wolfram]].
Titanium tetraklorida (TiCl<sub>4</sub>), suatu cairan tidak berwarna, merupakan zat antara penting dalam proses pembuatan TiO<sub>2</sub> dan juga digunakan untuk menghasilkan katalis Ziegler–Natta. Titanium tetraklorida juga digunakan untuk menghasilkan efek [[iridesensi]] pada kaca dan, karena menghasilkan asap tebal ketika terkena udara lembap, digunakan untuk membuat tabir asap.<ref>Albert Stwertka. [https://books.google.com/books?id=K3RWAAAAYAAJ Guide to the Elements]. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.</ref> Dalam berbagai aplikasi industri, titanium dan paduannya dapat menjadi alternatif potensial untuk logam lain, seperti nikel, [[niobium]], [[skandium]], [[perak]], [[tantalum]], dan [[wolfram]].<ref>Survei Geologi Amerika Serikat. [https://pubs.usgs.gov/periodicals/mcs2025/mcs2025.pdf Mineral Commodities Summaries 2025]. Maret 2025.</ref>
===Konsumen dan arsitektur===
===Konsumen dan arsitektur===
Logam titanium digunakan dalam aplikasi otomotif, khususnya pada balap mobil dan sepeda motor, karena bobot yang ringan serta kekuatan dan kekakuan yang tinggi sangatlah penting.<ref>Funatani, K. [https://books.google.com/books?id=4F1zYT4FHyMC Recent trends in surface modification of light metals § Metal matrix composite technologies]. ASM International. 9–12 Oktober 2000. Vol. 1 & 2. hlm. 138–144, esp. 141. ISBN 978-0-87170-727-7.</ref> Logam ini umumnya terlalu mahal untuk pasar konsumen umum, meskipun beberapa model [[Chevrolet Corvette|Corvette]] keluaran terbaru telah diproduksi dengan sistem pembuangan berbahan titanium.<ref>[http://www.iglou.com/corvette/specs/2001/exhaust.htm Titanium exhausts]. National Corvette Museum. 2006.</ref>


Logam titanium digunakan dalam aplikasi otomotif, khususnya pada balap mobil dan sepeda motor, karena bobot yang ringan serta kekuatan dan kekakuan yang tinggi sangatlah penting. Logam ini umumnya terlalu mahal untuk pasar konsumen umum, meskipun beberapa model [[Chevrolet Corvette|Corvette]] keluaran terbaru telah diproduksi dengan sistem pembuangan berbahan titanium.
Titanium digunakan dalam berbagai peralatan olahraga, seperti raket tenis, tongkat golf, batang tongkat sauk bola; kisi-kisi helm kriket, hoki, sauk bola, dan sepak bola Amerika; serta beberapa rangka dan komponen sepeda.<ref>Joseph R. Davis. [https://archive.org/details/metalshandbook00davi Metals Handbook]. ASM International. 1998. hlm. [https://archive.org/details/metalshandbook00davi/page/584 584]. ISBN 978-0-87170-654-6.</ref> Titanium digunakan pada bingkai kacamata karena tahan lama dan dapat melindungi lensa, meskipun mungkin kurang fleksibel dibandingkan bahan alternatif.<ref>H. Kaneko. ''Experimental Analysis of Nano and Engineering Materials and Structures''. 2007. hlm. 521–522. doi:10.1007/978-1-4020-6239-1_258. ISBN 978-1-4020-6238-4.</ref> [[Biokompatibilitas titanium]] merupakan salah satu keunggulannya dibandingkan bahan bingkai kacamata lainnya.<ref>Rekha Hansraj. [https://avehjournal.org/index.php/aveh/article/view/621 Spectacle frames: Disposal practices, biodegradability and biocompatibility – A pilot study]. ''African Vision and Eye Health''. 14 Mei 2021. Vol. 80 (1). hlm. 7. doi:10.4102/aveh.v80i1.621.</ref> Titanium merupakan bahan yang umum digunakan untuk peralatan masak dan alat makan untuk kegiatan berkemah. Tapal kuda titanium jauh lebih disukai daripada baja oleh para pembuat tapal kuda karena lebih ringan dan tahan lama.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Beberapa perkakas ringan dan tahan korosi kelas premium, seperti sekop, gagang pisau, dan senter, dibuat dari titanium atau paduan titanium.<ref>Qian, Ma. ''Real-World Use of Titanium''. Elsevier Science. 2019. hlm. 7–8. ISBN 978-0-12-815820-3.</ref>
 
Titanium digunakan dalam berbagai peralatan olahraga, seperti raket tenis, tongkat golf, batang tongkat sauk bola; kisi-kisi helm kriket, hoki, sauk bola, dan sepak bola Amerika; serta beberapa rangka dan komponen sepeda. Titanium digunakan pada bingkai kacamata karena tahan lama dan dapat melindungi lensa, meskipun mungkin kurang fleksibel dibandingkan bahan alternatif. [[Biokompatibilitas titanium]] merupakan salah satu keunggulannya dibandingkan bahan bingkai kacamata lainnya. Titanium merupakan bahan yang umum digunakan untuk peralatan masak dan alat makan untuk kegiatan berkemah. Tapal kuda titanium jauh lebih disukai daripada baja oleh para pembuat tapal kuda karena lebih ringan dan tahan lama. Beberapa perkakas ringan dan tahan korosi kelas premium, seperti sekop, gagang pisau, dan senter, dibuat dari titanium atau paduan titanium.
 


Titanium terkadang digunakan dalam arsitektur. [[Monumen Yuri Gagarin]] setinggi , manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa, serta bagian atas [[Monumen Penakluk Luar Angkasa]] setinggi  yang berada di atas [[Museum Memorial Kosmonautika|Museum Kosmonautika]] di Moskow, dibuat dari titanium. [[Museum Guggenheim]] dan [[Perpustakaan Cerritos|Perpustakaan Cerritos Millennium]] masing-masing merupakan bangunan pertama di Eropa dan Amerika Utara yang dilapisi panel titanium. Pelapisan titanium juga digunakan pada Frederic C. Hamilton Building di Denver, Colorado.
Titanium terkadang digunakan dalam arsitektur. [[Monumen Yuri Gagarin]] setinggi , manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa, serta bagian atas [[Monumen Penakluk Luar Angkasa]] setinggi  yang berada di atas [[Museum Memorial Kosmonautika|Museum Kosmonautika]] di Moskow, dibuat dari titanium.<ref>Mike Gruntman. [https://books.google.com/books?id=2XY9KXxF8OEC Blazing the Trail: The Early History of Spacecraft and Rocketry]. American Institute of Aeronautics and Astronautics. 2004. hlm. 457. ISBN 978-1-56347-705-8.</ref><ref>Lütjering, Gerd. [https://books.google.com/books?id=41EqJFxjA4wC&pg=PA408 Titanium]. Springer. 12 Juni 2007. ISBN 978-3-540-71397-5.</ref> [[Museum Guggenheim]] dan [[Perpustakaan Cerritos|Perpustakaan Cerritos Millennium]] masing-masing merupakan bangunan pertama di Eropa dan Amerika Utara yang dilapisi panel titanium.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Pelapisan titanium juga digunakan pada Frederic C. Hamilton Building di Denver, Colorado.<ref>[http://www.designbuild-network.com/projects/dam/ Denver Art Museum, Frederic C. Hamilton Building]. ''Design Build Network''. SPG Media. 2006.</ref>


Karena titanium memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan bobot yang lebih ringan dibandingkan logam lain (baja, baja nirkarat, dan aluminium), serta berkat kemajuan dalam teknik pengerjaan logam, penggunaannya telah meluas dalam pembuatan senjata api. Penggunaan utamanya mencakup rangka pistol dan silinder revolver. Untuk alasan yang sama, titanium digunakan pada bodi beberapa komputer laptop (misalnya [[Apple Inc.|Apple]] [[PowerBook G4]]) dan ponsel (seperti [[iPhone 15 Pro]]).
Karena titanium memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan bobot yang lebih ringan dibandingkan logam lain (baja, baja nirkarat, dan aluminium), serta berkat kemajuan dalam teknik pengerjaan logam, penggunaannya telah meluas dalam pembuatan senjata api. Penggunaan utamanya mencakup rangka pistol dan silinder revolver. Untuk alasan yang sama, titanium digunakan pada bodi beberapa komputer laptop (misalnya [[Apple Inc.|Apple]] [[PowerBook G4]])<ref>[http://www.everymac.com/systems/apple/powerbook_g4/stats/powerbook_g4_400.html Apple PowerBook G4 400 (Original – Ti) Specs]. ''everymac.com''.</ref><ref>Qian, Ma. ''Real-World Use of Titanium''. Elsevier Science. 2019. hlm. 7–8. ISBN 978-0-12-815820-3.</ref> dan ponsel (seperti [[iPhone 15 Pro]]).<ref>[https://www.cnet.com/tech/mobile/apple-announces-iphone-15-pro-models-with-titanium-enclosure/ Apple Announces iPhone 15 Pro Models With Titanium Enclosure]. ''CNET''. 12 September 2023.</ref>
===Perhiasan===
===Perhiasan===
Karena daya tahannya, titanium digunakan dalam beberapa perhiasan desainer, seperti [[cincin titanium]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Sifatnya yang lengai membuat titanium bersifat hipoalergenik dan dapat digunakan di lingkungan seperti kolam renang. Titanium juga [[Emas titanium|dicampurkan dengan emas]] untuk menghasilkan paduan yang dapat dipasarkan sebagai emas [[Kemurnian logam berharga|24 karat]], karena kandungan titanium sebesar 1% tidak cukup untuk mengharuskan pemberian kadar yang lebih rendah. Paduan yang dihasilkan memiliki kekerasan kira-kira setara dengan emas 14 karat dan lebih tahan lama dibandingkan emas murni 24 karat.<ref>Gafner, G. [http://goldbulletin.org/assets/file/goldbulletin/downloads/Gafner_4_22.pdf The development of 990 Gold-Titanium: its Production, use and Properties]. ''Gold Bulletin''. 1989. Vol. 22 (4). hlm. 112–122. doi:10.1007/BF03214709.</ref>


Karena daya tahannya, titanium digunakan dalam beberapa perhiasan desainer, seperti [[cincin titanium]]. Sifatnya yang lengai membuat titanium bersifat hipoalergenik dan dapat digunakan di lingkungan seperti kolam renang. Titanium juga [[Emas titanium|dicampurkan dengan emas]] untuk menghasilkan paduan yang dapat dipasarkan sebagai emas [[Kemurnian logam berharga|24 karat]], karena kandungan titanium sebesar 1% tidak cukup untuk mengharuskan pemberian kadar yang lebih rendah. Paduan yang dihasilkan memiliki kekerasan kira-kira setara dengan emas 14 karat dan lebih tahan lama dibandingkan emas murni 24 karat.
Daya tahan titanium, bobotnya yang ringan, serta ketahanannya terhadap penyok dan korosi membuatnya bermanfaat sebagai bahan ''casing'' [[jam tangan]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Beberapa seniman juga menggunakan titanium untuk membuat patung, benda dekoratif, dan furnitur.<ref>[http://www.titanium-arts.com/home.html Fine Art and Functional Works in Titanium and Other Earth Elements].</ref> Titanium dapat mengalami [[anodisasi]] untuk mengubah ketebalan lapisan oksida pada permukaannya. Perubahan ini menyebabkan [[interferensi]] optik yang menghasilkan berbagai warna cerah.<ref>Alwitt, Robert S. [http://electrochem.cwru.edu/ed/encycl/art-a02-anodizing.htm Electrochemistry Encyclopedia]. Chemical Engineering Department, Case Western Reserve University, U.S. 2002.</ref> Karena memiliki warna yang dapat divariasikan dan sifatnya yang lengai secara kimia, titanium menjadi logam yang populer untuk [[tindik|tindik tubuh]].<ref>[http://www.doctorgoodskin.com/tp/bodypiercing/ Body Piercing Safety]. ''doctorgoodskin.com''. 1 Agustus 2006.</ref>
 
Daya tahan titanium, bobotnya yang ringan, serta ketahanannya terhadap penyok dan korosi membuatnya bermanfaat sebagai bahan ''casing'' [[jam tangan]]. Beberapa seniman juga menggunakan titanium untuk membuat patung, benda dekoratif, dan furnitur. Titanium dapat mengalami [[anodisasi]] untuk mengubah ketebalan lapisan oksida pada permukaannya. Perubahan ini menyebabkan [[interferensi]] optik yang menghasilkan berbagai warna cerah. Karena memiliki warna yang dapat divariasikan dan sifatnya yang lengai secara kimia, titanium menjadi logam yang populer untuk [[tindik|tindik tubuh]].


Titanium juga memiliki penggunaan terbatas pada koin dan medali khusus yang tidak digunakan sebagai alat pembayaran yang beredar. Pada tahun 1999, koin titanium pertama di dunia dicetak untuk memperingati perayaan milenium [[Gibraltar]]. Pobjoy Mint, percetakan uang Inggris yang memproduksi koin tersebut, terus membuat koin titanium anodisasi hingga ditutup pada tahun 2023. [[Gold Coast Titans]], sebuah tim liga rugbi Australia, memberikan medali yang terbuat dari titanium murni kepada pemain terbaik mereka setiap tahun.
Titanium juga memiliki penggunaan terbatas pada koin dan medali khusus yang tidak digunakan sebagai alat pembayaran yang beredar. Pada tahun 1999, koin titanium pertama di dunia dicetak untuk memperingati perayaan milenium [[Gibraltar]].<ref>[https://www.pobjoy.com/us/world-firsts World Firsts]. British Pobjoy Mint.</ref> Pobjoy Mint, percetakan uang Inggris yang memproduksi koin tersebut, terus membuat koin titanium anodisasi<ref>[https://www.numismaticnews.net/world-coins/pobjoy-issues-colored-titanium-coins Pobjoy issues colored titanium coins]. ''Numismatic News''. 6 Juni 2018.</ref> hingga ditutup pada tahun 2023.<ref>Jeff Starck. [https://www.coinworld.com/news/us-coins/after-58-years-of-operation-uk-s-pobjoy-mint-closing After 58 years of operation, UK's Pobjoy Mint closing]. ''CoinWorld''. 12 Oktober 2023.</ref> [[Gold Coast Titans]], sebuah tim liga rugbi Australia, memberikan medali yang terbuat dari titanium murni kepada pemain terbaik mereka setiap tahun.<ref>Luke Turgeon. [http://www.goldcoast.com.au/article/2007/09/20/2947_gold-coast-titans.html Titanium Titan: Broughton immortalised]. ''The Gold Coast Bulletin''. 20 September 2007.</ref>
===Medis===
===Medis===
Karena titanium bersifat [[Biokompatibilitas|biokompatibel]] (tidak beracun dan tidak ditolak oleh tubuh), titanium memiliki banyak kegunaan dalam bidang medis, termasuk sebagai alat bedah dan implan, seperti kepala dan mangkuk sendi panggul untuk [[penggantian sendi]], serta implan gigi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Implan titanium dan paduan titanium telah digunakan dalam pembedahan sejak tahun 1950-an dan banyak dipilih karena tingkat korosinya rendah, masa pakainya panjang, serta [[modulus Young]] yang rendah. Paduan titanium yang mengandung 6% aluminium dan 4% vanadium, yang umum digunakan dalam industri dirgantara, juga merupakan bahan yang umum digunakan untuk sendi buatan.<ref>Masoud Sarraf. [https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s42242-021-00170-3.pdf A state-of-the-art review of the fabrication and characteristics of titanium and its alloys for biomedical applications]. ''Bio-Design and Manufacturing''. 2022. Vol. 5 (2). hlm. 371–395. doi:10.1007/s42242-021-00170-3.</ref>


Karena titanium bersifat [[Biokompatibilitas|biokompatibel]] (tidak beracun dan tidak ditolak oleh tubuh), titanium memiliki banyak kegunaan dalam bidang medis, termasuk sebagai alat bedah dan implan, seperti kepala dan mangkuk sendi panggul untuk [[penggantian sendi]], serta implan gigi. Implan titanium dan paduan titanium telah digunakan dalam pembedahan sejak tahun 1950-an dan banyak dipilih karena tingkat korosinya rendah, masa pakainya panjang, serta [[modulus Young]] yang rendah. Paduan titanium yang mengandung 6% aluminium dan 4% vanadium, yang umum digunakan dalam industri dirgantara, juga merupakan bahan yang umum digunakan untuk sendi buatan.
Titanium memiliki kemampuan alami untuk mengalami [[oseointegrasi]], yaitu proses ketika implan menyatu secara langsung dengan jaringan tulang. Hal ini memungkinkan penggunaan titanium pada implan gigi yang dapat bertahan selama lebih dari 30 tahun. Sifat ini juga bermanfaat untuk [[Fiksasi internal|implan ortopedi]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Implan tersebut memanfaatkan modulus elastisitas titanium yang lebih rendah sehingga lebih mendekati modulus elastisitas tulang yang hendak diperbaiki. Akibatnya, beban pada kerangka dapat dibagi secara lebih merata antara tulang dan implan. Pembagian beban yang lebih merata dapat mengurangi degradasi tulang akibat ''stress shielding'' serta mengurangi risiko patah tulang [[periprostetik]], yang dapat terjadi di sekitar batas implan ortopedi. Namun, kekakuan paduan titanium masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan tulang. Oleh karena itu, tulang di sekitar implan menerima beban yang jauh lebih kecil dan dapat mengalami penurunan kualitas.<ref>[http://www.fraunhofer.de/en/press/research-news/2010/09/titanium-foams-replace-injured-bones.jsp Titanium foams replace injured bones]. ''Research News''. 1 September 2010.</ref><ref>Marc S. Lavine. ''Make no bones about titanium''. ''Science''. 11 Januari 2018. Vol. 359 (6372). hlm. 173.6–174. doi:10.1126/science.359.6372.173-f.</ref> Implan biomedis yang dilapisi kombinasi perak dan titanium juga telah diteliti sebagai pilihan potensial untuk implan yang menahan beban dan membutuhkan permukaan antimikroba.<ref>Masoud Sarraf. [https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s42242-021-00170-3.pdf A state-of-the-art review of the fabrication and characteristics of titanium and its alloys for biomedical applications]. ''Bio-Design and Manufacturing''. 2022. Vol. 5 (2). hlm. 371–395. doi:10.1007/s42242-021-00170-3.</ref>


Titanium memiliki kemampuan alami untuk mengalami [[oseointegrasi]], yaitu proses ketika implan menyatu secara langsung dengan jaringan tulang. Hal ini memungkinkan penggunaan titanium pada implan gigi yang dapat bertahan selama lebih dari 30 tahun. Sifat ini juga bermanfaat untuk [[Fiksasi internal|implan ortopedi]]. Implan tersebut memanfaatkan modulus elastisitas titanium yang lebih rendah sehingga lebih mendekati modulus elastisitas tulang yang hendak diperbaiki. Akibatnya, beban pada kerangka dapat dibagi secara lebih merata antara tulang dan implan. Pembagian beban yang lebih merata dapat mengurangi degradasi tulang akibat ''stress shielding'' serta mengurangi risiko patah tulang [[periprostetik]], yang dapat terjadi di sekitar batas implan ortopedi. Namun, kekakuan paduan titanium masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan tulang. Oleh karena itu, tulang di sekitar implan menerima beban yang jauh lebih kecil dan dapat mengalami penurunan kualitas. Implan biomedis yang dilapisi kombinasi perak dan titanium juga telah diteliti sebagai pilihan potensial untuk implan yang menahan beban dan membutuhkan permukaan antimikroba.
Kemajuan modern dalam teknik manufaktur aditif telah meningkatkan potensi penggunaan titanium dalam implan ortopedi.<ref>W.S.W. Harun. [http://irep.iium.edu.my/64319/1/A%20review%20of%20powdered%20additive%20manufacturing%20techniques%20for%20Ti-6al-4v%20biomedical%20applications.pdf A review of powdered additive manufacturing techniques for Ti-6al-4v biomedical applications]. ''Powder Technology''. 2018. Vol. 331. hlm. 74–97. doi:10.1016/j.powtec.2018.03.010.</ref> Desain struktur implan yang kompleks dapat dibuat dengan percetakan 3D menggunakan paduan titanium. Hal ini memungkinkan pembuatan implan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien serta meningkatkan oseointegrasi implan.<ref>Francesco Trevisan. ''Additive manufacturing of titanium alloys in the biomedical field: processes, properties and applications''. ''Journal of Applied Biomaterials & Functional Materials''. 2017. Vol. 16 (2). hlm. 57–67. doi:10.5301/jabfm.5000371.</ref> Karena titanium bersifat non-[[Feromagnetisme|feromagnetik]], pasien dengan implan titanium dapat menjalani pemeriksaan [[pencitraan resonansi magnetik|MRI]] dengan aman, yang sangat bermanfaat untuk implan jangka panjang. Persiapan titanium untuk ditanamkan ke dalam tubuh dilakukan dengan memaparkannya pada busur [[Plasma (fisika)|plasma]] bersuhu tinggi, yang menghilangkan atom-atom pada permukaan dan mengekspos titanium baru yang kemudian langsung teroksidasi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Titanium juga digunakan untuk instrumen bedah dalam operasi yang dipandu pencitraan, serta untuk kursi roda, kruk, dan berbagai produk lainnya yang membutuhkan kekuatan tinggi dan bobot rendah.<ref>Qian, Ma. ''Real-World Use of Titanium''. Elsevier Science. 2019. hlm. 51, 128. ISBN 978-0-12-815820-3.</ref>


Kemajuan modern dalam teknik manufaktur aditif telah meningkatkan potensi penggunaan titanium dalam implan ortopedi. Desain struktur implan yang kompleks dapat dibuat dengan percetakan 3D menggunakan paduan titanium. Hal ini memungkinkan pembuatan implan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien serta meningkatkan oseointegrasi implan. Karena titanium bersifat non-[[Feromagnetisme|feromagnetik]], pasien dengan implan titanium dapat menjalani pemeriksaan [[pencitraan resonansi magnetik|MRI]] dengan aman, yang sangat bermanfaat untuk implan jangka panjang. Persiapan titanium untuk ditanamkan ke dalam tubuh dilakukan dengan memaparkannya pada busur [[Plasma (fisika)|plasma]] bersuhu tinggi, yang menghilangkan atom-atom pada permukaan dan mengekspos titanium baru yang kemudian langsung teroksidasi. Titanium juga digunakan untuk instrumen bedah dalam operasi yang dipandu pencitraan, serta untuk kursi roda, kruk, dan berbagai produk lainnya yang membutuhkan kekuatan tinggi dan bobot rendah.
[[Nanopartikel]] titanium dioksida banyak digunakan dalam bidang elektronik serta penghantaran [[pengobatan|obat-obatan]] dan kosmetik.<ref>Annalisa Pinsino. ''Titanium dioxide nanoparticles stimulate sea urchin immune cell phagocytic activity involving TLR/p38 MAPK-mediated signalling pathway''. ''Scientific Reports''. 28 September 2015. Vol. 5. doi:10.1038/srep14492.</ref>
 
[[Nanopartikel]] titanium dioksida banyak digunakan dalam bidang elektronik serta penghantaran [[pengobatan|obat-obatan]] dan kosmetik.
====Studi terapi antikanker====
====Studi terapi antikanker====
Setelah keberhasilan kemoterapi [[Sisplatin|berbasis platina]], kompleks titanium(IV) termasuk ke dalam senyawa non-platina pertama yang diuji dan diterima untuk uji klinis dalam pengobatan kanker. Keunggulan senyawa titanium terletak pada efektivitasnya yang tinggi dan toksisitasnya yang rendah [[In vivo|di dalam tubuh]]. Dalam lingkungan biologis, proses hidrolisis menghasilkan titanium dioksida yang aman dan lengai. Meskipun memiliki keunggulan tersebut, senyawa kandidat pertama gagal dalam uji klinis karena rasio efektivitas terhadap toksisitas yang tidak memadai serta masalah dalam formulasi. Pengembangan lebih lanjut menghasilkan obat berbasis titanium yang berpotensi efektif, selektif, dan stabil.
Setelah keberhasilan kemoterapi [[Sisplatin|berbasis platina]], kompleks titanium(IV) termasuk ke dalam senyawa non-platina pertama yang diuji dan diterima untuk uji klinis dalam pengobatan kanker.<ref>Maya Miller. ''Titanium Tackles the Endoplasmic Reticulum: A First Genomic Study on a Titanium Anticancer Metallodrug''. ''iScience''. 24 Juli 2020. Vol. 23 (7). doi:10.1016/j.isci.2020.101262.</ref> Keunggulan senyawa titanium terletak pada efektivitasnya yang tinggi dan toksisitasnya yang rendah [[In vivo|di dalam tubuh]]. Dalam lingkungan biologis, proses hidrolisis menghasilkan titanium dioksida yang aman dan lengai. Meskipun memiliki keunggulan tersebut, senyawa kandidat pertama gagal dalam uji klinis karena rasio efektivitas terhadap toksisitas yang tidak memadai serta masalah dalam formulasi. Pengembangan lebih lanjut menghasilkan obat berbasis titanium yang berpotensi efektif, selektif, dan stabil.<ref>Edit Y. Tshuva. [https://books.google.com/books?id=4nBLDwAAQBAJ Metallo-drugs: Development and action of anticancer agents]. de Gruyter GmbH. 2018. Vol. 18. hlm. 219–250. doi:10.1515/9783110470734-014. ISBN 978-3-11-047073-4.</ref>
===Penyimpanan limbah nuklir===
===Penyimpanan limbah nuklir===
Karena memiliki ketahanan terhadap korosi, wadah yang terbuat dari titanium telah diteliti untuk penyimpanan limbah nuklir jangka panjang. Dengan kondisi manufaktur yang dapat meminimalkan cacat pada material, diperkirakan wadah titanium dapat bertahan selama lebih dari 100.000 tahun. Sebuah “''drip shield''” (pelindung tetesan) dari titanium juga pernah dipertimbangkan untuk dipasang di atas wadah yang terbuat dari material lain guna meningkatkan masa pakainya.
Karena memiliki ketahanan terhadap korosi, wadah yang terbuat dari titanium telah diteliti untuk penyimpanan limbah nuklir jangka panjang. Dengan kondisi manufaktur yang dapat meminimalkan cacat pada material, diperkirakan wadah titanium dapat bertahan selama lebih dari 100.000 tahun.<ref>D. W. Shoesmith. ''Hydrogen Absorption and the Lifetime Performance of Titanium Nuclear Waste Containers''. ''Corrosion Reviews''. 2000. Vol. 18 (4–5). hlm. 331–360. doi:10.1515/CORRREV.2000.18.4-5.331.</ref> Sebuah “''drip shield''” (pelindung tetesan) dari titanium juga pernah dipertimbangkan untuk dipasang di atas wadah yang terbuat dari material lain guna meningkatkan masa pakainya.<ref>Carter, L.J. [https://archive.org/details/sim_science_2005-10-21_310_5747/page/447 Proof of Safety at Yucca Mountain]. ''Science''. 2005. Vol. 310 (5747). hlm. 447–448. doi:10.1126/science.1112786.</ref>
==Bahaya dan keselamatan==
==Bahaya dan keselamatan==
Titanium tidak beracun, bahkan dalam dosis yang besar, dan tidak memiliki peran alami tertentu di dalam [[tubuh manusia]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Diperkirakan manusia mengonsumsi sekitar 0,8miligram titanium setiap hari, tetapi sebagian besar titanium melewati [[Sistem pencernaan manusia|sistem pencernaan]] tanpa diserap oleh jaringan tubuh.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Namun, titanium terkadang dapat mengalami [[bioakumulasi]] pada jaringan yang mengandung [[Silikon dioksida|silika]]. [[Sindrom kuku kuning]] pernah dilaporkan pada individu yang terpapar titanium. Akan tetapi, karena kelainan ini jarang terjadi, hubungan langsung antara paparan titanium dan perkembangan penyakit tersebut sulit ditentukan.<ref>Ting-Yuan Hsu. [https://publications.aap.org/pediatrics/article/139/1/e20160546/51867/Titanium-Dioxide-in-Toothpaste-Causing-Yellow-Nail Titanium Dioxide in Toothpaste Causing Yellow Nail Syndrome]. ''Pediatrics''. 1 Januari 2017. Vol. 139 (1). doi:10.1542/peds.2016-0546.</ref><ref>Ali Ataya. ''Titanium exposure and yellow nail syndrome''. ''Respiratory Medicine Case Reports''. 2015. Vol. 16. hlm. 146–147. doi:10.1016/j.rmcr.2015.10.002.</ref>


 
Dalam bentuk serbuk atau serpihan logam, titanium memiliki risiko kebakaran yang tinggi dan, ketika dipanaskan di [[udara]], dapat menimbulkan risiko ledakan.<ref>Catherine Mary Cotell. [https://books.google.com/books?id=RGtsPjqUwy0C ASM Handbook: Surface Engineering]. ASM International. 1994. hlm. 836. ISBN 978-0-87170-384-2.</ref> Air dan [[karbon dioksida]] tidak efektif untuk memadamkan kebakaran titanium. Sebagai gantinya, harus digunakan bahan pemadam bubuk kering [[Klasifikasi api|Kelas D]] yang dirancang untuk kebakaran logam.<ref>Robert E. Krebs. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide]. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.</ref> Dalam proses produksi atau penanganan klorin, titanium yang terkena gas klorin kering dapat menyebabkan kebakaran titanium–klorin.<ref>Compressed Gas Association. [https://books.google.com/books?id=WSLULtCG9JgC Handbook of compressed gases]. Springer. 1999. hlm. 323. ISBN 978-0-412-78230-5.</ref> Titanium juga dapat terbakar ketika permukaan titanium yang baru dan belum teroksidasi bersentuhan dengan [[oksigen cair]].<ref>Robert E. Solomon. [https://books.google.com/books?id=2fHsoobsCNwC Fire and Life Safety Inspection Manual]. Jones & Bartlett Publishers. 2002. hlm. 45. ISBN 978-0-87765-472-8.</ref>
Titanium tidak beracun, bahkan dalam dosis yang besar, dan tidak memiliki peran alami tertentu di dalam [[tubuh manusia]]. Diperkirakan manusia mengonsumsi sekitar 0,8miligram titanium setiap hari, tetapi sebagian besar titanium melewati [[Sistem pencernaan manusia|sistem pencernaan]] tanpa diserap oleh jaringan tubuh. Namun, titanium terkadang dapat mengalami [[bioakumulasi]] pada jaringan yang mengandung [[Silikon dioksida|silika]]. [[Sindrom kuku kuning]] pernah dilaporkan pada individu yang terpapar titanium. Akan tetapi, karena kelainan ini jarang terjadi, hubungan langsung antara paparan titanium dan perkembangan penyakit tersebut sulit ditentukan.
 
Dalam bentuk serbuk atau serpihan logam, titanium memiliki risiko kebakaran yang tinggi dan, ketika dipanaskan di [[udara]], dapat menimbulkan risiko ledakan. Air dan [[karbon dioksida]] tidak efektif untuk memadamkan kebakaran titanium. Sebagai gantinya, harus digunakan bahan pemadam bubuk kering [[Klasifikasi api|Kelas D]] yang dirancang untuk kebakaran logam. Dalam proses produksi atau penanganan klorin, titanium yang terkena gas klorin kering dapat menyebabkan kebakaran titanium–klorin. Titanium juga dapat terbakar ketika permukaan titanium yang baru dan belum teroksidasi bersentuhan dengan [[oksigen cair]].
==Fungsi dalam tumbuhan==
==Fungsi dalam tumbuhan==
 
Suatu mekanisme yang belum diketahui pada [[tumbuhan]] mungkin menggunakan titanium untuk merangsang produksi [[karbohidrat]] dan mendorong pertumbuhan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sebagian besar tumbuhan mengandung sekitar 1 [[Notasi bagian per#Bagian per juta|bagian per juta]] (ppm) titanium, sementara tumbuhan pangan mengandung sekitar  2&nbsp;ppm, dan tumbuhan [[Paku ekor kuda|ekor kuda]] serta [[Urtica|jelatang]] dapat mengandung hingga 80&nbsp;ppm titanium.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
Suatu mekanisme yang belum diketahui pada [[tumbuhan]] mungkin menggunakan titanium untuk merangsang produksi [[karbohidrat]] dan mendorong pertumbuhan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sebagian besar tumbuhan mengandung sekitar 1 [[Notasi bagian per#Bagian per juta|bagian per juta]] (ppm) titanium, sementara tumbuhan pangan mengandung sekitar  2&nbsp;ppm, dan tumbuhan [[Paku ekor kuda|ekor kuda]] serta [[Urtica|jelatang]] dapat mengandung hingga 80&nbsp;ppm titanium.
==Lihat pula==
==Lihat pula==
* [[Paduan titanium]]
* [[Paduan titanium]]
* [[Suboksida]]
* [[Suboksida]]
Baris 193: Baris 199:


==Catatan==
==Catatan==
==Referensi==
==Bibliografi==
==Bibliografi==
 
*  
 
*  
*
*  
*
*  
*
*  
*
*


==Pranala luar==
==Pranala luar==
*  [https://books.google.com/books?id=7iwDAAAAMBAJ&pg=RA2-PA46 "Titanium: Our Next Major Metal"] dalam ''[[Popular Science]]'' (Oktober 1950), salah satu artikel terperinci pertama tentang titanium yang ditujukan untuk masyarakat umum
*  [https://books.google.com/books?id=7iwDAAAAMBAJ&pg=RA2-PA46 "Titanium: Our Next Major Metal"] dalam ''[[Popular Science]]'' (Oktober 1950), salah satu artikel terperinci pertama tentang titanium yang ditujukan untuk masyarakat umum
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/022.htm Titanium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/022.htm Titanium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
Baris 212: Baris 212:
*  [https://www.phase-trans.msm.cam.ac.uk/2003/titanium.movies/titanium.html Metallurgy of Titanium and its Alloys] - presentasi ''slide'', film, dan materi lainnya dari [[Harshad Bhadeshia]] serta ahli metalurgi lainnya dari [[Universitas Cambridge]]
*  [https://www.phase-trans.msm.cam.ac.uk/2003/titanium.movies/titanium.html Metallurgy of Titanium and its Alloys] - presentasi ''slide'', film, dan materi lainnya dari [[Harshad Bhadeshia]] serta ahli metalurgi lainnya dari [[Universitas Cambridge]]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29589190 (2026-08-16T15:19:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titanium&oldid=29589190 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29589190 (2026-08-16T15:19:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 22.55

Berkas:Titan-crystal bar.JPG
Titan-crystal bar

Titanium adalah sebuah unsur kimia dengan lambang Ti dan nomor atom 22. Di alam, titanium hanya ditemukan dalam bentuk oksida. Titanium dapat direduksi untuk menghasilkan logam transisi yang berkilau dan berwarna keperakan, memiliki densitas rendah, kekuatan tinggi, serta tahan terhadap korosi dalam air laut, air raja, dan klorin.

Titanium ditemukan di Cornwall, Britania Raya, oleh William Gregor pada tahun 1791 dan kemudian diberi nama oleh Martin H. Klaproth, yang mengambil nama tersebut dari para Titan dalam mitologi Yunani. Unsur ini terdapat dalam sejumlah mineral, terutama rutil dan ilmenit, yang tersebar luas di kerak dan litosfer Bumi. Titanium juga ditemukan hampir di semua makhluk hidup, serta di perairan, batuan, dan tanah.[1] Logam titanium diekstraksi dari bijih mineral utamanya melalui proses Kroll dan Hunter.[2] Senyawa titanium yang paling umum, titanium dioksida (TiO2), merupakan fotokatalis yang populer dan digunakan dalam pembuatan pigmen putih.[3] Senyawa lainnya meliputi titanium tetraklorida (TiCl4), yang digunakan sebagai komponen tabir asap dan katalis, serta titanium triklorida (TiCl3), yang digunakan sebagai katalis dalam produksi polipropilena.[4]

Titanium dapat dipadukan dengan besi, aluminium, vanadium, molibdenum, dan unsur lainnya. Paduan titanium yang dihasilkan memiliki sifat kuat, ringan, dan serbaguna, sehingga digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dirgantara (mesin jet, rudal, dan wantariksa), militer, proses industri (kimia dan petrokimia, pabrik desalinasi, serta industri pulp dan kertas), otomotif, pertanian, perlengkapan olahraga, perhiasan, dan perangkat elektronik konsumen.[5] Titanium juga dianggap sebagai salah satu logam yang paling biokompatibel, sehingga banyak digunakan dalam bidang medis, termasuk untuk prostesis, implan ortopedi, implan gigi, dan alat bedah.[6]

Dua sifat titanium yang paling bermanfaat adalah ketahanan terhadap korosi dan rasio kekuatan tarik terhadap densitasnya, yang merupakan yang tertinggi di antara unsur-unsur logam.[7] Namun, ketahanan terhadap tegangan tarik tidak berarti titanium memiliki rasio tertinggi untuk jenis tegangan lainnya, seperti kompresi curah, geser, dan gelombang tekanan. Dalam kondisi tidak dipadu, titanium memiliki kekuatan tarik yang sebanding dengan beberapa jenis baja, tetapi dengan densitas yang lebih rendah.[8] Titanium memiliki dua bentuk alotropik[9] dan lima isotop alami, yaitu Ti hingga Ti. Isotop yang paling melimpah adalah Ti, dengan kelimpahan sekitar 73,8%.[10]

Karakteristik

Sifat fisik

Sebagai logam, titanium dikenal karena rasio kekuatan terhadap beratnya yang tinggi.[11] Titanium merupakan logam yang kuat dengan densitas rendah, cukup ulet (terutama dalam lingkungan bebas oksigen),[12] berkilau, dan berwarna putih keperakan seperti logam.[13] Karena memiliki titik lebur yang relatif tinggi (1.668 °C atau 3.034 °F), titanium terkadang digolongkan sebagai logam refraktori, meskipun sebenarnya bukan demikian.[14] Titanium bersifat paramagnetik dan memiliki konduktivitas listrik serta termal yang cukup rendah dibandingkan dengan logam lainnya.[15] Titanium akan menjadi superkonduktor ketika didinginkan hingga di bawah suhu kritisnya, yaitu 0,49 K.[16][17]

Titanium murni komersial (kemurnian 99,2%) memiliki kekuatan tarik maksimum sekitar 434 MPa (63.000 psi), setara dengan baja paduan umum berkualitas rendah, tetapi memiliki densitas yang lebih rendah. Titanium memiliki densitas sekitar 60% lebih tinggi daripada aluminium, tetapi kekuatannya lebih dari dua kali lipat[18] dibandingkan paduan aluminium 6061-T6 yang paling umum digunakan. Beberapa paduan titanium (misalnya Beta C) dapat mencapai kekuatan tarik lebih dari 1.400 MPa (200.000 psi).[19] Namun, titanium kehilangan kekuatannya ketika dipanaskan di atas .[20]

Titanium tidak sekeras beberapa jenis baja yang telah mengalami perlakuan panas. Titanium bersifat nonmagnetik dan merupakan penghantar panas serta listrik yang buruk. Proses pemesinan titanium memerlukan tindakan pencegahan, karena material ini dapat mengalami galling (pengikisan atau pengelasan permukaan akibat gesekan) jika tidak menggunakan perkakas yang tajam dan metode pendinginan yang tepat. Seperti halnya struktur baja, struktur yang terbuat dari titanium memiliki batas kelelahan yang dapat menjamin umur pakai yang panjang dalam beberapa aplikasi.[21]

Titanium merupakan alotrop dimorfik yang memiliki bentuk α dengan struktur kristal ​susunan padat heksagon (hcp). Bentuk ini berubah menjadi bentuk β dengan struktur kristal kubus berpusat-badan (bcc) pada suhu .[22][23] Kalor jenis bentuk α meningkat secara drastis ketika dipanaskan hingga mencapai suhu transisi tersebut. Setelah berubah menjadi bentuk β, kalor jenisnya kemudian menurun dan tetap relatif konstan terlepas dari perubahan suhu.[24]

Sifat kimia

Seperti aluminium dan magnesium, permukaan logam titanium dan paduannya akan segera teroksidasi ketika terpapar udara, membentuk lapisan pasivasi tipis dan tidak berpori yang melindungi logam di bagian dalam dari oksidasi atau korosi lebih lanjut.[25] Ketika pertama kali terbentuk, lapisan pelindung ini hanya setebal 1–2 nm, tetapi terus tumbuh secara perlahan hingga mencapai ketebalan 25 nm dalam waktu empat tahun.[26] Lapisan ini memberikan titanium ketahanan korosi yang sangat baik terhadap asam pengoksidasi, tetapi akan larut dalam asam fluorida encer, asam klorida panas, dan asam sulfat panas.[27]

Titanium mampu bertahan terhadap serangan asam sulfat dan asam klorida encer pada suhu kamar, larutan klorida, serta sebagian besar asam organik.[28] Namun, titanium akan terkorosi oleh asam pekat.[29] Titanium akan terbakar di udara biasa pada suhu yang lebih rendah daripada titik leburnya, sehingga peleburan logam ini hanya dapat dilakukan dalam atmosfer lengai atau vakum.[30] Pada suhu kamar, titanium relatif lengai terhadap halogen, tetapi akan bereaksi hebat dengan klorin dan bromin pada suhu , masing-masing membentuk titanium tetraklorida dan titanium tetrabromida.[31]

Titanium mudah bereaksi dengan oksigen pada suhu di udara dan pada suhu dalam oksigen murni, membentuk titanium dioksida.[32] Oksida ini juga terbentuk melalui reaksi antara titanium dan oksigen murni pada suhu kamar dan tekanan .[33] Titanium merupakan salah satu dari sedikit unsur yang dapat terbakar dalam gas nitrogen murni, bereaksi pada suhu membentuk titanium nitrida, yang menyebabkan kerapuhan.[34]

Keterjadian

Titanium merupakan unsur kesembilan yang paling melimpah di kerak Bumi (0,63% berdasarkan massa)[35] dan logam ketujuh yang paling melimpah. Titanium terdapat dalam bentuk oksida pada sebagian besar batuan beku, sedimen yang berasal dari batuan tersebut, makhluk hidup, dan badan air alami.[36][37] Dari 801 jenis batuan beku yang dianalisis oleh Survei Geologi Amerika Serikat, 784 di antaranya mengandung titanium. Kandungannya dalam tanah berkisar sekitar 0,5–1,5%.[38]

Mineral yang umum mengandung titanium meliputi anatase, brookit, ilmenit, perovskit, rutil, dan titanit.[39] Akaogiit merupakan mineral yang sangat langka yang terdiri dari titanium dioksida. Dari mineral-mineral tersebut, hanya rutil dan ilmenit yang memiliki nilai ekonomis, tetapi bahkan keduanya sulit ditemukan dalam konsentrasi tinggi. Sekitar 6,0 juta ton dan 0,7 juta ton dari masing-masing mineral tersebut ditambang pada tahun 2011.[40] Endapan ilmenite yang signifikan dan mengandung titanium terdapat di Afrika Selatan, Australia, India, Kanada, Mozambik, Norwegia, Selandia Baru, Sierra Leone, Tiongkok, dan Ukraina.[41] Total cadangan anatase, ilmenit, dan rutil diperkirakan melebihi 2 miliar ton.[42]

Konsentrasi titanium di lautan sekitar 4 pM. Pada suhu 100 °C, konsentrasi titanium dalam air diperkirakan kurang dari 10 M pada pH 7. Jenis spesies titanium dalam larutan berair masih belum diketahui karena kelarutannya yang rendah dan kurangnya metode spektroskopi yang cukup sensitif, meskipun hanya bilangan oksidasi +4 yang stabil di udara. Tidak ada bukti mengenai peran biologis titanium, meskipun beberapa organisme langka diketahui dapat mengakumulasi titanium dalam konsentrasi tinggi.[43]

Titanium terdapat dalam meteorit dan telah terdeteksi di Matahari serta pada bintang kelas M[44] (jenis bintang yang paling dingin), dengan suhu permukaan sekitar .[45] Batuan yang dibawa kembali dari Bulan selama misi Apollo 17 terdiri atas 12,1% TiO2.[46] Titanium dalam bentuk unsur bebas hanya ditemukan di Bumi pada batuan yang pernah mengalami tekanan sekitar 2,8–4,0GPa,[47] tetapi titanium juga telah diidentifikasi dalam bentuk nanokristal di Bulan.[48]

Isotop

Titanium yang terdapat secara alami terdiri atas lima isotop stabil: Ti, Ti, Ti, Ti, dan Ti, dengan Ti sebagai isotop yang paling melimpah (kelimpahan alami 73,8%). Sebanyak 23 radioisotop telah dikarakterisasi. Di antaranya, yang paling stabil adalah Ti dengan waktu paruh 63 tahun; Ti, 184,8 menit; Ti, 5,76 menit; dan Ti, 1,7 menit. Semua isotop radioaktif lainnya memiliki waktu paruh kurang dari 33 detik, dan sebagian besar kurang dari setengah detik.[49][50]

Isotop-isotop titanium memiliki nomor massa mulai dari Ti hingga Ti.[51] Mode peluruhan utama untuk isotop yang lebih ringan daripada Ti adalah emisi positron (kecuali Ti, yang mengalami penangkapan elektron), yang menghasilkan isotop skandium. Sementara itu, mode utama untuk isotop yang lebih berat daripada Ti adalah emisi beta, yang menghasilkan isotop vanadium.[52] Titanium menjadi radioaktif ketika dibombardir dengan deuteron, dengan memancarkan terutama positron dan sinar gama berenergi tinggi.[53]

Senyawa

Bilangan oksidasi +4 mendominasi kimia titanium,[54] tetapi senyawa dengan bilangan oksidasi +3 juga cukup banyak.[55] Pada umumnya, titanium memiliki geometri koordinasi oktahedral dalam kompleksnya,[56][57] tetapi TiCl4 yang berbentuk tetrahedral merupakan pengecualian yang penting. Karena bilangan oksidasinya yang tinggi, senyawa titanium(IV) menunjukkan tingkat ikatan kovalen yang tinggi.[58]

Oksida, sulfida, dan alkoksida

Oksida yang paling penting adalah TiO2, yang terdapat dalam tiga polimorf penting: anatase, brookit, dan rutil. Ketiganya merupakan padatan diamagnetik berwarna putih, meskipun sampel mineralnya dapat tampak gelap, seperti pada rutil. Ketiga bentuk tersebut memiliki struktur polimerik, dengan atom Ti dikelilingi oleh enam ligan oksida yang menghubungkannya dengan pusat Ti lainnya.[59]

Istilah titanat biasanya merujuk pada senyawa titanium(IV), seperti yang terdapat pada barium titanat (BaTiO3). Dengan struktur perovskit, material ini memiliki sifat piezoelektrik dan digunakan sebagai transduser untuk mengubah suara menjadi listrik, dan sebaliknya.[60] Banyak mineral merupakan titanat, seperti ilmenit (FeTiO3). Safir bintang dan rubi memperoleh sifat asterisme (kilauan yang membentuk pola seperti bintang) dari adanya pengotor titanium dioksida.[61]

Berbagai oksida tereduksi (suboksida) titanium telah diketahui, terutama dengan stoikiometri titanium dioksida yang direduksi dan diperoleh melalui penyemprotan plasma atmosfer. Ti3O5, yang digambarkan sebagai spesi Ti(IV)-Ti(III), merupakan semikonduktor berwarna ungu yang dihasilkan melalui reduksi TiO2 dengan hidrogen pada suhu tinggi.[62] Senyawa ini digunakan secara industri ketika permukaan perlu dilapisi titanium dioksida melalui proses pelapisan uap: Ti3O5 menguap sebagai TiO murni, sedangkan TiO2 menguap sebagai campuran oksida dan menghasilkan lapisan dengan indeks bias yang bervariasi.[63] Senyawa lain yang juga diketahui adalah Ti2O3, dengan struktur korundum, dan TiO, dengan struktur garam batu, meskipun keduanya sering kali tidak memiliki stoikiometri yang tepat.

Alkoksida titanium(IV), yang dibuat dengan mereaksikan TiCl4 dengan alkohol, merupakan senyawa nirwarna yang berubah menjadi dioksida ketika bereaksi dengan air. Senyawa ini berguna secara industri untuk mengendapkan TiO2 padat melalui proses sol–gel. Titanium isopropoksida digunakan dalam sintesis senyawa organik kiral melalui epoksidasi Sharpless.[64]

Titanium membentuk berbagai macam sulfida, tetapi hanya TiS2 yang mendapat perhatian signifikan. Senyawa ini memiliki struktur berlapis dan pernah digunakan sebagai katode dalam pengembangan baterai litium. Karena Ti(IV) merupakan "kation keras", sulfida titanium tidak stabil dan cenderung mengalami hidrolisis menjadi oksida dengan melepaskan hidrogen sulfida.[65]

Nitrida dan karbida

Titanium nitrida (TiN) merupakan padatan tahan api yang memiliki kekerasan ekstrem, konduktivitas termal dan listrik yang tinggi, serta titik lebur yang tinggi.[66] TiN memiliki kekerasan yang setara dengan safir dan karborundum (9,0 pada skala Mohs)[67] dan sering digunakan untuk melapisi alat pemotong, seperti mata bor.[68] TiN juga digunakan sebagai lapisan dekoratif berwarna emas dan sebagai lapisan penghalang dalam fabrikasi semikonduktor.[69] Titanium karbida (TiC), yang juga sangat keras, digunakan pada alat pemotong dan sebagai bahan pelapis.[70]

Halida

Titanium tetraklorida (titanium(IV) klorida, TiCl4[71]) merupakan cairan volatil nirwarna (sampel komersialnya berwarna kekuningan) yang, ketika berada di udara, mengalami hidrolisis dengan menghasilkan kepulan awan putih yang mencolok. Melalui proses Kroll, TiCl4 digunakan untuk mengubah bijih titanium menjadi logam titanium. TiCl4 juga digunakan untuk membuat TiO2, misalnya untuk digunakan dalam cat putih.[72] Senyawa ini banyak digunakan dalam kimia organik sebagai asam Lewis, misalnya dalam kondensasi aldol Mukaiyama.[73] Dalam proses van Arkel–de Boer, titanium tetraiodida (TiI4) dihasilkan dalam proses produksi logam titanium dengan kemurnian tinggi.[74]

Titanium(III) dan titanium(II) juga membentuk klorida yang stabil. Salah satu contohnya adalah titanium(III) klorida (TiCl3), yang digunakan sebagai katalis untuk produksi poliolefin (lihat katalis Ziegler–Natta) dan sebagai agen pereduksi dalam kimia organik.[75]

Kompleks organologam

Karena senyawa titanium memiliki peran penting sebagai katalis polimerisasi, senyawa yang memiliki ikatan Ti–C telah dipelajari secara intensif. Kompleks organotitanium yang paling umum adalah titanosena diklorida ((C5H5)2TiCl2). Senyawa terkait lainnya meliputi reagen Tebbe dan reagen Petasis. Titanium juga membentuk kompleks karbonil, misalnya (C5H5)2Ti(CO)2.[76]

Sejarah

Titanium ditemukan pada tahun 1791 oleh rohaniwan dan geolog William Gregor sebagai unsur yang terdapat dalam suatu mineral di Cornwall, Britania Raya.[77] Gregor mengenali keberadaan unsur baru dalam ilmenit[78] ketika dia menemukan pasir hitam di dekat sebuah aliran sungai dan menyadari bahwa pasir tersebut tertarik oleh magnet.[79] Setelah menganalisis pasir tersebut, dia menentukan adanya dua oksida logam: besi oksida (yang menjelaskan sifat tertariknya terhadap magnet) dan 45,25% oksida logam berwarna putih yang tidak dapat dia identifikasi.[80] Setelah menyadari bahwa oksida yang tidak dikenal tersebut mengandung logam yang tidak sesuai dengan unsur mana pun yang telah diketahui, pada tahun 1791 Gregor melaporkan temuannya dalam jurnal-jurnal ilmiah berbahasa Jerman dan Prancis: Crell's Annalen dan Observations et Mémoires sur la Physique.[81][82][83] Dia menamai oksida tersebut manakanit.[84]

Pada waktu yang kurang lebih sama, Franz-Joseph Müller von Reichenstein menghasilkan zat serupa, tetapi tidak dapat mengidentifikasinya.[85] Oksida tersebut ditemukan kembali secara independen pada tahun 1795 oleh kimiawan Prusia Martin H. Klaproth dalam rutil dari Boinik (nama Jerman untuk Bajmócska), sebuah desa di Hungaria (sekarang Bojničky di Slowakia).[86] Klaproth menemukan bahwa zat tersebut mengandung unsur baru dan menamainya berdasarkan para Titan dalam mitologi Yunani.[87] Setelah mengetahui penemuan Gregor sebelumnya, dia memperoleh sampel manakanit dan memastikan bahwa sampel tersebut mengandung titanium.[88]

Proses yang saat ini diketahui untuk mengekstraksi titanium dari berbagai bijihnya cukup rumit dan mahal. Bijih titanium tidak dapat direduksi dengan memanaskannya bersama karbon (seperti dalam peleburan besi), karena titanium akan bereaksi dengan karbon membentuk titanium karbida.[89] Titanium dengan kemurnian 95% berhasil diekstraksi oleh Lars F. Nilson dan Sven O. Petterson. Untuk mencapai hal tersebut, mereka mengklorinasi titanium oksida dalam atmosfer karbon monoksida menggunakan gas klorin, kemudian mereduksinya menjadi logam titanium menggunakan natrium.[90] Logam titanium murni (99,9%) pertama kali dibuat pada tahun 1910 oleh Matthew A. Hunter di Institut Politeknik Rensselaer, dengan memanaskan titanium tetraklorida (TiCl4) bersama natrium pada suhu di bawah tekanan tinggi[91] dalam proses tumpak yang dikenal sebagai proses Hunter.[92] Logam titanium tidak digunakan di luar laboratorium hingga tahun 1932, ketika William J. Kroll memproduksinya dengan mereduksi TiCl4 menggunakan kalsium.[93] Delapan tahun kemudian, dia menyempurnakan proses tersebut dengan menggunakan magnesium dan natrium dalam proses yang kemudian dikenal sebagai proses Kroll.[94] Meskipun penelitian terus dilakukan untuk menemukan metode yang lebih murah dan efisien, seperti proses FFC Cambridge, proses Kroll masih menjadi metode yang paling banyak digunakan untuk produksi komersial.[95][96]

Titanium dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi berhasil dibuat dalam jumlah kecil ketika Anton E. van Arkel dan Jan H. de Boer menemukan proses iodida pada tahun 1925. Proses tersebut dilakukan dengan mereaksikan titanium dengan iodin, kemudian menguraikan uap yang terbentuk pada filamen panas untuk menghasilkan logam murni.[97]

Pada 1950-an dan 1960-an, Uni Soviet menjadi pelopor penggunaan titanium untuk keperluan militer dan kapal selam[98] (kelas Alfa, kelas Mike, dan kelas Sierra II)[99] sebagai bagian dari program yang berkaitan dengan Perang Dingin.[100] Mulai awal 1950-an, titanium digunakan secara luas dalam penerbangan militer, khususnya pada pesawat jet berperforma tinggi, dimulai dengan pesawat seperti F-100 Super Sabre serta Lockheed A-12 dan SR-71.[101]

Sepanjang periode Perang Dingin, titanium dianggap sebagai material strategis oleh pemerintah Amerika Serikat. Cadangan besar spons (bentuk logam murni yang berpori) titanium dipelihara oleh Defense National Stockpile Center hingga cadangan tersebut dibubarkan pada tahun 2000-an.[102] Meskipun demikian, pemerintah Amerika Serikat setiap tahun mengalokasikan 15.000metrik ton spons titanium sebagai potensi pengadaan untuk cadangan tersebut.[103]

Produksi

Produksi ilmenit dan rutil pada tahun 2024[104]
Negara ribu
ton
% total
Tiongkok 3.300 35,3
Mozambik 1.908 20,4
Afrika Selatan 1.400 15,0
Australia 600 6,4
Norwegia 360 3,8
Kanada 350 3,7
Senegal 300 3,2
Madagaskar 240 2,6
India 222 2,4
Ukraina 130 1,4
Amerika Serikat 100 1,1
Sierra Leone 60 0,6
Kenya 40 0,4
Negara lain 350 3,7
Dunia 9.360 100

Produksi titanium secara umum dibagi menjadi tiga kategori yang diukur: pembuatan logam titanium berpori yang disebut "spons" titanium, pigmen titanium oksida, dan konsentrat mineral titanium yang digunakan untuk produksi spons, pigmen, batangan logam, serta produk titanium lainnya seperti pelapis. Konsentrat ini sebagian besar terdiri atas mineral ilmenit, tetapi juga mencakup anatase, rutil alami dan sintetis, tailing, terak, dan leukoksen. Pada tahun 2024, produsen konsentrat mineral titanium terbesar adalah Tiongkok, Mozambik, dan Afrika Selatan.[105]

Sebagian besar titanium dunia diproduksi di Tiongkok. Laporan Mineral Commodity Summaries tahun 2025 dari Survei Geologi Amerika Serikat 2025 memperkirakan bahwa dari spons titanium yang diproduksi di seluruh dunia pada tahun 2024, sebanyak 220.000 metrik ton (69%) diproduksi di Tiongkok. Produsen terbesar kedua adalah Jepang, yang menghasilkan 55.000metrik ton pada tahun yang sama (17% dari total produksi). Jepang merupakan eksportir spons titanium terbesar pada tahun 2024, tetapi tidak memproduksi mineral titanium sendiri.[106] Laporan sebelumnya pada tahun 2021 mencatat bahwa empat produsen utama spons titanium adalah Tiongkok (52%), Jepang (24%), Rusia (16%), dan Kazakhstan (7%).[107] Rusia tetap menjadi produsen spons titanium terbesar ketiga[108] melalui perusahaan metalurginya, VSMPO-AVISMA, meskipun menghadapi sanksi internasional selama invasi Rusia ke Ukraina.[109] Statistik produksi pigmen titanium dioksida tidak begitu jelas, tetapi perkiraan menunjukkan bahwa kapasitas produksi pigmen global maksimum mencapai pada tahun 2024.[110]

Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengekstraksi dan memurnikan titanium dari bijihnya sejak logam tersebut pertama kali dimurnikan pada tahun 1910.[111][112]

Proses pengolahan mineral

Beberapa proses telah dikembangkan untuk mengekstraksi titanium dan mineral yang mengandung titanium yang dapat dimanfaatkan dari bijih. Proses Becher merupakan proses industri yang digunakan untuk menghasilkan rutil sintetis, suatu bentuk titanium dioksida, dari bijih ilmenit dengan menghilangkan besi.[113] Proses ini tidak digunakan dalam skala besar.[114] Proses klorida menghasilkan titanium tetraklorida melalui pengolahan bijih rutile dengan klorin dan karbon pada suhu tinggi,[115] kemudian mengoksidasi produk tersebut menggunakan plasma atau nyala api oksigen untuk menghasilkan titanium dioksida.[116] Proses sulfat menggunakan asam sulfat (H2SO4) untuk melindi titanium dari bijih ilmenit (FeTiO3) sehingga menghasilkan titanil sulfat (). Sulfat ini diuraikan menjadi dua hidrat, dan , melalui penambahan air. Air tersebut kemudian dihilangkan dengan pemanasan, menghasilkan titanium dioksida sebagai produk akhir.[117]

Proses pemurnian

Proses Hunter

Proses Hunter merupakan proses industri pertama yang digunakan untuk menghasilkan logam titanium murni. Proses ini ditemukan pada tahun 1910 oleh Matthew A. Hunter, seorang kimiawan kelahiran Selandia Baru yang bekerja di Amerika Serikat.[118] Proses ini melibatkan reduksi titanium tetraklorida (TiCl4) dengan natrium dalam reaktor tumpak dengan atmosfer lengai pada suhu 1,000 °C. Selanjutnya, asam klorida encer digunakan untuk melindi garam dari produk yang dihasilkan.[119]

TiCl4(g) + 4 Na(l) → 4 NaCl(l) + Ti(s)

Proses Kroll

Pengolahan logam titanium berlangsung melalui empat tahap utama: reduksi bijih titanium menjadi "spons", yaitu bentuk berpori; peleburan spons, atau spons yang dicampur dengan paduan induk, untuk membentuk batangan; fabrikasi primer, yaitu mengubah batangan menjadi produk gilingan umum seperti bilet, batang, pelat, lembaran, strip, dan tabung; serta fabrikasi sekunder untuk menghasilkan bentuk akhir dari produk gilingan.[120]

Karena titanium tidak dapat dengan mudah diproduksi melalui reduksi titanium dioksida,[121] titanium diperoleh melalui reduksi titanium tetraklorida (TiCl4) dengan logam magnesium dalam proses Kroll. Kompleksitas produksi tumpak dalam proses Kroll menjelaskan nilai pasar titanium yang relatif tinggi,[122] meskipun proses Kroll lebih murah daripada proses Hunter.[123] Untuk menghasilkan TiCl4 yang diperlukan dalam proses Kroll, titanium dioksida mengalami reduksi karbotermik dengan adanya klorin. Dalam proses ini, gas klorin dialirkan melewati campuran rutil atau ilmenit yang berpijar merah dengan adanya karbon. Setelah melalui pemurnian ekstensif menggunakan distilasi fraksional, TiCl4 direduksi dengan magnesium cair pada suhu dalam atmosfer argon.[124]

2FeTiOA3+7ClA2+6C900AoC2FeClA3+2TiClA4+6CO
TiClA4+2Mg1100AoCTi+2MgClA2

Proses van Arkel–de Boer

Proses van Arkel–de Boer merupakan proses semindustrI pertama yang dikembangkan untuk menghasilkan titanium murni. Proses ini ditemukan oleh Anton E. van Arkel dan Jan H. de Boer pada tahun 1925 untuk perusahaan elektronik Philips.[125] Proses ini merupakan sistem tertutup[126] yang melibatkan dekomposisi termal titanium tetraiodida.[127] Proses yang sama digunakan untuk memurnikan logam lain, seperti torium, hafnium, dan zirkonium,[128] sedangkan proses serupa yang menggunakan iodida yang lebih dimurnikan digunakan untuk memurnikan kromium. Keinginan untuk mengembangkan proses yang dapat dijalankan secara kontinu mendorong pengembangan proses komersial untuk memurnikan titanium.[129]

Proses Armstrong

Serbuk titanium diproduksi menggunakan proses produksi kontinu yang dikenal sebagai proses Armstrong,[130] yang serupa dengan proses produksi tumpak Hunter. Aliran gas titanium tetraklorida ditambahkan ke aliran natrium cair; produk yang dihasilkan (garam natrium klorida dan partikel titanium) kemudian disaring dari kelebihan natrium. Titanium selanjutnya dipisahkan dari garam melalui pencucian dengan air. Natrium dan klorin kemudian didaur ulang untuk menghasilkan dan memproses lebih banyak titanium tetraklorida.[131]

Proses lain

Titanium tetraklorida yang digunakan sebagai zat antara dalam proses Hunter dan Kroll merupakan cairan volatil dan korosif, sehingga berbahaya untuk ditangani. Proses yang melibatkan tetraklorida, baik pembentukannya maupun proses distilasi vakum yang digunakan untuk memurnikan produk akhir, berlangsung lambat dan telah mendorong pengembangan teknik-teknik lainnya.[132]

Metode produksi elektrolitik logam titanium dari menggunakan elektrolit garam cair telah diusulkan sejak tahun 1990-an[133] dan telah diteliti serta diuji pada skala laboratorium dan pabrik percontohan kecil.[134] Meskipun beberapa logam seperti nikel dan tembaga dapat dimurnikan melalui elektrowining pada suhu kamar, titanium harus berada dalam keadaan cair, yang kemungkinan dapat merusak lapisan tahan api pada bejana reaksi.[135] Zhang dan rekan-rekannya menyimpulkan pada tahun 2017 bahwa meskipun industri berminat menemukan cara baru untuk memproduksi logam titanium, belum ada metode yang berhasil dikembangkan untuk menggantikan proses Kroll secara komersial.[136] Salah satu produsen di Virginia telah mengembangkan metode untuk mendaur ulang skrap logam titanium menjadi serbuk, tetapi skalanya masih kecil; pada tahun 2025, perusahaan tersebut menargetkan produksi hanya 125 ton titanium per tahun.[137]

Salah satu metode yang dikembangkan untuk berpotensi menggantikan proses Kroll dikenal sebagai reduksi magnesiotermik berbantuan hidrogen. Metode ini menggunakan magnesium, asam klorida, dan atmosfer hidrogen untuk secara langsung mereduksi titanium dioksida menjadi titanium murni. Reduksi serbuk titanium dioksida oleh magnesium dalam atmosfer hidrogen dapat diikuti dengan tahap pelindian menggunakan asam klorida, yang menghilangkan magnesium dan sisa oksida non-titanium. Selanjutnya dilakukan tahap reduksi dan pelindian tambahan, yang pada akhirnya menghasilkan serbuk titanium murni atau titanium hidrida.[138]

Fabrikasi

Semua pengelasan titanium harus dilakukan dalam atmosfer lengai berupa argon atau helium untuk melindunginya dari kontaminasi gas atmosfer (oksigen, nitrogen, dan hidrogen).[139] Kontaminasi menyebabkan berbagai kondisi, seperti kerapuhan, yang mengurangi integritas sambungan las dan dapat menyebabkan kegagalan sambungan.[140]

Titanium sangat sulit disolder secara langsung, sehingga logam atau paduan yang dapat disolder, seperti baja, dilapiskan pada titanium sebelum proses penyolderan.[141] Logam titanium dapat dikerjakan dengan mesin menggunakan peralatan dan proses yang sama seperti yang digunakan untuk baja nirkarat.[142]

Paduan titanium

Paduan titanium yang umum dibuat melalui proses reduksi. Sebagai contoh, kuprotitanium (rutil yang ditambahkan tembaga), ferokarbon titanium (ilmenit yang direduksi dengan kokas dalam tanur listrik), dan manganotitanium (rutil yang ditambahkan mangan atau oksida mangan) dibuat melalui proses reduksi.[143]

Sekitar 50 jenis paduan titanium telah dirancang dan saat ini digunakan, meskipun hanya sekitar dua lusin yang tersedia secara komersial.[144] ASTM International mengakui 31 jenis logam dan paduan titanium, yang empat di antaranya, yaitu grade 1 hingga 4, merupakan titanium murni komersial (tanpa paduan). Keempat grade tersebut berbeda dalam kekuatan tariknya sebagai fungsi dari kandungan oksigen. Grade 1 merupakan yang paling ulet (kekuatan tarik terendah, dengan kandungan oksigen 0,18%), sedangkan grade 4 merupakan yang paling tidak ulet (kekuatan tarik tertinggi, dengan kandungan oksigen 0,40%).[145] Grade lainnya merupakan paduan yang masing-masing dirancang untuk memiliki sifat tertentu, seperti keuletan, kekuatan, kekerasan, resistivitas listrik, ketahanan terhadap rayapan (creep), ketahanan korosi tertentu, serta berbagai kombinasi sifat tersebut.[146]

Selain memenuhi spesifikasi ASTM, paduan titanium juga diproduksi untuk memenuhi spesifikasi kedirgantaraan dan militer (SAE-AMS, MIL-T), standar ISO, spesifikasi khusus masing-masing negara, serta spesifikasi khusus pengguna akhir untuk aplikasi kedirgantaraan, militer, medis, dan industri.[147]

Pembentukan dan penempaan

Produk datar titanium murni komersial (lembaran, pelat) dapat dibentuk dengan mudah, tetapi prosesnya harus mempertimbangkan kecenderungan logam untuk mengalami springback (kembali sebagian ke bentuk semula setelah gaya pembentukan dilepaskan). Hal ini terutama berlaku pada paduan berkekuatan tinggi tertentu.[148][149] Paparan oksigen di udara pada suhu tinggi yang digunakan dalam proses penempaan menyebabkan terbentuknya lapisan permukaan logam kaya oksigen yang rapuh. Lapisan ini memperburuk sifat kelelahan material sehingga harus dihilangkan melalui penggilingan, etsa, atau perlakuan elektrokimia.[150] Pengerjaan titanium dapat mencakup pengelasan gesek,[151] penempaan kriogenik,[152] dan peleburan ulang busur vakum.[153]

Aplikasi

Titanium digunakan dalam baja sebagai unsur paduan (ferotitanium) untuk memperkecil ukuran butir dan sebagai deoksidator, serta dalam baja nirkarat untuk mengurangi kandungan karbon.[154] Titanium sering dipadukan dengan aluminium (untuk memperhalus ukuran butir), vanadium, tembaga (untuk meningkatkan kekerasan), besi, mangan, molibdenum, dan logam lainnya.[155] Produk titanium hasil pengerolan, seperti lembaran, pelat, batang, kawat, produk tempa, dan produk cor, digunakan dalam berbagai aplikasi industri, kedirgantaraan, rekreasi, dan pasar yang sedang berkembang. Serbuk titanium digunakan dalam piroteknik sebagai sumber partikel yang menghasilkan nyala terang.[156]

Pigmen, aditif, dan pelapis

Titanium dioksida () merupakan senyawa titanium yang paling umum digunakan dan menjadi produk akhir dari sekitar 95% titanium yang dimurnikan di dunia. Senyawa ini merupakan pigmen putih yang digunakan secara luas.[157] juga digunakan dalam semen, batu permata, serta sebagai opasifier optik pada kertas.[158]

Pigmen bersifat lengai secara kimia, tahan terhadap pemudaran akibat sinar matahari, dan sangat opak. Senyawa ini memberikan warna putih yang murni dan cemerlang pada bahan kimia berwarna cokelat atau abu-abu yang membentuk sebagian besar plastik rumah tangga.[159] Di alam, senyawa ini ditemukan dalam mineral anatase, brookit, dan rutil.[160] Cat yang mengandung memiliki ketahanan yang baik terhadap suhu ekstrem dan lingkungan laut.[161] murni memiliki indeks bias yang sangat tinggi dan dispersi optik yang lebih tinggi daripada intan.[162] digunakan dalam tabir surya karena dapat memantulkan dan menyerap sinar UV.[163]

Kedirgantaraan dan kelautan

Karena paduan titanium memiliki rasio kekuatan tarik terhadap densitas yang tinggi,[164] ketahanan korosi yang tinggi,[165] ketahanan terhadap kelelahan, ketahanan terhadap retak,[166] serta kemampuan menahan suhu yang cukup tinggi tanpa mengalami rayapan, paduan ini digunakan dalam pesawat udara, lapisan pelindung, kapal angkatan laut, wantariksa, dan rudal.[167][168] Untuk aplikasi tersebut, titanium dipadukan dengan aluminium, zirkonium, nikel,[169] vanadium, dan unsur lainnya untuk membuat berbagai komponen, termasuk bagian struktur kritis, roda pendaratan, sekat tahan api, saluran pembuangan (pada helikopter), dan sistem hidraulik. Sekitar dua pertiga dari seluruh logam titanium yang diproduksi digunakan pada rangka dan mesin pesawat.[170] Paduan titanium 6AL-4V mencakup hampir 50% dari seluruh paduan yang digunakan dalam aplikasi pesawat.[171]

Lockheed A-12 dan SR-71 "Blackbird" merupakan dua pesawat pertama yang menggunakan titanium pada rangkanya. Penggunaan ini membuka jalan bagi pemanfaatan titanium yang jauh lebih luas pada pesawat militer dan komersial modern. Sejumlah besar produk titanium hasil pengerolan digunakan dalam produksi berbagai pesawat, misalnya (angka berikut merupakan jumlah bahan baku produk hasil pengerolan yang digunakan; hanya sebagian yang akhirnya menjadi bagian dari pesawat jadi): 116 ton digunakan pada Boeing 787, 77 ton pada Airbus A380, 59 ton pada Boeing 777, 45 ton pada Boeing 747, 32 ton pada Airbus A340, 18 ton pada Boeing 737, 18 ton pada Airbus A330, dan 12 ton pada Airbus A320.[172] Dalam aplikasi mesin pesawat, titanium digunakan untuk rotor, bilah kompresor, komponen sistem hidraulik, dan nasel.[173][174] Salah satu penggunaan awal titanium pada mesin jet adalah pada Orenda Iroquois pada tahun 1950-an.[175][176][177]

Karena titanium tahan terhadap korosi oleh air laut, titanium digunakan untuk membuat poros baling-baling, tali-temali, penukar panas pada instalasi desalinasi,[178] pemanas-pendingin untuk akuarium air asin, senar dan leader pancing, serta pisau penyelam. Titanium juga digunakan pada rumah dan komponen perangkat pengawasan dan pemantauan yang ditempatkan di laut untuk keperluan ilmiah dan militer. Uni Soviet mengembangkan teknik untuk membuat kapal selam dengan lambung dari paduan titanium,[179] dengan menempa titanium dalam tabung vakum berukuran sangat besar.[180]

Industri

Pipa titanium yang dilas dan peralatan proses (seperti penukar panas, tangki, bejana proses, dan katup) digunakan dalam industri kimia dan petrokimia terutama karena ketahanannya terhadap korosi. Paduan tertentu digunakan dalam aplikasi sumur bawah tanah minyak dan gas serta hidrometalurgi nikel karena kekuatannya yang tinggi (misalnya paduan titanium beta C), ketahanan korosi, atau keduanya. Industri pulp dan kertas menggunakan titanium dalam peralatan proses yang terpapar media korosif, seperti natrium hipoklorit atau gas klorin basah di bagian pemutihan.[181] Titanium juga digunakan sebagai target sputtering.[182]

Serbuk titanium berfungsi sebagai penangkap non-evaporatif, yaitu salah satu dari beberapa bahan reaktif terhadap gas yang digunakan untuk menghilangkan gas dari sistem ultravakum.[183] Aplikasi ini diwujudkan dalam pompa sublimasi titanium[184] yang pertama kali digunakan pada tahun 1961,[185] meskipun logam titanium telah lebih dahulu digunakan dalam sistem vakum untuk mencegah ruang mengalami oksidasi, dalam rancangan yang dibuat oleh Raymond G. Herb pada tahun 1953.[186]

Titanium tetraklorida (TiCl4), suatu cairan tidak berwarna, merupakan zat antara penting dalam proses pembuatan TiO2 dan juga digunakan untuk menghasilkan katalis Ziegler–Natta. Titanium tetraklorida juga digunakan untuk menghasilkan efek iridesensi pada kaca dan, karena menghasilkan asap tebal ketika terkena udara lembap, digunakan untuk membuat tabir asap.[187] Dalam berbagai aplikasi industri, titanium dan paduannya dapat menjadi alternatif potensial untuk logam lain, seperti nikel, niobium, skandium, perak, tantalum, dan wolfram.[188]

Konsumen dan arsitektur

Logam titanium digunakan dalam aplikasi otomotif, khususnya pada balap mobil dan sepeda motor, karena bobot yang ringan serta kekuatan dan kekakuan yang tinggi sangatlah penting.[189] Logam ini umumnya terlalu mahal untuk pasar konsumen umum, meskipun beberapa model Corvette keluaran terbaru telah diproduksi dengan sistem pembuangan berbahan titanium.[190]

Titanium digunakan dalam berbagai peralatan olahraga, seperti raket tenis, tongkat golf, batang tongkat sauk bola; kisi-kisi helm kriket, hoki, sauk bola, dan sepak bola Amerika; serta beberapa rangka dan komponen sepeda.[191] Titanium digunakan pada bingkai kacamata karena tahan lama dan dapat melindungi lensa, meskipun mungkin kurang fleksibel dibandingkan bahan alternatif.[192] Biokompatibilitas titanium merupakan salah satu keunggulannya dibandingkan bahan bingkai kacamata lainnya.[193] Titanium merupakan bahan yang umum digunakan untuk peralatan masak dan alat makan untuk kegiatan berkemah. Tapal kuda titanium jauh lebih disukai daripada baja oleh para pembuat tapal kuda karena lebih ringan dan tahan lama.[194] Beberapa perkakas ringan dan tahan korosi kelas premium, seperti sekop, gagang pisau, dan senter, dibuat dari titanium atau paduan titanium.[195]

Titanium terkadang digunakan dalam arsitektur. Monumen Yuri Gagarin setinggi , manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa, serta bagian atas Monumen Penakluk Luar Angkasa setinggi yang berada di atas Museum Kosmonautika di Moskow, dibuat dari titanium.[196][197] Museum Guggenheim dan Perpustakaan Cerritos Millennium masing-masing merupakan bangunan pertama di Eropa dan Amerika Utara yang dilapisi panel titanium.[198] Pelapisan titanium juga digunakan pada Frederic C. Hamilton Building di Denver, Colorado.[199]

Karena titanium memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan bobot yang lebih ringan dibandingkan logam lain (baja, baja nirkarat, dan aluminium), serta berkat kemajuan dalam teknik pengerjaan logam, penggunaannya telah meluas dalam pembuatan senjata api. Penggunaan utamanya mencakup rangka pistol dan silinder revolver. Untuk alasan yang sama, titanium digunakan pada bodi beberapa komputer laptop (misalnya Apple PowerBook G4)[200][201] dan ponsel (seperti iPhone 15 Pro).[202]

Perhiasan

Karena daya tahannya, titanium digunakan dalam beberapa perhiasan desainer, seperti cincin titanium.[203] Sifatnya yang lengai membuat titanium bersifat hipoalergenik dan dapat digunakan di lingkungan seperti kolam renang. Titanium juga dicampurkan dengan emas untuk menghasilkan paduan yang dapat dipasarkan sebagai emas 24 karat, karena kandungan titanium sebesar 1% tidak cukup untuk mengharuskan pemberian kadar yang lebih rendah. Paduan yang dihasilkan memiliki kekerasan kira-kira setara dengan emas 14 karat dan lebih tahan lama dibandingkan emas murni 24 karat.[204]

Daya tahan titanium, bobotnya yang ringan, serta ketahanannya terhadap penyok dan korosi membuatnya bermanfaat sebagai bahan casing jam tangan.[205] Beberapa seniman juga menggunakan titanium untuk membuat patung, benda dekoratif, dan furnitur.[206] Titanium dapat mengalami anodisasi untuk mengubah ketebalan lapisan oksida pada permukaannya. Perubahan ini menyebabkan interferensi optik yang menghasilkan berbagai warna cerah.[207] Karena memiliki warna yang dapat divariasikan dan sifatnya yang lengai secara kimia, titanium menjadi logam yang populer untuk tindik tubuh.[208]

Titanium juga memiliki penggunaan terbatas pada koin dan medali khusus yang tidak digunakan sebagai alat pembayaran yang beredar. Pada tahun 1999, koin titanium pertama di dunia dicetak untuk memperingati perayaan milenium Gibraltar.[209] Pobjoy Mint, percetakan uang Inggris yang memproduksi koin tersebut, terus membuat koin titanium anodisasi[210] hingga ditutup pada tahun 2023.[211] Gold Coast Titans, sebuah tim liga rugbi Australia, memberikan medali yang terbuat dari titanium murni kepada pemain terbaik mereka setiap tahun.[212]

Medis

Karena titanium bersifat biokompatibel (tidak beracun dan tidak ditolak oleh tubuh), titanium memiliki banyak kegunaan dalam bidang medis, termasuk sebagai alat bedah dan implan, seperti kepala dan mangkuk sendi panggul untuk penggantian sendi, serta implan gigi.[213] Implan titanium dan paduan titanium telah digunakan dalam pembedahan sejak tahun 1950-an dan banyak dipilih karena tingkat korosinya rendah, masa pakainya panjang, serta modulus Young yang rendah. Paduan titanium yang mengandung 6% aluminium dan 4% vanadium, yang umum digunakan dalam industri dirgantara, juga merupakan bahan yang umum digunakan untuk sendi buatan.[214]

Titanium memiliki kemampuan alami untuk mengalami oseointegrasi, yaitu proses ketika implan menyatu secara langsung dengan jaringan tulang. Hal ini memungkinkan penggunaan titanium pada implan gigi yang dapat bertahan selama lebih dari 30 tahun. Sifat ini juga bermanfaat untuk implan ortopedi.[215] Implan tersebut memanfaatkan modulus elastisitas titanium yang lebih rendah sehingga lebih mendekati modulus elastisitas tulang yang hendak diperbaiki. Akibatnya, beban pada kerangka dapat dibagi secara lebih merata antara tulang dan implan. Pembagian beban yang lebih merata dapat mengurangi degradasi tulang akibat stress shielding serta mengurangi risiko patah tulang periprostetik, yang dapat terjadi di sekitar batas implan ortopedi. Namun, kekakuan paduan titanium masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan tulang. Oleh karena itu, tulang di sekitar implan menerima beban yang jauh lebih kecil dan dapat mengalami penurunan kualitas.[216][217] Implan biomedis yang dilapisi kombinasi perak dan titanium juga telah diteliti sebagai pilihan potensial untuk implan yang menahan beban dan membutuhkan permukaan antimikroba.[218]

Kemajuan modern dalam teknik manufaktur aditif telah meningkatkan potensi penggunaan titanium dalam implan ortopedi.[219] Desain struktur implan yang kompleks dapat dibuat dengan percetakan 3D menggunakan paduan titanium. Hal ini memungkinkan pembuatan implan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien serta meningkatkan oseointegrasi implan.[220] Karena titanium bersifat non-feromagnetik, pasien dengan implan titanium dapat menjalani pemeriksaan MRI dengan aman, yang sangat bermanfaat untuk implan jangka panjang. Persiapan titanium untuk ditanamkan ke dalam tubuh dilakukan dengan memaparkannya pada busur plasma bersuhu tinggi, yang menghilangkan atom-atom pada permukaan dan mengekspos titanium baru yang kemudian langsung teroksidasi.[221] Titanium juga digunakan untuk instrumen bedah dalam operasi yang dipandu pencitraan, serta untuk kursi roda, kruk, dan berbagai produk lainnya yang membutuhkan kekuatan tinggi dan bobot rendah.[222]

Nanopartikel titanium dioksida banyak digunakan dalam bidang elektronik serta penghantaran obat-obatan dan kosmetik.[223]

Studi terapi antikanker

Setelah keberhasilan kemoterapi berbasis platina, kompleks titanium(IV) termasuk ke dalam senyawa non-platina pertama yang diuji dan diterima untuk uji klinis dalam pengobatan kanker.[224] Keunggulan senyawa titanium terletak pada efektivitasnya yang tinggi dan toksisitasnya yang rendah di dalam tubuh. Dalam lingkungan biologis, proses hidrolisis menghasilkan titanium dioksida yang aman dan lengai. Meskipun memiliki keunggulan tersebut, senyawa kandidat pertama gagal dalam uji klinis karena rasio efektivitas terhadap toksisitas yang tidak memadai serta masalah dalam formulasi. Pengembangan lebih lanjut menghasilkan obat berbasis titanium yang berpotensi efektif, selektif, dan stabil.[225]

Penyimpanan limbah nuklir

Karena memiliki ketahanan terhadap korosi, wadah yang terbuat dari titanium telah diteliti untuk penyimpanan limbah nuklir jangka panjang. Dengan kondisi manufaktur yang dapat meminimalkan cacat pada material, diperkirakan wadah titanium dapat bertahan selama lebih dari 100.000 tahun.[226] Sebuah “drip shield” (pelindung tetesan) dari titanium juga pernah dipertimbangkan untuk dipasang di atas wadah yang terbuat dari material lain guna meningkatkan masa pakainya.[227]

Bahaya dan keselamatan

Titanium tidak beracun, bahkan dalam dosis yang besar, dan tidak memiliki peran alami tertentu di dalam tubuh manusia.[228] Diperkirakan manusia mengonsumsi sekitar 0,8miligram titanium setiap hari, tetapi sebagian besar titanium melewati sistem pencernaan tanpa diserap oleh jaringan tubuh.[229] Namun, titanium terkadang dapat mengalami bioakumulasi pada jaringan yang mengandung silika. Sindrom kuku kuning pernah dilaporkan pada individu yang terpapar titanium. Akan tetapi, karena kelainan ini jarang terjadi, hubungan langsung antara paparan titanium dan perkembangan penyakit tersebut sulit ditentukan.[230][231]

Dalam bentuk serbuk atau serpihan logam, titanium memiliki risiko kebakaran yang tinggi dan, ketika dipanaskan di udara, dapat menimbulkan risiko ledakan.[232] Air dan karbon dioksida tidak efektif untuk memadamkan kebakaran titanium. Sebagai gantinya, harus digunakan bahan pemadam bubuk kering Kelas D yang dirancang untuk kebakaran logam.[233] Dalam proses produksi atau penanganan klorin, titanium yang terkena gas klorin kering dapat menyebabkan kebakaran titanium–klorin.[234] Titanium juga dapat terbakar ketika permukaan titanium yang baru dan belum teroksidasi bersentuhan dengan oksigen cair.[235]

Fungsi dalam tumbuhan

Suatu mekanisme yang belum diketahui pada tumbuhan mungkin menggunakan titanium untuk merangsang produksi karbohidrat dan mendorong pertumbuhan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sebagian besar tumbuhan mengandung sekitar 1 bagian per juta (ppm) titanium, sementara tumbuhan pangan mengandung sekitar 2 ppm, dan tumbuhan ekor kuda serta jelatang dapat mengandung hingga 80 ppm titanium.[236]

Lihat pula

Catatan

Bibliografi

Pranala luar

Referensi

  1. Titanium. 2006.
  2. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  3. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  4. Titanium. 2006.
  5. Titanium. 2006.
  6. Tokyo Medical. Exploring what gives titanium implants their remarkable biocompatibility. Phys.org. 24 Mei 2022.
  7. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  8. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  9. Titanium. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.
  10. Barbalace, Kenneth L. Periodic Table of Elements: Ti – Titanium. 2006.
  11. Titanium. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.
  12. Titanium. 2006.
  13. Albert Stwertka. Guide to the Elements. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.
  14. Is Titanium A Refractory Metal. Special Metal Fabrication. 3 Agustus 2021.
  15. Titanium. 2006.
  16. M. C. Steele. Superconductivity of Titanium. Phys. Rev. 1953. Vol. 92 (2). hlm. 243–247. doi:10.1103/PhysRev.92.243.
  17. M. Thiemann. Complete electrodynamics of a BCS superconductor with μeV energy scales: Microwave spectroscopy on titanium at mK temperatures. Phys. Rev. B. 2018. Vol. 97 (21). doi:10.1103/PhysRevB.97.214516.
  18. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  19. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  20. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  21. Albert Stwertka. Guide to the Elements. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.
  22. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  23. F. F. Schmidt. HEAT TREATMENT OF TITANIUM AND TITANIUM ALLOYS BY. NASA. 1965.
  24. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  25. Titanium. 2006.
  26. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  27. Hermann Sicius. Handbook of the Chemical Elements. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.
  28. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  29. Casillas, N. Pitting corrosion of titanium. J. Electrochem. Soc. 1994. Vol. 141 (3). hlm. 636–642. doi:10.1149/1.2054783.
  30. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  31. Hermann Sicius. Handbook of the Chemical Elements. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.
  32. Titanium. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.
  33. Hermann Sicius. Handbook of the Chemical Elements. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.
  34. A.L. Forrest. Industrial Applications of Titanium and Zirconium. 1981. hlm. 112.
  35. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  36. Titanium. 2006.
  37. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  38. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  39. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  40. Titanium. USGS Minerals Information. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
  41. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  42. Titanium. USGS Minerals Information. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
  43. K. M. Buettner. Bioinorganic Chemistry of Titanium. Chemical Reviews. 2012. Vol. 112 (3). hlm. 1863–81. doi:10.1021/cr1002886.
  44. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  45. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  46. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  47. Jing Chen. Native titanium inclusions in the coesite eclogites from Dabieshan, China. Earth and Planetary Science Letters. 30 April 2000. Vol. 177 (3–4). hlm. 237–240. doi:10.1016/S0012-821X(00)00057-1.
  48. A. V. Mokhov. Nanocrystals of native iron and titanium in impact glasses of the lunar regolith. Doklady Earth Sciences. 2015. Vol. 460 (2). hlm. 118–122. doi:10.1134/S1028334X15020038.
  49. Barbalace, Kenneth L. Periodic Table of Elements: Ti – Titanium. 2006.
  50. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  51. O. B. Tarasov. Discovery of new isotopes in the fragmentation of 82 Se and insights into their production. Physical Review C. 4 September 2025. Vol. 112 (3). hlm. 034604. doi:10.1103/573p-7fjp.
  52. Barbalace, Kenneth L. Periodic Table of Elements: Ti – Titanium. 2006.
  53. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  54. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  55. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  56. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  57. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  58. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  59. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  60. Titanium. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.
  61. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  62. Gang Liu. Preparation and Optical Storage Properties of λTi 3 O 5 Powder. Journal of Inorganic Materials. 26 Juni 2013. Vol. 28 (4). hlm. 425–430. doi:10.3724/SP.J.1077.2013.12309.
  63. Antonio Bonardi. A new solution for mirror coating in -ray Cherenkov Astronomy. Experimental Astronomy. 2014. Vol. 38 (1–2). hlm. 1–9. doi:10.1007/s10686-014-9398-x.
  64. Ramón, Diego J. In the arena of enantioselective synthesis, titanium complexes wear the laurel wreath. Chem. Rev. 2006. Vol. 106 (6). hlm. 2126–2308. doi:10.1021/cr040698p.
  65. M.J. McKelvy. Inorganic Syntheses. 1995. Vol. 30. hlm. 28–32. doi:10.1002/9780470132616.ch7. ISBN 978-0-470-13261-6.
  66. Naresh Saha. Titanium nitride oxidation chemistry: An x-ray photoelectron spectroscopy study. Journal of Applied Physics. 1992. Vol. 72 (7). hlm. 3072–3079. doi:10.1063/1.351465.
  67. Schubert, E.F. The hardness scale introduced by Friederich Mohs. Rensselaer Polytechnic Institute.
  68. Joseph Truini. Drill bits. Mei 1988. Vol. 165 (5). hlm. 91.
  69. B. Jayant Baliga. Silicon carbide power devices. World Scientific. 2005. hlm. 91. ISBN 978-981-256-605-8.
  70. Titanium carbide product information. H.C. Starck.
  71. Seong, S. Titanium: Industrial base, price trends, and technology initiatives. Rand Corporation. 2009. hlm. 10. ISBN 978-0-8330-4575-1.
  72. Richard W. Johnson. The Handbook of Fluid Dynamics. Springer. 1998. hlm. 38–21. ISBN 978-3-540-64612-9.
  73. Robert M. Coates. Handbook of Reagents for Organic Synthesis. John Wiley and Sons. 2000. hlm. 93. ISBN 978-0-470-85625-3.
  74. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  75. Lise-Lotte Gundersen. Titanium(III) Chloride. 2007. doi:10.1002/047084289X.rt120.pub2. ISBN 978-0-471-93623-7.
  76. Hartwig, J.F. Organotransition Metal Chemistry, from Bonding to Catalysis. University Science Books. 2010. ISBN 978-1-891389-53-5.
  77. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  78. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  79. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  80. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  81. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  82. Gregor, William. Beobachtungen und Versuche über den Menakanit, einen in Cornwall gefundenen magnetischen Sand. Chemische Annalen. 1791. Vol. 1. hlm. pp. 40–54, 103–119.
  83. Gregor, William. Sur le menakanite, espèce de sable attirable par l'aimant, trouvé dans la province de Cornouilles. Observations et Mémoires sur la Physique. 1791. Vol. 39. hlm. 72–78, 152–160.
  84. Fathi Habashi. Historical Introduction to Refractory Metals. Mineral Processing and Extractive Metallurgy Review. Januari 2001. Vol. 22 (1). hlm. 25–53. doi:10.1080/08827509808962488.
  85. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  86. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  87. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  88. Twenty-five years of Titanium news: A concise and timely report on titanium and titanium recycling. Suisman Titanium Corporation. 1995. hlm. 37.
  89. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  90. Osamu Takeda. Treatise on Process Metallurgy. Elsevier. 1 Januari 2024. hlm. 697–750. doi:10.1016/B978-0-323-85373-6.00010-7. ISBN 978-0-323-85373-6.
  91. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  92. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  93. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  94. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  95. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  96. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  97. van Arkel, A.E. Preparation of pure titanium, zirconium, hafnium, and thorium metal. Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 1925. Vol. 148. hlm. 345–50. doi:10.1002/zaac.19251480133.
  98. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  99. Eugene Yanko. Submarines: General information. Omsk VTTV Arms Exhibition and Military Parade JSC. 2006.
  100. VSMPO stronger than ever. Stainless Steel World. KCI Publishing B.V. Juli–Agustus 2001. hlm. 16–19.
  101. Architecture and Anthropology. Taylor & Francis. 2020. hlm. 42. ISBN 978-1-351-10627-6.
  102. Defense National Stockpile Center. Strategic and Critical Materials Report to the Congress. Operations under the Strategic and Critical Materials Stock Piling Act during the Period October 2007 through September 2008. Departemen Pertahanan Amerika Serikat. 2008. hlm. 3304.
  103. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  104. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  105. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  106. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  107. Titanium. USGS Minerals Information. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
  108. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  109. Adam Taylor. Two years after start of Ukraine war, Russian titanium keeps flowing to West. The Washington Post. 21 Maret 2024.
  110. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  111. Hermann Sicius. Handbook of the Chemical Elements. Springer Berlin Heidelberg. 2024. hlm. 487–535. doi:10.1007/978-3-662-68921-9_9. ISBN 978-3-662-68920-2.
  112. Heinz Sibum. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2000. doi:10.1002/14356007.a27_095. ISBN 978-3-527-30385-4.
  113. Rutile and ilmenite - Australian production and potential profile.
  114. Heinz Sibum. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2000. doi:10.1002/14356007.a27_095. ISBN 978-3-527-30385-4.
  115. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  116. Gerhard Auer. Pigments, Inorganic, 2. White Pigments. Wiley-VCH. 2017. hlm. 13. doi:10.1002/14356007.n20_n01.pub2. ISBN 978-3-527-30673-2.
  117. Application Note Titanium Dioxide - Sulfate Process. Ametek. 2015.
  118. M. A. Hunter. Metallic Titanium. J. Am. Chem. Soc. 1910. Vol. 32 (3). hlm. 330–336. doi:10.1021/ja01921a006.
  119. Carl Schaschke. sumber. Oxford University Press. 2014. doi:10.1093/acref/9780199651450.001.0001. ISBN 978-0-19-965145-0.
  120. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  121. Albert Stwertka. Guide to the Elements. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.
  122. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  123. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  124. Titanium. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.
  125. Michael Binnewies. The Iodide Process – a Key to many Divisions of Modern Technology. Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 2012. Vol. 638 (6). hlm. 891–893. doi:10.1002/zaac.201210009.
  126. U. S. Atomic Energy Commission. The Metallurgy of Hafnium. Naval Reactors, Division of Reactor Development, U.S. Atomic Energy Commission. 1960. hlm. 109.
  127. Terkel Rosenqvist. Principles of Extractive Metallurgy. Tapir Academic Press. 2004. hlm. 393–395. ISBN 978-82-519-1922-7.
  128. Michael Binnewies. The Iodide Process – a Key to many Divisions of Modern Technology. Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 2012. Vol. 638 (6). hlm. 891–893. doi:10.1002/zaac.201210009.
  129. U. S. Atomic Energy Commission. The Metallurgy of Hafnium. Naval Reactors, Division of Reactor Development, U.S. Atomic Energy Commission. 1960. hlm. 109.
  130. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  131. Titanium. The Essential Chemical Industry online. Universitas York. 15 Januari 2015.
  132. Harvey M. Flower. Materials Science: A moving oxygen story. Nature. 2000. Vol. 407 (6802). hlm. 305–306. doi:10.1038/35030266.
  133. Harvey M. Flower. Materials Science: A moving oxygen story. Nature. 2000. Vol. 407 (6802). hlm. 305–306. doi:10.1038/35030266.
  134. Derek Fray. Aspects of the Application of Electrochemistry to the Extraction of Titanium and Its Applications. Materials Transactions. 2017. Vol. 58 (3). hlm. 306–312. doi:10.2320/matertrans.MK201619.
  135. Mohammad Shamsuddin. Role of electrochemical processes in the extraction of metals and alloys – a review. Mineral Processing and Extractive Metallurgy: Transactions of the Institutions of Mining and Metallurgy. 2023. Vol. 132 (3–4). hlm. 193–209. doi:10.1080/25726641.2023.2255368.
  136. Ying Zhang. A Perspective on Thermochemical and Electrochemical Processes for Titanium Metal Production. JOM. 2017. Vol. 69 (10). hlm. 1861–1868. doi:10.1007/s11837-017-2481-9.
  137. Survei Geologi Amerika Serikat. Titanium and titanium dioxide. Maret 2025.
  138. Hyrum Lefler. Mechanisms of Hydrogen-Assisted Magnesiothermic Reduction of TiO2. Metallurgical and Materials Transactions B. 2018. Vol. 49 (6). hlm. 2998–3006. doi:10.1007/s11663-018-1399-0.
  139. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  140. Engel, Abraham L. Arc-welding Titanium. U.S. Department of the Interior, Bureau of Mines. 1955.
  141. Lewis, W.J. Report on Brazing and Soldering of Titanium. Titanium Metallurgical Laboratory, Battelle Memorial Institute. 1956.
  142. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  143. Titanium. 2005.
  144. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  145. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  146. Annual Book of ASTM Standards. ASTM International. 2006. ISBN 978-0-8031-4086-8. Annual Book of ASTM Standards. ASTM International. 1998. ISBN 978-0-8031-2452-3.
  147. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  148. AWS G2.4/G2.4M:2007 Guide for the Fusion Welding of Titanium and Titanium Alloys. American Welding Society. 2006.
  149. Titanium design and fabrication handbook for industrial applications. Titanium Metals Corporation. 1997.
  150. George Z. Chen. Cathodic deoxygenation of the alpha case on titanium and alloys in molten calcium chloride. Metall. Mater. Trans. B. 2001. Vol. 32 (6). hlm. 1041–1052. doi:10.1007/s11663-001-0093-8.
  151. Linear Friction Welding: A Solution for Titanium Forgings. Mtiwelding.com. 28 Agustus 2023.
  152. Ultra-Cold Forging Makes Titanium Strong and Ductile. 21 Oktober 2021.
  153. E. Karimi-Sibaki. A Parametric Study of the Vacuum Arc Remelting (VAR) Process: Effects of Arc Radius, Side-Arcing, and Gas Cooling. Metallurgical and Materials Transactions B. 2020. Vol. 51 (1). hlm. 222–235. doi:10.1007/s11663-019-01719-5.
  154. Titanium. 2006.
  155. Clifford A. Hampel. The Encyclopedia of the Chemical Elements. Van Nostrand Reinhold. 1968. hlm. 738. ISBN 978-0-442-15598-8.
  156. Mocella, Chris. Chemistry of Pyrotechnics. CRC Press. 2019. hlm. 86. ISBN 978-1-351-62656-9.
  157. Titanium. USGS Minerals Information. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
  158. Gary A. Smook. Handbook for Pulp & Paper Technologists. Angus Wilde Publications. 2002. hlm. 223. ISBN 978-0-9694628-5-9.
  159. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  160. Titanium. 2006.
  161. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  162. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  163. Albert Stwertka. Guide to the Elements. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.
  164. Titanium. Columbia University Press. 2000–2006. ISBN 978-0-7876-5015-5.
  165. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  166. Valentin N. Moiseyev. Titanium Alloys: Russian Aircraft and Aerospace Applications. Taylor and Francis, LLC. 2006. hlm. 196. ISBN 978-0-8493-3273-9.
  167. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  168. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  169. Kramer, Andrew E. Titanium Fills Vital Role for Boeing and Russia. The New York Times. 5 Juli 2013.
  170. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  171. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  172. Titanium Physical Metallurgy, Processing, and Applications. ASM International. 2015. hlm. 7. ISBN 978-1-62708-080-4.
  173. Titanium in Aerospace – Titanium. 10 April 2024.
  174. Titanium Metal (Ti) / Sponge / Titanium Powder. Lb7.uscourts.gov.
  175. Flight. IPC Transport Press Limited. 1958. Vol. 73. hlm. 864.
  176. Iroquois. Flight Global (archive). 1957. hlm. 412.
  177. Bill Gunston. Night Fighters: A Development and Combat History: A Development and Combat History. The History Press. 15 Januari 2004. ISBN 978-0-7524-9512-5.
  178. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  179. Unravelling a Cold War Mystery. CIA. 2007.
  180. Kramer, Andrew E. Titanium Fills Vital Role for Boeing and Russia. The New York Times. 5 Juli 2013.
  181. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  182. Handbook of Hard Coatings. William Andrew Inc. 2001. hlm. 411–419. ISBN 978-0-8155-1438-1.
  183. A. A. Krasnov. Lumped Ultra-High Vacuum Pumps Based on Non-Evaporable Getters. Bulletin of the Russian Academy of Sciences: Physics. 2023. Vol. 87 (5). hlm. 568–572. doi:10.3103/S1062873822701726.
  184. Ak Gupta. An evaluation of the titanium sublimation pump. Vacuum. 1975. Vol. 25 (8). hlm. 362–372. doi:10.1016/0042-207X(75)91654-1.
  185. Kimo M. Welch. Some Important Developments in Capture Pumping Technology in the Last Forty Years. Laboratorium Nasional Brookhaven. Desember 1993.
  186. John Buie. Evolution Of The Laboratory Vacuum Pump. Lab Manager.
  187. Albert Stwertka. Guide to the Elements. Oxford University Press. 1998. hlm. 81–82. ISBN 978-0-19-508083-4.
  188. Survei Geologi Amerika Serikat. Mineral Commodities Summaries 2025. Maret 2025.
  189. Funatani, K. Recent trends in surface modification of light metals § Metal matrix composite technologies. ASM International. 9–12 Oktober 2000. Vol. 1 & 2. hlm. 138–144, esp. 141. ISBN 978-0-87170-727-7.
  190. Titanium exhausts. National Corvette Museum. 2006.
  191. Joseph R. Davis. Metals Handbook. ASM International. 1998. hlm. 584. ISBN 978-0-87170-654-6.
  192. H. Kaneko. Experimental Analysis of Nano and Engineering Materials and Structures. 2007. hlm. 521–522. doi:10.1007/978-1-4020-6239-1_258. ISBN 978-1-4020-6238-4.
  193. Rekha Hansraj. Spectacle frames: Disposal practices, biodegradability and biocompatibility – A pilot study. African Vision and Eye Health. 14 Mei 2021. Vol. 80 (1). hlm. 7. doi:10.4102/aveh.v80i1.621.
  194. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  195. Qian, Ma. Real-World Use of Titanium. Elsevier Science. 2019. hlm. 7–8. ISBN 978-0-12-815820-3.
  196. Mike Gruntman. Blazing the Trail: The Early History of Spacecraft and Rocketry. American Institute of Aeronautics and Astronautics. 2004. hlm. 457. ISBN 978-1-56347-705-8.
  197. Lütjering, Gerd. Titanium. Springer. 12 Juni 2007. ISBN 978-3-540-71397-5.
  198. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  199. Denver Art Museum, Frederic C. Hamilton Building. Design Build Network. SPG Media. 2006.
  200. Apple PowerBook G4 400 (Original – Ti) Specs. everymac.com.
  201. Qian, Ma. Real-World Use of Titanium. Elsevier Science. 2019. hlm. 7–8. ISBN 978-0-12-815820-3.
  202. Apple Announces iPhone 15 Pro Models With Titanium Enclosure. CNET. 12 September 2023.
  203. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  204. Gafner, G. The development of 990 Gold-Titanium: its Production, use and Properties. Gold Bulletin. 1989. Vol. 22 (4). hlm. 112–122. doi:10.1007/BF03214709.
  205. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  206. Fine Art and Functional Works in Titanium and Other Earth Elements.
  207. Alwitt, Robert S. Electrochemistry Encyclopedia. Chemical Engineering Department, Case Western Reserve University, U.S. 2002.
  208. Body Piercing Safety. doctorgoodskin.com. 1 Agustus 2006.
  209. World Firsts. British Pobjoy Mint.
  210. Pobjoy issues colored titanium coins. Numismatic News. 6 Juni 2018.
  211. Jeff Starck. After 58 years of operation, UK's Pobjoy Mint closing. CoinWorld. 12 Oktober 2023.
  212. Luke Turgeon. Titanium Titan: Broughton immortalised. The Gold Coast Bulletin. 20 September 2007.
  213. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  214. Masoud Sarraf. A state-of-the-art review of the fabrication and characteristics of titanium and its alloys for biomedical applications. Bio-Design and Manufacturing. 2022. Vol. 5 (2). hlm. 371–395. doi:10.1007/s42242-021-00170-3.
  215. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  216. Titanium foams replace injured bones. Research News. 1 September 2010.
  217. Marc S. Lavine. Make no bones about titanium. Science. 11 Januari 2018. Vol. 359 (6372). hlm. 173.6–174. doi:10.1126/science.359.6372.173-f.
  218. Masoud Sarraf. A state-of-the-art review of the fabrication and characteristics of titanium and its alloys for biomedical applications. Bio-Design and Manufacturing. 2022. Vol. 5 (2). hlm. 371–395. doi:10.1007/s42242-021-00170-3.
  219. W.S.W. Harun. A review of powdered additive manufacturing techniques for Ti-6al-4v biomedical applications. Powder Technology. 2018. Vol. 331. hlm. 74–97. doi:10.1016/j.powtec.2018.03.010.
  220. Francesco Trevisan. Additive manufacturing of titanium alloys in the biomedical field: processes, properties and applications. Journal of Applied Biomaterials & Functional Materials. 2017. Vol. 16 (2). hlm. 57–67. doi:10.5301/jabfm.5000371.
  221. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  222. Qian, Ma. Real-World Use of Titanium. Elsevier Science. 2019. hlm. 51, 128. ISBN 978-0-12-815820-3.
  223. Annalisa Pinsino. Titanium dioxide nanoparticles stimulate sea urchin immune cell phagocytic activity involving TLR/p38 MAPK-mediated signalling pathway. Scientific Reports. 28 September 2015. Vol. 5. doi:10.1038/srep14492.
  224. Maya Miller. Titanium Tackles the Endoplasmic Reticulum: A First Genomic Study on a Titanium Anticancer Metallodrug. iScience. 24 Juli 2020. Vol. 23 (7). doi:10.1016/j.isci.2020.101262.
  225. Edit Y. Tshuva. Metallo-drugs: Development and action of anticancer agents. de Gruyter GmbH. 2018. Vol. 18. hlm. 219–250. doi:10.1515/9783110470734-014. ISBN 978-3-11-047073-4.
  226. D. W. Shoesmith. Hydrogen Absorption and the Lifetime Performance of Titanium Nuclear Waste Containers. Corrosion Reviews. 2000. Vol. 18 (4–5). hlm. 331–360. doi:10.1515/CORRREV.2000.18.4-5.331.
  227. Carter, L.J. Proof of Safety at Yucca Mountain. Science. 2005. Vol. 310 (5747). hlm. 447–448. doi:10.1126/science.1112786.
  228. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  229. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  230. Ting-Yuan Hsu. Titanium Dioxide in Toothpaste Causing Yellow Nail Syndrome. Pediatrics. 1 Januari 2017. Vol. 139 (1). doi:10.1542/peds.2016-0546.
  231. Ali Ataya. Titanium exposure and yellow nail syndrome. Respiratory Medicine Case Reports. 2015. Vol. 16. hlm. 146–147. doi:10.1016/j.rmcr.2015.10.002.
  232. Catherine Mary Cotell. ASM Handbook: Surface Engineering. ASM International. 1994. hlm. 836. ISBN 978-0-87170-384-2.
  233. Robert E. Krebs. The History and Use of Our Earth's Chemical Elements: A Reference Guide. Greenwood Press. 2006. ISBN 978-0-313-33438-2.
  234. Compressed Gas Association. Handbook of compressed gases. Springer. 1999. hlm. 323. ISBN 978-0-412-78230-5.
  235. Robert E. Solomon. Fire and Life Safety Inspection Manual. Jones & Bartlett Publishers. 2002. hlm. 45. ISBN 978-0-87765-472-8.
  236. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29589190 (2026-08-16T15:19:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.